Unified by the death

22 September, 2008 at 4:51 AM (Cinta, Insight, Reflection) (, , , , , , , , )

Unified by the death, originally uploaded by BornJavanese.

Download: 1024*731
Bisa dilihat juga di FotoKita.net – National Geographic Indonesia

Sebetulnya foto ini lebih pas jika saya tampilkan pada bulan November nanti, saat umat Katolik mendevosikan bulan itu untuk para arwah saudara-saudari yang sudah meninggal dunia. Namun hati ini gak sabaran… hehehe… mumpung saudara-saudari umat Muslim seluruh dunia sedang menunaikan ibadah Puasa 1429 H, sekalian bisa menjadi inspirasi bila memungkinkan.

Sengaja judul di Flickr.com itu tidak aku ubah, “Unified by the death”, pake bahasa Inggris supaya lebih powerful. Okelah…kalau mau yang bahasa Indonesia kira-kira menjadi “Dipersatukan oleh yang sudah meninggal”. Sementara yang ada di balik judul itu adalah sepenggal pesan yang bisa terdengar di seputar peristiwa kematian. Semasa hidupnya, seseorang mungkin luput dari perhatian istimewa dari siapapun, tak terkecuali keluarganya. Apalagi bila orang itu tak punya peran penting seperti layaknya seorang tokoh masyarakat, artis, politisi atau pejuang HAM. Semua orang yang mengenalnya pun tak begitu peduli akan kabarnya dari waktu ke waktu. Di antara orang-orang yang mengenalnya itu bahkan barangkali terlibat dalam perselisihan, pertengkaran, permusuhan atau perkara yang menghalangi mereka untuk bertemu muka.

However… ketika dia meninggal, berita kematiannya merebak secepat intensitas orang-orang yang dicintai dan mencintainya. Dan orang-orang pun berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir. Perbedaan, perselisihan, pertengkaran, permusuhan dan perkara yang yang sedang berkecamuk di antara orang-orang yang menerima berita itu tidak lagi menjadi penghalang mereka untuk berkumpul. Pertimbangannya hanyalah satu: “Aku mencintai orang yang meninggal itu, dan kini aku ingin menghormatinya!”

Begitulah… rupa-rupanya peristiwa kematian memang powerfull menyentuh sanubari siapa pun. Sungguh, suatu moment yang sangat istimewa sebetulnya, bahwa seorang yang meninggal bisa mengumpulkan banyak orang, bisa lebih banyak dibanding peristiwa pesta apa pun yang dia selenggarakan semasa masih hidup.

Haruskah menunggu adanya kematian seseorang terlebih dahulu untuk bisa berkumpul dalam cinta-kasih? [skd]

Baca juga: Kematian – Mahkota Kehidupan.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Tatap Muka – Puisi Peziarah Cinta

25 Oktober, 2007 at 7:53 AM (Cinta, Pergulatan, Peziarahan, Puisi) (, , , , , , , )

Ya Allah
sekian lama aku mencari-Mu
Aku telah berjumpa dengan-Mu
Aku sempat berbahagia bersama-Mu

Jacob-AngelTetapi kini
siapakah Kau, ya Allah
siapakah aku, ya Allah
hingga aku berperang melawan-Mu?
aku tak tahan menawap wajah-Mu
aku tak berdaya bergelut dengan-Mu
diriku hancur muka terbakar
seperti mau mati rasanya

Kapankah aku Kauhidupkan lagi?
Ketika aku merasa kalah
aku merasa hancur luluh
Ketika aku merasa menang
aku merasa sungguh ada
dan Kauagungkan sebagai manusia
 

Tetapi mungkinkah Kau kukalahkan?
Mungkinkah aku sungguh menang?
Apakah Kau hanya berpura-pura mengalah?
supaya aku bisa beristirahat sejenak
untuk mengambil nafas hembusan-Mu?
dan melihat diri ini ciptaan-Mu semata,
ciptaan yang baru Engkau agungkan
dengan Kauajak berperang melawan Engkau
dan Kaubiarkan menang?

Ya Allah
betapa agunglah Cinta-Mu
yang mengajakku bergulat
supaya semakin mencinta-Mu

Kandar Ag. – Mlati, 29 Juni – 3 Juli 2002

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Penciptaan~Pergulatan – Puisi Peziarah Cinta

27 September, 2007 at 5:31 AM (Cinta, Insight, Pergulatan, Peziarahan, Puisi, Reflection, Spiritualitas)

PenciptaanTak kusangka
cinta telah mengajakku bergulat
bertengkar dan berargumentasi

Karena cinta, terjadilah pertengkaran:
antara rasa dan pikir
antara membela dan mengkritik
antara tabu dan ingin tahu
antara ingin terikat dan ingin bebas
antara menerima dan menolak
antara lingkup pribadi dan lingkup massa
antara ke-sendiri-an dan ke-bersama-an
antara yang subyektif dan yang obyektif
antara suaraku dan suara mereka
antara yang membuat gelisah dan yang membuat damai
antara hakikat manusia dan atribut status
antara kodrat dan tradisi Baca entri selengkapnya »

Permalink 14 Komentar

Sepatah Ranting Kering (2) – Puisi Peziarah

18 September, 2007 at 1:26 PM (Cinta, Insight, Peziarahan, Puisi, Reflection, Spiritualitas)

Pukul delapan
hari Jumat
tanggal dua belas
bulan ketujuh
tahun kedua kesendirianku
sepatah ranting kering
lama terselip di mejaku
merana berselimutkan debu
Kutatap kau penuh ragu

Ranting PeziarahJangan, jangan kau merana lagi!
Tidak, aku tidak ragu lagi!

Baiklah kuseka kau dengan kasihku
Aku tersenyum
Kilat keringat doaku yang dulu
masih berkilau di wajahmu Baca entri selengkapnya »

Permalink 2 Komentar

Next page »