Asyik dengan lalat!

30 Oktober, 2008 at 4:37 AM (Insight, Reflection) (, , , , , , , , , , , , )

Flies – Morning Talk, originally uploaded by BornJavanese.

Entah mengapa, sejak aku gandrung lagi pada fotografi setelah beberapa waktu kamera Nikon F10-ku hilang dicuri malind di Gua Kerep Ambarawa, binatang ini selalu menarik perhatianku: lalat hijau (laler-ijo). Sampai-sampai aku mencari tahu nama Latin dari serangga yang terkenal menjijikkan ini. Ternyata banyak variannya. Yang aku yakin sering aku jepret adalah jenis Chrysomya megalocephala, sebuah nama yang cantik di balik reputasinya yang jelek! Coba bukan berarti laler ijo, pasti menjadi pertimbangan untuk nama calon anakku yang sekarang genap tujuh bulan dalam kandungan!

Begitu perhatian sama si laler, aku pernah menulis beberapa insight – makna rohani – tentangnya di blog-ku yang lain. Di blog yang khusus aku buat untuk kreativitasku ber-fotografi juga sering aku upload gambar serangga ini sebagai wallpaper. Dan kini aku merasa perlu untuk mencerna memperhatikan, apakah ada pesan tersendiri di balik semua itu.

Kira-kira sebulan lalu boss-ku di kantor bercerita tentang pengalaman unik berkaitan dengan lalat. Semenjak bapaknya meninggal, demikian beliau bertutur, setiap kali beliau “jagongan” minum teh atau kopi, tidak hanya di rumah namun di hotel berbintang sekalipun, selalu ada seekor lalat gedhe yang berseliweran di depannya. Kadang binatang itu hinggap di meja atau di gelasnya. “Entah mengapa bisa begitu,” ujar beliau bertanya-tanya.

Aku hanya berkomentar sedikit, “Lalat itu sukanya di tempat kotor dan berbau busuk, Pak! Hahaha…. Jadi…” Hehehe… aku ra wani melanjutkan! Agak bercanda tetapi mungkin sedikit menohok! Beliau pun mengerti akan hal itu, jelas.

“Tetapi aku pernah membuat tulisan makna rohani tentang lalat ijo, lho Pak! Dia itu kalau menyendiri, apalagi hinggap di tempat istimewa seperti bunga misalnya, kelihatan cantik. Barangkali saat itu dia sedang retret! Hahaha… Maksud saya, binatang itu tampak indah pada waktunya. Ah, mungkin Bapak harus mencerna pesan rohani yang ada di balik pengalaman bersama lalat itu, deh!”

Beliau tidak melanjutkan… kelihatannya hanya berhenti di situ saja, entahlah.

Sekarang malah ganti aku yang terusik, mengapa aku suka mengambil foto lalat. Mungkinkah aku sekarang ini sedang asyik dengan hal-hal yang sebetulnya kotor dan berbau busuk, hal-hal yang potensial membuat sakit? Mungkinkah aku sekarang ini sedang bergelut dengan perkara-perkara yang semestinya segera aku sudahi? Okelah… rasanya ini pesan penting bagiku dari alam.

Sementara itu, lalat memang selalu ada di mana-mana…. Dan jangan lupa, di jaman Nabi Musa dulu binatang ini pernah dipergunakan Allah untuk memperingatkan raja Firaun yang keras kepala! [skd]

Seen also at: Blogspot.

Permalink 1 Komentar

“Sabda Alam” dari kebun

4 Februari, 2008 at 4:19 AM (Analogi, Insight, Pijar Optimisme, Reflection, Spiritualitas) (, , , , , , , )

Aku dan istriku sama-sama suka berkebun. Suatu ketika kami berdua asyik mengganti pot dan media tanam yang sudah terlalu lama. Beberapa tanaman telah tumbuh lebat. Apalagi tanaman merambat sejenis philodendron. Beberapa kami pindahkan ke pot gantung, beberapa kami pangkas untuk dibuang. Asyik sekali kami seharian mengerjakannya.

Di hari-hari berikut setiap pagi aku selalu mengamati pertumbuhan mereka. Aku rasa, itulah saat paling mengasyikan dari kegemaran gardening. Pertumbuhan sebuah tanaman pun bisa menjadi penghiburan yang menyegarkan jiwa. Tunas yang kemarin baru berupa gulungan lancip, hari ini telah mengembang menjadi lembaran daun hijau muda nan segar. Batang tanaman merambat semakin melingkari ijuk rambatannya ke arah datangnya sinar mentari. Bungkusan-bungkusan kelopak bunga yang kemarin masih rapat, pagi ini telah terbuka dengan mahkota bunga yang mekar tampak “ceria”.

