Bumi ini bundar!

28 Januari, 2009 at 2:26 AM (Insight, Reflection, Spiritualitas)

Bumi ini memang bundar! Begitulah hatiku berujar. Meski belum pernah berada di ruang antariksa di antara bintang rembulan, namun aku yakin sekali tentang hal itu. Foto satelit bisa menjadi bukti. Lengkung cakrawala yang tampak ketika kita naik pesawat terbang (hehehe… aku dah pernah, cing!) juga bisa menjadi tanda yang jelas. Hilangnya perahu layar dari pandangan, seperti tenggelam ke dalam lautan, juga memberi pertanda hal yang sama. Singkatnya, secara fisik kenyataan akan bundarnya bumi ini tak terbantahkan lagi.

Namun anehnya, dalam pikiran dan pemahaman kita kadang masih ada pendapat yang primitif tentang bumi ini. Coba saja, ketika kita berbicara tentang kebudayaan. Dunia ini sepertinya berwujud selembar papan yang terbelah menjadi beberapa bagian: barat-timur, utara-selatan, tengah pinggir! Ada yang disebut “budaya Barat” dan “budaya Timur”, “negara-negara Utara” (untuk menyebut negara-negara kaya) dan “negara-negara Selatan” (miskin). Dua yang terakhir ini mungkin masih agak masuk akal, karena berdasar pada garis maya katulistiwa. Itu pun masih bisa membuat bingung kalau kita persis beridiri di kutub utara atau selatan! Kalau arah terbitnya matahari menjadi pijakan pendapat barat-timur, Semarang itu Timur bagi Jakarta, namun Barat bagi Surabaya! Jadi, Semarang itu timur atau barat?! Jawabannya tergantung pada dari mana orang memandang, relatif!

Lha, kalau diterapkan pada kebudayaan, olah pikir dan pendapat, ketrampilan dan adat-istiadat, apa yang bisa dipakai sebagai dasar untuk menengarai yang ini “Barat” dan yang itu “Ketimuran”? Mungkin berkaitan dengan bab ini ada sejarahnya sendiri, kapan persisnya istilah Barat dan Timur itu dipakai untuk menunjuk kebudayaan-kebudayaan di bumi ini. Namun, saya kira hal itu tak lagi relevan!

Kita masih sering menganggap, kalau cara pikir orang Amerika, Australia dan Eropa sana adalah cara pikir budaya Barat. Sementara pola pikir orang China, Kamboja, Jepang, Melayu, Indonesia, India adalah pola pikir budaya Timur. Agama ini milik orang Barat, sementara agama itu milik orang Timur. Bahkan tidak jarang dalam menyebut perbedaan seperti itu disertai perasaan curiga, benci atau permusuhan; kalau perlu pasang kuda-kuda untuk saling menolak satu sama lain dengan menganggap yang lain adalah barang asing!

Byuuuuh…byuuuh…! Sekarang ini sudah jamannya dunia ini bundar luar dalam! Globalisasi bukan barang aneh lagi. Pergaulan orang-orang sedunia sudah tidak bisa dihalangi lagi. Tempat dan daerah sudah tidak begitu menjadi halangan yang berarti. Buktinya, teknologi selluler dan jaringan internet sudah akrab dinikmati hampir setiap orang. “Halloooo…Mister, ini Agus! Walaaah… Agus Aguuus!” – bisa menjadi contoh tanda-tanda globalisasi itu. Tumpah ruahnya orang-orang sedunia memelototi televisi agar bisa melihat dan memperhatikan pelantikan Barack H. Obama di Washington DC juga bisa menjadi contoh hangat gejolak positif globalisasi. Figur Obama yang berdarah hitam-putih dan pernah mengalami hidup di jelajah keempat penjuru mataangin, telah membikin warga sedunia seakan-akan mengidamkan adanya tokoh yang bundarnya dunia ini tidak hanya terperagakan secara lahir namun juga batin!

Oleh Tuhan aku sudah diperkenankan lahir menjadi bocah Jawa. Pagi-siang-sore menikmati terbit hingga terbenamnya mentari. Waktu malam cahaya bintang rembulan menenteramkan kalbuku. Matahari, bintang dan bulan yang sama itu pula yang menyinari setiap insan di muka bumi ini.

