Setangkai Mawar Berduri untuk Perempuan Indonesia*)

31 Juli, 2009 at 9:34 AM (Insight, Pijar Optimisme, Reflection, Resensi) (, , , , , , , )

Oleh: Agustinus Sukandar

“Remember the Dignity of your womanhood. Do not appeal. Do not beg. Do not grovel. Take courage. Join hands, stand beside me, fight with me!”
(Ingatlah akan martabat Anda sebagai perempuan. Jangan cengeng. Jangan mengemis-ngemis. Jangan rendah diri. Berbesarhatilah. Mari bergandeng tangan, berdiri di samping saya, berjuang bersama saya!)


PESAN Risa Amrikasari dalam buku terbarunya ‘Especially for You’ itu begitu kuat ditujukan kepada kaum perempuan. Misinya jelas: mengajak perempuan untuk bangkit dari ‘tidurnya’, dan bersikap tangguh dengan kesadaran yang cerdas tentang keluhuran martabatnya.

Risa bahkan memberi warning di sampul belakang buku setebal 372 halaman itu, “Anda termasuk orang yang senang membaca hal-hal yang membuai dan menghayutkan? Anda tidak akan menemukan itu di buku ini. Jika Anda berharap menemukan tulisan-tulisan yang romantis ataupun lemah lembut, Anda akan sedikit tertoreh dengan kalimat-kalimat saya.”

Dengan gaya bertutur yang tidak membosankan Risa menuliskan nukilan-nukilan pengalaman pribadi dari kehidupan sehari-hari ke dalam 65 judul artikel mandiri. Kenyataan yang sering diabaikan atau bahkan dihindari oleh orang-orang karena takut menyinggung perasaan, dia bongkar dengan teliti untuk kemudian mengemukakan sikap mana yang harus dikritisi dan diubah, serta mana yang patut dibela. Ia mengulas dari soal mengelola perasaan, kepercayaan terhadap pasangan, perselingkuhan, cinta dan pacaran, sopan santun, perkawinan, perselisihan pendapat, pelecehan seksual, seks di luar perkawinan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perceraian, urusan kantor dan pekerjaan, hingga soal tradisi, agama, bahkan birokrasi, politik, hukum dan perundang-undangan.

Memang, buku ini ditujukan ‘teristimewa bagi perempuan’. Namun kaum laki-laki pun sebetulnya diam-diam menerima ‘kado’ yang sangat bernilai. Meski tema pokoknya adalah martabat perempuan (womanhood dignity), namun siapapun – termasuk laki-laki – yang membaca artikel demi artikal dalam buku ini, seperti diajak me-review kembali pemahaman dan sikapnya berkaitan dengan keluhuran martabat sebagai manusia (human dignity). Buku ini memberi model untuk sebuah upaya demi kemajuan dan kemerdekaan perbikir di Indonesia, terlebih untuk kaum perempuan yang enggan untuk bertatapan langsung dengan persoalan-persoalan esensial seperti itu.

Rupanya Risa sadar betul, bahwa untuk membongkar kesaradan akan martabat perempuan tak akan tercapai bila menggunakan cara penyampaian deduktif, biarpun terstruktur serapi mungkin. Pengalaman empiris dari hidup sehari-hari menjadi jalan yang jitu, karena perempuan sangat akrab dengan hal-hal yang detil dan teliti, apalagi menyangkut wilayah ‘domestik’ dunia perempuan. Proses pergulatan Risa melalui medium pengalaman sehari-hari itu dia bagikan dengan kapasitasnya sebagai seorang perempuan yang tidak rela bila sesamanya rapuh dan menyerah pada konsep-konsep yang membelenggu.

Dilahirkan 22 Oktober 1969, perempuan cantik ini dibesarkan dalam keluarga yang mendidiknya dengan penuh cinta dan rasa hormat. Bakatnya untuk cermat terhadap detil hidup sehari-hari dan tak bisa duduk berdiam diri berlama-lama dalam mengerjakan sesuatu, membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang cekatan, tangguh dan resourceable (bisa diandalkan). “Always make a total effort, even when the odds are against you” adalah kutipan favoritnya dari Arlnold Palmer.

