Bangsa Indonesia memang bukan Winnie the Pooh cs.

3 Maret, 2009 at 5:11 AM (Family, Insight, Intermeso, Nasionalisme, Reflection) (, , , , )

Ya jelas bukan! Judul yang aneh dengan negasi yang sekenanya!

Tapi memang itulah yang terlintas di benakku ketika tiba-tiba aku menyadari bahwa semakin banyak merchandise Pooh di rumahku semenjak si kecil Gabriel lahir. Ada sticker Pooh di lemari es. Ada poster Pooh di pintu lemari pakaian, belum lagi yang ditempel di dinding dekat cermin bersolek. Ada bantal Pooh. Ada boneka tangan Pooh. Ada lagi tas bagor bergambar tokoh kartun Disney itu. Dan yang terakhir, istriku baru pesen selimut Pooh untuk si i’el!

Heran aku! Tapi lama-lama aku menikmatinya juga. Soalnya karakter beruang madu berbulu kuning keemasan itu begitu imut dan menggemaskan, lucu! Memandangnya saja sudah terpancing untuk senyum. Tak terasa otot-otot di ujung garis mulut ini tertarik ke atas, dan membawa perbawa segar di hati: ada kegembiraan! Perbawanya mampu mengusir kesuntukan barang beberapa saat. Namun, saat seperti itu bisa sedemikian menentukan untuk kesegaran-kesegaran berikut. Sayang bila hal ini tak pernah disadari, pikirku. Seandainya aku bisa mengabadikannya – seperti mengabadikan senyum anakku dengan kamera saku yang baru – aku ingin melakukannya. Ya beginilah jadinya: tulisan ini.

Tapi apa hubungannya dengan bangsa Indonesia? Ntar dulu…

Lihat dulu atau baca dulu barang sedikit tentang Winnie The Pooh! Di Ashdown Forest – tempat dia dan teman-temannya tinggal – Pooh terkenal sebagai beruang pahlawan, pernah dijuluki Knighted “Sir Pooh de Bear”. Seperti kebanyakan makhluk hidup – termasuk manusia, hehehe… – kalau pagi pasti bertanya, “Sarapan apa, ya?” Meskipun cuma badannya yang gede dan katanya otaknya kecil, namun dia suka berpikir, “Think, think, think!” Bahkan, dia suka mengarang puisi dan lagu! Teman bermain paling deket adalah Piglet, seekor babi kecil berwarna pink (Aaah.. dunia fabel memang penuh kedamaian kayaknya). Berpetualang dan mengunjungi sahabat sesama penggemar madu adalah kegiatan sehari-hari. Sifat beruangnya kadang juga muncul: suka bosan!

Namun terlepas dari lihat (filmnya) dan baca (cerita, ulasan dan komiknya) tentang si Pooh, kehadirannya dalam rupa-rupa merchandise itu telah mampu mengajak siapapun yang memperhatikannya untuk memasuki dunia dongeng.

Tiket masuknya sederhana: senyuman! Tanpa itu orang takkan mampu masuk ke dalam dunia indah warna-warni penuh keceriaan dan kegembiraan yang murni! Saking murninya, dalam dunia fabel pun ada lukisan kegembiraan itu. Kehadiran Pooh dan teman-temannya itu seolah ingin menyampaikan pijaran kegembiraan murni makhluk Tuhan, yang nota bene mestinya ada juga di dunia manusia! Adalah anak-anak – atau mereka yang appreciate terhadap dunia anak (jadi bukan yang kekanak-kanakan) – yang pertama kali mampu menangkap getaran yang menumbuhkan senyum dan keceriaan itu. Pooh… sosok karakter yang mampu diterima, bahkan oleh anak-anak! Anakku Gabriel yang baru berumur dua bulan saja bisa tersenyum-tertawa ketika melihat boneka tangan Pooh kumain-mainkan di depannya.

Naaaah… sekarang baru ngomong tentang bangsa Indonesia.