Kerinduanku: kapankah aku dapat menjadi manusia yang sungguh-sungguh utuh, bukan hanya sebagian, tanpa hilang ke-jawa-anku. [skd]

Terjemahan Indonesia dari Bumi iki bunder!

Permalink 1 Komentar

Tarian semut

4 November, 2008 at 8:22 AM (Insight, Spiritualitas) (, , , , , , , , , , )

Tarian semut, originally uploaded by BornJavanese.

Perhatikan semut ini! Dia sedang menari!
Semut saja bisa menari seanggung yang bisa dia lakukan. Sebenernya sih aku tidak tahu bagaimana dia biasa mengekspresikan perasaannya. Aku juga tak tahu apakah semut mengerti tentang keindahan atau tidak. Apa yang aku tahu adalah bahwa dia menari dan sempat membuatku terpana dan terhibur saat aku jepret. Indah nian; sekurang-kurangnya dia mempertontonkan sesuatu yang indah di depan mataku.

Bagaimana denganmu, Kawan?
Semut saja bisa menari! Jangan katakan bahwa kamu tidak mampu melakukannya untuk mengeskpresikan jiwamu. Manusia lebih berarti dibanding semut. Kita ini makhluk intelektual dan religius yang dikaruniai talenta dan kemampuan untuk berkreasi. Tarian manusia tentulah lebih kreatif dan indah dibanding tarian semua semut di muka bumi ini. Tak hanya untuk ekspresi jiwa dalam keindahan, tarian merupakan cara yang mengagumkan untuk mengkomunikasikan integritas kita sebagai manusia yang indah, bahkan dengan tanpa kata-kata. Cinta, kegembiraa, kepedihan, semangat hidup….., iman, harapan dan impian..…, kegigihan dan perjuangan….., dan semua aspek hidup kita mempunyai pola gerak, yang bisa diartikulasikan dalam serangkaian gerakan yang indah dan harmonis: TARIAN!

Terberkatilah engkau, Kawan!
Semoga hari-harimu menyenangkan. Dan, hari ini jangan lupa kau menari, sebuah tarian tulus seorang manusia, supaya harimu benar-benar penuh kegembiraan! [skd]

English version: Dancing ant

Permalink 1 Komentar

Asyik dengan lalat!

30 Oktober, 2008 at 4:37 AM (Insight, Reflection) (, , , , , , , , , , , , )

Flies – Morning Talk, originally uploaded by BornJavanese.

Entah mengapa, sejak aku gandrung lagi pada fotografi setelah beberapa waktu kamera Nikon F10-ku hilang dicuri malind di Gua Kerep Ambarawa, binatang ini selalu menarik perhatianku: lalat hijau (laler-ijo). Sampai-sampai aku mencari tahu nama Latin dari serangga yang terkenal menjijikkan ini. Ternyata banyak variannya. Yang aku yakin sering aku jepret adalah jenis Chrysomya megalocephala, sebuah nama yang cantik di balik reputasinya yang jelek! Coba bukan berarti laler ijo, pasti menjadi pertimbangan untuk nama calon anakku yang sekarang genap tujuh bulan dalam kandungan!

Begitu perhatian sama si laler, aku pernah menulis beberapa insight – makna rohani – tentangnya di blog-ku yang lain. Di blog yang khusus aku buat untuk kreativitasku ber-fotografi juga sering aku upload gambar serangga ini sebagai wallpaper. Dan kini aku merasa perlu untuk mencerna memperhatikan, apakah ada pesan tersendiri di balik semua itu.

Kira-kira sebulan lalu boss-ku di kantor bercerita tentang pengalaman unik berkaitan dengan lalat. Semenjak bapaknya meninggal, demikian beliau bertutur, setiap kali beliau “jagongan” minum teh atau kopi, tidak hanya di rumah namun di hotel berbintang sekalipun, selalu ada seekor lalat gedhe yang berseliweran di depannya. Kadang binatang itu hinggap di meja atau di gelasnya. “Entah mengapa bisa begitu,” ujar beliau bertanya-tanya.