Lulusas Fakultas Sastera Inggris Universitas Nasional tahun 1994 ini sekarang sedang mendalami Ilmu Hukum di Program Magister Hukum UGM, sambil bekerja di International Organization for Migration sebagai Government Liaison Officer dan sebagai Associate pada Prihartono & Partners, sebuah kantor hukum di Jakarta. Buku pertamanya ‘You Need a GOOD LAWYER to Set You Free from the Jail of Your Heart’ sukses merebut hati pembaca. Tulisan-tulisan di blognya sangat diminati oleh penggemarnya.

Tak heran bila tema-tema dalam artikel di buku yang kedua ini sangat kental dengan kasus-kasus yang bersinggungan dengan hukum dan tak jauh dari perjuangan hak-hak asasi serta martabat manusia terutama perempuan. Di artikel terakhir, ‘Perempuan, lawan kekerasan itu!’ secara mendetil Risa mengajak kaumnya untuk mengenali pasal demi pasal UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Perempuan yang bermartabat jangan sampai terjebak menjadi korban apalagi sebagai pelaku kekerasan domestik!

Gaya bertutur Risa yang lugas enak dibaca, seperti mendengarkan seseorang yang curhat, ngerumpi, tetapi bermutu karena menggugah pembacanya untuk memakai cara pandang baru, bersikap positif dan cerdas, tidak hanya dikendalikan oleh emosi dan perasaan dalam hidupnya! Remake yourself, refresh yourself! (hlm. 40-47), sehingga ada ‘nyanyian baru’ dalam hidup pembaca.

Meski beranjak dari pengalaman personal domestik keperempuanan, Risa Amrikasari berhasil memasukkan isu politis. The personal is political.

Isu ini populer dalam gerakan-gerakan feminis di Amerika pada paruh kedua tahun 70-an, dan mendapatkan ruangnya dalam proses kreatif para seniman perempuan Amerika (feminist art).
Generasi pertama dari gerakan-gerakan feminis ini cenderung mengeksplorasi isu-isu multikulturalisme dan feminisme dengan berangkat dari pernyataan identitas perempuan dan upaya perlawanan. Simbol-simbol visual yang mereka gunakan, menyampaikan pesan secara verbal dan kontroversial. Mereka mempertanyakan hal-hal yang berkaitan dengan tubuh dan isu komodifikasi. Pengalaman keperempuanan ditatapkan dengan wilayah sosial, bahkan politik. Karya-karya mereka merupakan bagian dari gerakan politik untuk mendukung kesetaraan dan persamaan hak bagi perempuan. Dalam proses berkarya mereka langsung bersentuhan dengan problem riil dalam masyarakat, menciptakan diskusi dan pemikiran, menginisiasi perdebatan dan bersifat partisipatif untuk proses sosial.

Alih-alih menggunakan bahasa yang verbal, generasi kedua cenderung menyampaikan kritisisme mereka dengan metafor. Pengalaman personal yang bersentuhan dengan isu-isu sosial-politik aktual menghadapkan mereka pada berbagai kontradiksi yang kemudian dituangkan dalam karya sebagai sebentuk kritisisme untuk membangun dialog yang berkaitan dengan isu tertentu. Relasi antara agama dan manusia, yang nyata dengan yang maya, harmoni dan ancaman, menjadi isu-isu yang mereka angkat. Dalam isu-isu itu ada semacam tuntutan tentang penghapusan diskriminasi terhadap perempuan.

Sementara generasi ketiga menampilkan pengalaman personal dengan keinginan untuk merayakan dan membagikan pengalaman itu, bukan dengan spirit untuk melawan atau berpartisipasi menciptakan diskursus tertentu. Mereka cenderung ‘menerima’ situasi-situasi dimana perempuan mempunyai lebih banyak pilihan sebagai sesuatu yang ‘given’. Mereka ini umumnya tidak menjumpai kesulitan untuk berkontribusi dalam kehidupan publik. Karya-karya mereka dekat dengan budaya populer.

Risa Amrikasari pasti mengerti tentang pola-pola dalam gerakan para seniman perempuan, dan sadar betul tentang porsi mana yang pantas diberikan kepada kaum perempuan Indonesia. Di sinilah, kepiawaian Risa ditampilkan dalam membagikan gagasan-gagasan perubahannya. Mungkin ciri pertama terkesan begitu kuat. Namun barangkali perempuan Indonesia saat ini memang harus ‘digebrak’ dengan pendekatan seperti itu.