Gak perlu panjang lebar kok duduk permasalahannya. Aman jika aku hanya bertanya saja (hehehe…): Kalau melihat (foto, filem, tayangan berita tv) dan membaca (koran, buku, sejarah hingga kini) atau mendengar (cerita, berita, komentar, dll.) tentang Indonesia, adakah yang mampu membuat kita spontan tersenyum tulus untuk tertawa dalam kegembiraan? Gak ada? Mosok siiiih? Kalau tidak ada, terus karakter macam apa yang terpancar dari bangsa kita tercinta ini? Mosok tidak ada yang bisa masuk ke relung fabilitas (hahaha…ini istilahku sendiri untuk mengaitkan hal ini dengan dunia fabel) yang akrab dengan anak-anak bangsa ini?

Ya, jelas… bangsa Indonesia memang bukan Winnie the Pooh cs.! Karakter Pooh (dan sebangsanya) rupa-rupanya lebih jelas dari pada karakter bangsa Indonesia! (Eh, yang ini sudah sebuah judgement, ya?) Katanya sih, kita sedang membangun karakter bangsa kita… bersama-sama. Dan yang jelas lagi, bangsa Indonesia mestinya bukanlah boneka mainan anak-anak balita, anak-anak TK maupun SD!

Semoga suatu saat anak-anak pun bisa tersenyum-tertawa tulus, gembira-ceria karena menjadi bagian dari bangsa Indonesia! Amin.

(Posting ini aku tulis karena aku tersadar juga bahwa anakku adalah anak Indonesia! Sebuah anugerah yang menyertakan tanggung jawab kebangsaan juga dalam keluarga sebelum dia diajak menghafalkan butir-butir Pancasila di sekolahan nanti…) [skd]

Co-past dari: BornJavanese

Permalink 1 Komentar

Tinggallah pilihan: bangkit atau mengeluh!

22 Mei, 2008 at 3:42 AM (Insight, Pijar Optimisme) (, , , , , , , , )

Heap of Hope

20 Mei 2008 adalah peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional Indonesia. Sore harinya semua stasiun televisi kita serentak menyiarkan secara langsung perayaan 100 tahun itu dari Gelora Bung Karno Senayan. Megah dan meriah, syarat dengan unjuk kekuatan, baik kekuatan budaya, militer, pendidikan, maupun kekuatan generasi muda. Sebegitulah upaya penyelenggara perayaan untuk mencoba membakar semangat kebangsaan kita. “Indonesia bisa!” menjadi seruan yang diharapkan masuk ke dalam lubuk karakter masyarakat bangsa ini untuk bangkit dari keterpurukan. ***

Mulai bulan Juni 2008 harga BBM akan dinaikkan sebesar 28,7% dari harga sekarang. Protes terhadap kebijakan pemerinatah ini merebak di mana-mana. Diskusi dan debat seputar itu juga tak kalah ramai terjadi di media massa. Berbagai kata kunci bermunculan menyusul kebijakan ini: harga minyak dunia yang semakin melambung, APBN membengkak, subsidi barang harus diganti dengan subsidi orang, BLT (Bantuan Langsung Tunai); beriring dengan itu pula: konversi minyak ke gas, upaya pemakaian sumber energi alternatif, … bla bla bla… ***

Paragraf pertama membikin hati berbinar. Sementara paragraf kedua memancing kening mengerut dan wajah bersungut! Keduanya menyimpan kekuatan yang bisa sama-sama dahsyat. Kekuatan untuk bangkit, dan kekuatan untuk mengeluh! Akhirnya tinggallah pilihan, pilih sikap yang mana! [skd]

Dinas Kebersihan

 

Keterangan gambar:
Gambar 1: “Heap of Hope” – Seorang pemulung berharap rejeki yang masih tercecer dari tumpukan sampah di pinggir Jl. Ir. Juanda Bekasi. Dia memberi arti terhadap sesuatu yang telah disingkirkan oleh orang lain. Entahlah, si pemulung itu “menerima” nasibnya ataukah sekarang ini sedang berjuang “melawan” nasibnya. – Foto diambil tgl. 26 April 2008.
Gambar 2: Dua orang petugas Dinas Kebersihan sedang mengambil sampah yang dikumpulkan di tengah jalan di Jl. Ir. Juanda Bekasi. Tubuh berkeringat dan berlepotan kotoran bau adalah resiko dari seorang petugas kebersihan. “Demi sebuah CITA-CITA akan KEBERSIHAN, menjadi KOTOR & BAU adalah RESIKO yang harus dihadapi.” – Foto diambil tgl. 26 April 2008.

Permalink 2 Komentar