Kematian – Mahkota Kehidupan

29 Januari, 2008 at 5:05 AM (Insight, Peziarahan, Reflection, Spiritualitas) (, , , )

Bulan ini sekurang-kurangnya ada 2 tokoh publik yang saya kenal telah meninggal dunia. Yang satu seorang dalang wayang kulit, Ki Hadi Sugito, meninggal Rabu, 09 Januari 2008; yang satunya lagi mantan presiden ke-2 RI, H.M. Soeharto, meninggal Minggu, 27 Januari 2008. Keduanya meninggal karena sakit. Tentu masih ada banyak lagi yang meninggal di bulan Januari ini, tidak terkenal seperti mereka namun sangat berarti bagi keluarga, kerabat dan orang-orang di sekitarnya.

Setiap kali mendengar berita lelayu (berita kematian), apalagi kematian orang yang saya kenal, langsung terlintas ingatan-ingatan masa lalu tentang orang itu. Yang spontan muncul adalah kesan dominan dari hidupnya: karakternya yang galak, lucu, berwibawa; atau kenangan kebersamaan dengannya; atau bahkan emosi yang berbuih-buih satu-per-satu lewat di lubuk hati, rasa kehilangan, sedih, gamang, terkejut, hampa…menangis. Seingat saya, saya belum pernah merasa lega atas kematian seseorang (dan puas karena dia kini telah mati)! (Ada nggak ya orang seperti itu? hehehehe…)

Intensitas rasa kehilangan atas orang tertentu menunjukkan seberapa berartinya orang itu bagi hidup seseorang. Saya pernah mengalami itu ketika Budhe saya meninggal. Dan sampai sekarang kadang-kadang timbul rasa rindu dan kangen padanya. Saya mengakui, rasa rindu dan kangen itu mengungkapkan betapa kehadirannya di dalam hidup saya telah begitu mendalam, bahkan dia telah masuk menjadi bagian sejarah yang membentuk hidup saya. Pada hari dia meninggal, banyak orang datang melayat. Sebagian besar saya tidak kenal mereka. Dan tiba-tiba muncul pertanyaan dalam hati saya: “Orang macam apakah Budhe saya ini bagi mereka? Adakah mereka juga merasakan hal yang mirip dengan yang saya rasakan?”

Orang hidup mengumpulkan orang hidup, adalah hal biasa. Orang yang telah meninggal mengumpulkan orang hidup, bahkan lebih banyak dari biasanya semasa dia hidup, lha…inilah yang patut disimak. Apalagi bila yang datang itu termasuk pihak-pihak yang bertikai, tidak akur dan tidak mau berjumpa bertatap muka apalagi bersalaman. Dalam peristiwa kematian, perjumpaan mereka terjadi. Dan bisa pula terjadi perjumpaan itu membuka peluang untuk perkembangan yang lebih baik di antara mereka yang datang: rekonsiliasi, perdamaian, atau sekurang-kurangnya saling menyapa…

Kalau kita bisa menyimak, ternyata masih ada sesuatu “yang dilakukan” oleh orang yang telah meninggal, baik pada hari dia meninggal, waktu penguburan, maupun waktu-waktu berikut ketika dia diperingati dan didoakan. Pada saat-saat itu kematian betul-betul sebuah realita nyata yang menjadi bagian hidup anak manusia. Pada saat-saat itu sesuatu mengenai finalitas kehidupan terpampang di depan orang-orang yang masih hidup. Tak adakah pesan-pesan tertentu bagi orang-orang itu dari si kematian?

Peristiwa seputar kematian seseorang ternyata memberi lukisan tentang citra hidup seseorang. Dan itulah yang mereka urai tentang dia secara obyektif: sebuah lukisan dan perbincangan mengenai “mahkota kehidupan” yang telah dibangun oleh almarhum/almarhumah semasa hidupnya di mata orang-orang itu. Dia tidak lagi bisa menanggapi, atau mengoreksi lagi hidupnya, karena lembaran hidupnya telah “ditumpuk di meja guru” untuk kemudian tinggal “dinilai”, dan tidak ada her-heran!

Mengapa kesedihan dan air mata begitu akrab dengan kematian seseorang? Kematian orang lain barangkali telah sering kita alami, bisa jadi tanpa keistimewaan, tanpa tangisan kita. Kematian orang yang dekat, barulah istimewa, seolah-olah ada bagian diri kita yang turut direnggut, di-“mati”-kan. Inilah yang membuat sedih dan air mata. Apalagi bila pada saat itu terlintas angan-angan tentang kematian kita sendiri!

Persis di sinilah intinya: pernahkah kita belajar tentang kematian kita sendiri? How will you deal with your own death? Tak dipungkiri, kematian itu menakutkan bagi sebagian kita yang masih hidup, karena kita masih merasa “asing” dengannya, dan merasa terlalu dini untuk membicarakan atau bahkan memikirnya. Padahal, cepat atau lambat, tanpa kita ketahui, kita pasti menemui ajal kita!