Untuk membaca tulisan-tulisan Risa Amrikasari dalam buku ini rasanya tak perlu memasang ‘kuda-kuda’ terlebih dahulu seperti mau bertempur menghadapi lawan yang asing. Namun yang dibutuhkan adalah hati yang terbuka, seperti kedua belah telapak tangan yang menyambut setangkai mawar merah dari pribadi yang benar-benar tulus mencinta. Mawar itu harum wangi, meski tangkainya bisa saja berduri… [skd]

Judul buku : Especially for You, A collection of Self Motivation Articles for Tough Women Only.
Penulis : Risa Amrikasari

Penerbit : Rose Heart Publishing

Editor : Risa Amrikasari
Edisi : Cetakan pertama, 2009
Percetakan : PT. Gramedia, Jakarta
Halaman : xx +352


*) Dimuat di halaman opini Harian Merdeka, Kamis, 30 Juli 2009.

Permalink 4 Komentar

Aku bukan perempuan, tapi …

21 April, 2008 at 4:50 AM (Reflection) (, , , , , , )

Ada dua perempuan yang mengesankan hatiku selama kurun waktu satu setengah tahun terakhir: Anna Maria dan Ninih Muthmainnah. Keduanya seakan mewakili ketegaran jiwa dan hati perempun dari lubuk paling dalam. Mutiara-mutiara bening yang acapkali menetes keluar dari sudut kelopak mata mereka tak urung memantulkan kilauan sinar ilahi sekaligus insani yang kemudian memberkas dalam setiap ingatan orang yang tersapu berkas sinar itu.

Anna MariaSiapa tak kenal Anna Maria? Model terkenal di era 80-an, istri bintang film pujaan di era yang sama, Roy Marten. Namanya kembali mencuat di tahun 2006, bukan lantaran kemodelannya, tetapi karena kasus narkoba yang menimpa suaminya. Belum genap setahun sang suami keluar dari bui tahun 2007, di awal tahun ini kasus yang sama menimpa lagi. Untuk kedua kalinya luka hati yang sama menganga lagi. Namun Anna Maria masih tetap tegar menerimanya.

Siapa pula tak kenal Hj. Ninih Muthmainnah? Seorang perempuan cantik luar dalam, istri K.H. Abdullah Gymnastiar. Namanya justru semerbak semakin harum saat popularitas suaminya menurun setelah sang ustadz berpoligami dengan memperistri Alfarini Eridani.

Tak perlu aku memperkenalkan mereka lebih jauh. Aku sendiri belum pernah ketemu mereka, hanya sempat melihat wajah-wajah ayu itu di layar televisi. Aku “mengenal” mereka hanya dari kilauan nurani yang kebetulan tertangkap dari pantulan mereka selama tampil melalui tayangan media. Mungkin Anda justru lebih mengenal mereka secara lebih dalam.

Dengan “mata”-ku seolah mereka memperkenalkan nilai-nilai luhur yang ternyata bukan hanya sekedar idealisme religius semata, tetapi sungguh konkret mereka hayati dan perjuangkan secara nyata. Itulah nilai-nilai yang sebetulnya semua orang pernah dengar, mungkin juga “kenal” atau “tahu”, namun malu-malu atau bahkan takut-takut untuk sekedar “menyentuhnya”. Itulah nilai-nilai yang menjiwai kata-kata: “kesetiaan”, “ketulusan”, “cinta-kasih”, “pengorbanan” dan “tanggung jawab individu di hadapan Sang Khalik”. Sebuah kebetulan yang hampir menjadi trade-mark bahwa nilai-nilai itu terpancar dari sosok kaum perempuan. Meskipun nilai-nilai itu bukan monopoli kaum Hawa, namun lihatlah, betapa kelekatan nilai-nilai itu pada mereka tampil seindah-indahnya.

Aku bukan seorang perempuan – secara genetik aku laki-laki! Namun secara nurani, aku yakin dalam diriku mengalir jiwa perempuan. Taruhlah itu sebagian warisan yang aku terima karena aku pernah menyatu dalam kandungan ibuku. Maka sebetulnya nilai-nilai itu aku “kenal” juga. Kalau sekarang aku melihat bahwa seakan-akan nilai-nilai itu ada “di luar sana” sebetulnya aku patut mencurigai diriku sendiri: jangan-jangan aku ini benar menderita split-personality!