Aku hanya berkomentar sedikit, “Lalat itu sukanya di tempat kotor dan berbau busuk, Pak! Hahaha…. Jadi…” Hehehe… aku ra wani melanjutkan! Agak bercanda tetapi mungkin sedikit menohok! Beliau pun mengerti akan hal itu, jelas.

“Tetapi aku pernah membuat tulisan makna rohani tentang lalat ijo, lho Pak! Dia itu kalau menyendiri, apalagi hinggap di tempat istimewa seperti bunga misalnya, kelihatan cantik. Barangkali saat itu dia sedang retret! Hahaha… Maksud saya, binatang itu tampak indah pada waktunya. Ah, mungkin Bapak harus mencerna pesan rohani yang ada di balik pengalaman bersama lalat itu, deh!”

Beliau tidak melanjutkan… kelihatannya hanya berhenti di situ saja, entahlah.

Sekarang malah ganti aku yang terusik, mengapa aku suka mengambil foto lalat. Mungkinkah aku sekarang ini sedang asyik dengan hal-hal yang sebetulnya kotor dan berbau busuk, hal-hal yang potensial membuat sakit? Mungkinkah aku sekarang ini sedang bergelut dengan perkara-perkara yang semestinya segera aku sudahi? Okelah… rasanya ini pesan penting bagiku dari alam.

Sementara itu, lalat memang selalu ada di mana-mana…. Dan jangan lupa, di jaman Nabi Musa dulu binatang ini pernah dipergunakan Allah untuk memperingatkan raja Firaun yang keras kepala! [skd]

Seen also at: Blogspot.

Permalink 1 Komentar

Unified by the death

22 September, 2008 at 4:51 AM (Cinta, Insight, Reflection) (, , , , , , , , )

Unified by the death, originally uploaded by BornJavanese.

Download: 1024*731
Bisa dilihat juga di FotoKita.net – National Geographic Indonesia

Sebetulnya foto ini lebih pas jika saya tampilkan pada bulan November nanti, saat umat Katolik mendevosikan bulan itu untuk para arwah saudara-saudari yang sudah meninggal dunia. Namun hati ini gak sabaran… hehehe… mumpung saudara-saudari umat Muslim seluruh dunia sedang menunaikan ibadah Puasa 1429 H, sekalian bisa menjadi inspirasi bila memungkinkan.

Sengaja judul di Flickr.com itu tidak aku ubah, “Unified by the death”, pake bahasa Inggris supaya lebih powerful. Okelah…kalau mau yang bahasa Indonesia kira-kira menjadi “Dipersatukan oleh yang sudah meninggal”. Sementara yang ada di balik judul itu adalah sepenggal pesan yang bisa terdengar di seputar peristiwa kematian. Semasa hidupnya, seseorang mungkin luput dari perhatian istimewa dari siapapun, tak terkecuali keluarganya. Apalagi bila orang itu tak punya peran penting seperti layaknya seorang tokoh masyarakat, artis, politisi atau pejuang HAM. Semua orang yang mengenalnya pun tak begitu peduli akan kabarnya dari waktu ke waktu. Di antara orang-orang yang mengenalnya itu bahkan barangkali terlibat dalam perselisihan, pertengkaran, permusuhan atau perkara yang menghalangi mereka untuk bertemu muka.

However… ketika dia meninggal, berita kematiannya merebak secepat intensitas orang-orang yang dicintai dan mencintainya. Dan orang-orang pun berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir. Perbedaan, perselisihan, pertengkaran, permusuhan dan perkara yang yang sedang berkecamuk di antara orang-orang yang menerima berita itu tidak lagi menjadi penghalang mereka untuk berkumpul. Pertimbangannya hanyalah satu: “Aku mencintai orang yang meninggal itu, dan kini aku ingin menghormatinya!”

Begitulah… rupa-rupanya peristiwa kematian memang powerfull menyentuh sanubari siapa pun. Sungguh, suatu moment yang sangat istimewa sebetulnya, bahwa seorang yang meninggal bisa mengumpulkan banyak orang, bisa lebih banyak dibanding peristiwa pesta apa pun yang dia selenggarakan semasa masih hidup.

Haruskah menunggu adanya kematian seseorang terlebih dahulu untuk bisa berkumpul dalam cinta-kasih? [skd]

Baca juga: Kematian – Mahkota Kehidupan.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

« Previous page · Next page »