Bagaimana kalau diajukan gagasan seperti ini:
How you will deal with your own death, that’s how you will deal with your own life, and that’s also how you will build your own crown!
– Kandar Ag.

Berimanlah untuk hidup, begitu pun berimanlah untuk mati!
John Powell. ***

“Selamat jalan, Pak Harto!”

“Selamat jalan, Pak Gito!”

Permalink 3 Komentar

Adakah kisah di hari ini?

3 Desember, 2007 at 2:17 AM (Insight, Peziarahan, Pijar Optimisme, Puisi, Spiritualitas) (, , , , , )

Adakah kisah di hari ini?

Suatu ketika saya mengalami kehampaan atas apa yang saya lakukan dalam satu hari. Kemudian saya menulis seperti ini:

Oh… Dear…
Nyaris tak ada kisah di hari-hariku, sampai pagi ini aku mempertanyakannya. Berarti nyaris tidak ada pengalaman yang menyampaikan makna-makna! Padahal “makna” adalah “logos”, percikan roh yang menghidupi siapapun yang menangkapnya. “Makna” bersabda dalam hati, tanpa dia hidup ini berlangsung tanpa geliat! Tak ada tanda-tanda kehidupan yang ditampakkan! Dan si makhluk hidup bernafas dalam kehampaan.

Oh… Dear…
Apakah tidak ada keterlibatan, sehingga sang “makna” tidak mau membuka selubung mukanya? Apakah terlalu asyik berpetualang, sehingga tidak mengenali apa yang sejatinya sedang dicari? Sibuk tanpa arah dan pedoman? Melangkah tanpa tahu ke mana akan pergi?

Oh… Dear…
Petualangan ini menjebak! Kebebasan yang tampak adanya, ternyata tanpa tepi hingga membuat si petualang tak mengenali dirinya tersesat atau tidak. Tantangan demi tantangan, peristiwa demi peristiwa hanyalah lorong tak berujung. Pencarian demi pencarian berujung pada keputusasaan, karena tak ada “peta sejati” bagi si petualang!

Oh… Dear…
Pagi ini Dia Sang Makna berbisik di telingaku, “Nanti malam Aku ingin mendengarkan kisahmu hari ini…” Maka aku bangkit untuk kembali ber-ZIARAH… demi sepotong KISAH untuk nanti malam… ***

Rabu, 31 Januari 2007

Selalu harus ada harapan di akhir permenungan! Karena harapan (hope) adalah satu pilar kehidupan yang musti tetap dijaga dan dipelihara bersama dua yang lain, yakin iman (faith) dan kasih (love). ***

Permalink 1 Komentar

Tatap Muka – Puisi Peziarah Cinta

25 Oktober, 2007 at 7:53 AM (Cinta, Pergulatan, Peziarahan, Puisi) (, , , , , , , )

Ya Allah
sekian lama aku mencari-Mu
Aku telah berjumpa dengan-Mu
Aku sempat berbahagia bersama-Mu

Jacob-AngelTetapi kini
siapakah Kau, ya Allah
siapakah aku, ya Allah
hingga aku berperang melawan-Mu?
aku tak tahan menawap wajah-Mu
aku tak berdaya bergelut dengan-Mu
diriku hancur muka terbakar
seperti mau mati rasanya

Kapankah aku Kauhidupkan lagi?
Ketika aku merasa kalah
aku merasa hancur luluh
Ketika aku merasa menang
aku merasa sungguh ada
dan Kauagungkan sebagai manusia
 

Tetapi mungkinkah Kau kukalahkan?
Mungkinkah aku sungguh menang?
Apakah Kau hanya berpura-pura mengalah?
supaya aku bisa beristirahat sejenak
untuk mengambil nafas hembusan-Mu?
dan melihat diri ini ciptaan-Mu semata,
ciptaan yang baru Engkau agungkan
dengan Kauajak berperang melawan Engkau
dan Kaubiarkan menang?

Ya Allah
betapa agunglah Cinta-Mu
yang mengajakku bergulat
supaya semakin mencinta-Mu

Kandar Ag. – Mlati, 29 Juni – 3 Juli 2002

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Penciptaan~Pergulatan – Puisi Peziarah Cinta

27 September, 2007 at 5:31 AM (Cinta, Insight, Pergulatan, Peziarahan, Puisi, Reflection, Spiritualitas)

PenciptaanTak kusangka
cinta telah mengajakku bergulat
bertengkar dan berargumentasi

Karena cinta, terjadilah pertengkaran:
antara rasa dan pikir
antara membela dan mengkritik
antara tabu dan ingin tahu
antara ingin terikat dan ingin bebas
antara menerima dan menolak
antara lingkup pribadi dan lingkup massa
antara ke-sendiri-an dan ke-bersama-an
antara yang subyektif dan yang obyektif
antara suaraku dan suara mereka
antara yang membuat gelisah dan yang membuat damai
antara hakikat manusia dan atribut status
antara kodrat dan tradisi Baca entri selengkapnya »

Permalink 14 Komentar

Next page »