Ada banyak figur perempuan yang hadir dalam hidupku. Beberapa begitu istimewa dan special buatku. Dan setiap kali aku merenungkan kilauan-kilauan nilai yang secara istimewa terpantul dari mereka, saat itulah aku diajak kembali untuk menyatukan lagi diri yang saat itu terbelah. [skd]

Permalink 2 Komentar

Tiang Penopang Doa

21 Februari, 2008 at 4:01 AM (Puisi) (, , , )

Semalam hujan begitu deras. Meski berlangsung sebentar-sebentar kayak orang beseren (Jw.= sebentar-sebentar kencing, tapi bukan anyang-anyangen), namun sempat membikin hati miris juga. Jadi ingat saudara-saudara di daerah rawan banjir… Biasanya, dengan iringan hujan seperti itu tidurku tambah pules. Tapi tidak semalam tadi. Jadilah aku ingat orek-orekan (maksudnya puisi) yang pernah aku tulis setahun yang lalu:

Temaram awan petang menjanjikan kegelapan
Setetes mutiara cair menggores kaca jendela
Goresan bening itu sekejap saja
Lalu meleleh turun ke dasar kaca
berbaur dengan riangnya dalam genangan

Riang gemuruh mutiara-mutiara itu
berlari-lari sambil bersorak-sorai
mengajak debu dedaunan berarak ke lembah
berderap seperti pasukan
berseragam coklat kehitaman
berkilat-kilat membelah senja

seorang perempuan berteriak
di ujung jalan yang hilang
suaranya terkunci kertakan gigi
dia ketakutan
tak mau diajak ke lembah

temaram petang menepati janjinya
kelam senja menghapus mata angin
menelan penjuru perempuan itu

mata si perempuan pindah ke tangan dan kaki
mukanya menengadah ke lubang langit
berharap cahaya

sebuah tiang menahan nyawanya
jantung perempuan itu melonjak kegirangan
saat ini masih mampu berdegup
menghitung waktu
akankah kenanganku terbungkus beku di sini?
tanya perempuan itu

malang sekali…
tiba-tiba…
degup jantungnya semakin kencang
menghitung ketakutan
merenda kekhawatiran
seribu gumpal dalam satu detakan
menghentak-hentak belahan dadanya
getarannya sampai ke ujung tiang

satu detak…
enam puluh detak…
tiga ribu enam ratus detak…
detak-detak berulang-ulang…
silih berganti…

beruntung sekali…
tiang itu hanya berdenging dibuatnya
detak-detak gundah itu terlontar ke angkasa
terserap mutiara-mutiara bening yang masih berjatuhan

kuat sekali tiang ini
pikirnya…
cukup kuat untuk bertambat sampai esok pagi

hatinya bersorak
semesta masih merengkuhnya
dalam kekuatan tiang penahan jiwa
menopang doa paling lama
yang pernah dia ingat

Kandar Ag., tanpa tanggal dan bulan, 2007

Akhirnya, tadi pagi aku bangun terlambat. Jam 08.28 baru nyampai kantor! *** 🙂

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Terpujilah engkau para wanita!

21 Januari, 2008 at 5:40 AM (Insight, Puisi, Reflection, Spiritualitas) (, , , , , , , , , )

Ini juga copy-paste dari blog saya yang laen! (Byuuuuh… soalnya lagi cunthel ini kepala akhir-akhir ini!) Kali ini tentang para permpuan yang dipuji oleh mendiang Paus Yohanes Paulus II dalam puisinya “Letter to Woman” – 1995.

Beberapa waktu lalu saya memutar DVD musik dari Andrea Bocelli, “Credo“, featuring mendiang Poaus Yohanes Paulus II, yang di-launching oleh SUGAR. Hati saya tersentuh ketika sampai pada satu bagian mengenai perempuan menurut pandangan Sang Paus. Lalu saya transkrip bagian itu dan inilah hasilnya:

“Thanks to you, woman-mother,
for making yourself the womb of the human being.

Thanks to you, woman-bride,
for irrevocably sharing your doom with that of your man.

Thanks to you, woman-daughter and woman-sister,
for bringing into the family nucleus and then into the whole of social life
the richness of your sensibility and your insight.

Thanks to you, woman-worker,
engaged in every aspect of life, in the societies, in the economies,
in culture, arts and politics as well,
and for your contribution in working out a culture capable of mixing sense and sensibility
and in conceiving life as always open to a sense of “mystery”.

Thanks to you, consecrated woman.
Thanks to you for the simple fact of being woman!”

Kapan ya…ada puisi setara dengan itu tentang laki-laki? Ada yang tahu? ***

Permalink 5 Komentar