Kalau semua detil pertumbuhan mereka itu tidak sempat terperhatikan, mana mungkin kita menyaksikan sebuah pagelaran (skenario) kehidupan adegan demi adegan yang terselenggara begitu indah di depan mata? Dan lihatlah, tumbuhan itu berbagi kisah tentang hidupnya. Dengarlah, alam memang sedang bersabda! (Hehehe…ingat lagunya ChrisyeSabda Alam“)  🙂

Pagi ini aku menangkap satu kisah dari tanaman rambat yang dipencarkan minggu lalu oleh istriku dengan cara stek. Dalam satu pot istriku menanam beberapa batang stek. Pagi ini mereka sudah tampak subur lagi. Beberapa malah ada yang sudah menjulurkan tunasnya yang baru.

Tetapi, heiii…! Ada satu batang yang pucat dan layu, daunnya menguning. Apa yang terjadi padanya?! Ya ampun… ternyata batangnya tertanam terbalik! Ruas batang yang lebih muda-lah yang terbenam di tanah!

Entah mengapa, demi menyaksikan hal itu, tiba-tiba di dadaku ada perasaan sesak, buntu, disorientasi, keputusasaan, gambaran “kepala untuk kaki dan kaki untuk kepala”, kelelahan, lemas…layu! Aneh, mengapa perasaan-perasaan itu muncul, padahal aku oke-oke saja!

Aku cabut batang yang layu itu untuk ditancapkan kembali secara benar. Eh, sejenak hatiku terhibur dan kebuntuan tadi menjadi terurai ketika melihat ada tunas yang tumbuh dari ketiak ruas yang tadi tertanam secara terbalik itu. Tunas itu tumbuh membelok ke arah permukaan.

Pikiranku melayang ke perkiraan-perkiraan seandainya batang terbalik itu tidak aku cabut:

  • Batang yang tadi melayu lama kelamaan akan kering dan mati, lalu terlepas dari bagian ruas yang tumbuh tunas baru itu.
  • Tunas itu akan terus tumbuh sebagai individu baru dengan arah tumbuh yang benar, “kaki sebagai kaki, dan kepala sebagai kepala”.

Namun itu hanyalan dugaan yang belum aku buktikan, karena aku sudah terlanjur mencabutnya dan mengoreksi posisi tancapannya. Aku enggan untuk bertaruh dengan perkiraan-perkiraan itu. (Hehehe… baru kepikiran sekarang untuk menguji dugaan itu!)  🙂

Sampai di sini saja aku sudah sempat memetik “daun-daun sabda” dari kisah tanamanku itu. Barangkali terlalu membosankan kalau aku tuliskan panjang lebar daripada beberapa butir insight ini:

  • Salah berpijak akan beresiko kelelahan dan layu karena energi dan potensi diri habis untuk mencari orientasi yang benar, untuk merevolusi diri dan menempuh detour untuk lepas dari kebuntuan.
  • Energi hidup, betapapun kecilnya itu, tetap mampu memberi kekuatan tumbuh, pertanda kehidupan, bahkan hidup sebagai individu yang “baru” dengan pijakan yang benar.
  • Pada saat yang tepat, dengan maksud yang benar dan cara yang benar, intervensi dari pihak luar akan sangat membantu sebuah proses pertumbuhan hidup. Namun bila intervensi itu justru menjerumuskan, menjebak dan memaksa kita untuk berada dalam situasi sulit, saat itulah kita musti kembali menyadari dan merevitalisasi potensi-potensi dasar yang telah given dalam diri kita. Bila itu terjadi, apa yang terkesan sebagai jalan buntu ternyata bukanlah kiamat!

Hmmmm… percaya atau tidak, itulah sepenggal “sabda alam” yang menyampaikan sebuah kebijaksanaan bagiku (manusia).

Terpujilah Allah Sang Maha Pencipta, sekarang dan selama-lamanya. Amin. ***

Permalink 1 Komentar

Tatap Muka – Puisi Peziarah Cinta

25 Oktober, 2007 at 7:53 AM (Cinta, Pergulatan, Peziarahan, Puisi) (, , , , , , , )

Ya Allah
sekian lama aku mencari-Mu
Aku telah berjumpa dengan-Mu
Aku sempat berbahagia bersama-Mu

Jacob-AngelTetapi kini
siapakah Kau, ya Allah
siapakah aku, ya Allah
hingga aku berperang melawan-Mu?
aku tak tahan menawap wajah-Mu
aku tak berdaya bergelut dengan-Mu
diriku hancur muka terbakar
seperti mau mati rasanya

Kapankah aku Kauhidupkan lagi?
Ketika aku merasa kalah
aku merasa hancur luluh
Ketika aku merasa menang
aku merasa sungguh ada
dan Kauagungkan sebagai manusia
 

Tetapi mungkinkah Kau kukalahkan?
Mungkinkah aku sungguh menang?
Apakah Kau hanya berpura-pura mengalah?
supaya aku bisa beristirahat sejenak
untuk mengambil nafas hembusan-Mu?
dan melihat diri ini ciptaan-Mu semata,
ciptaan yang baru Engkau agungkan
dengan Kauajak berperang melawan Engkau
dan Kaubiarkan menang?

Ya Allah
betapa agunglah Cinta-Mu
yang mengajakku bergulat
supaya semakin mencinta-Mu

Kandar Ag. – Mlati, 29 Juni – 3 Juli 2002

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar