“The Passion of The Christ” di hari Jumat Agung

25 Maret, 2008 at 11:17 AM (Commentary, Insight, Reflection, Spiritualitas) (, , , , , , , )

Jesus and Veronica

Seingat saya sudah empat kali berturut-turut selama empat tahun terakhir ini film “The Passion of The Christ” garapan Mel Gibson berkolaborasi dengan Benedict Fitzgerald ditayangkan di televisi swasta Indonesia pada hari Jumat Agung. Tahun 2008 ini sponsor pemutaran film berdurasi sekitar 2 jam itu bahkan membagikan VCD “Rahasia Kehidupan” gratis bagi 100.000 pemenang kuis seputar film itu.  Tidak seperti film-film lainnya, film yang dibintangi oleh James Caviezel ini ditayangkan tanpa jeda iklan. Kira-kira mengapa?

Doa Jalan Salib

Jumat Agung adalah hari raya keagamaan umat kristiani untuk mengenang sengsara dan wafat Isa Almasih, Yesus Kristus. Dalam sejarah spiritualitas Gereja Katolik peristiwa sengsara dan wafat Yesus Kristus ini menjadi inspirasi berkembangnya sebuah doa yang dikenal dengan doa “Jalan Salib”. Dengan doa itu umat kristiani merenungkan salah satu episode peristiwa Yesus Kristus yang diimani sebagai Sang Juru Selamat Dunia (Salvator Mundi). Biasanya doa itu terdiri dari 14 stasi (perhentian) mulai dari Yesus diadili sampai dimakamkan.

Salah satu stasi Jalan Salib di Gua Maria Puh Sarang - Kediri.Di dalam gedung gereja dan tempat-tempat peziarahan umat Katolik (misalnya gua Maria) biasanya terdapat visualisasi dari setiap perhentian jalan salib itu berupa gambar, relief atau patung panorama. Umat berdoa sambil merenungkan kisah sengsara Yesus Kristus dan berjalan dari perhentian yang satu ke perhentian berikutnya untuk menunjukkan bahwa ada sebuah peziarahan di balik doa tersebut. Kadang-kadang visualisasi untuk mendukung doa itu diperagakan dalam rupa “tablo” atau drama penyaliban yang dimainkan oleh sekelompok umat yang telah dipersiapkan. Umat berdoa sambil “menyaksikan” drama itu. Naaaah… filem The Passion of The Christ bisa digolongkan dalam kategori tablo ini sehingga lebih afdol bila “ditonton” dalam suasana doa, bukan sekedar hiburan!

Doa biasanya diidentikkan dengan permohonan kepada Tuhan. Namun sebetulnya permohonan hanyalah satu dari sekian intensi doa. Masih ada intensi syukur, pujian, dan anamnese (pengenangan). Doa jalan salib adalah doa renungan anamnetik. Dalam doa jenis ini ada peristiwa yang dikenangkan. Lebih dari sekedar mengingat-ingat, suatu pengenangan mengandung makna simbolis, artinya peristiwa yang dikenangkan itu hadir dalam kekinisinian pelaku doa.

Aspek “kehadiran” menjadikan sebuah doa (yang nota-bene adalah salah satu bentuk komunikasi) mampu menyediakan ruang untuk membangun intimitas si pendoa dengan Tuhannya. Istilah lain dari intimitas ini sering kita kenal dengan “kesatuan”, “kemanunggalan”, atau “unitas”. Begitu kaum mistikus biasa menyebut. Dalam kondisi pendoa seperti itu permohonan apalagi yang dapat dia ajukan? Semua sudah tersedia di depan mata, tinggal diterima dan disyukuri! Itulah anugerah dari doa: peneguhan iman, penyertaan ilahi (accompaniment), kekuatan hidup, kegembiraan, damai, syukur dan pemuliaan. Seiring dengan itu juga tekad dan sikap hidup yang baru serta konstruktif atas dasar awareness yang dibawanya dari pengalaman doa anamnetik itu. Semestinya sih begitu …  🙂

Penderitaan dan kematian adalah bagian dari kehidupan kita. Tak seorang pun mengharapkannya menimpa diri ini. Namun pada saatnya mereka tidak bisa ditolak! Menolak realitas penderitaan dan kematian bisa berarti mengingkari kehidupan itu sendiri. Namun dari sisi lain, secara sengaja menciptakan penderitaan dan kematian adalah tindakan yang secara moral tidak bisa dibenarkan. Apalagi bila kemudian kita bersembunyi di balik kedok “takdir” untuk lepas dari tanggung jawab dan memperoleh pembenaran dari tindakan kesengajaan itu. Jadi bagaimana?

Akhirnya kita sampai pada pilihan sikap: menyikapi penderitaan dan kematian dalam rangka hidup dan kehidupan secara bertanggung jawab.

Ibu, lihatlah, Aku membuat segala sesuatunya baru!Pada akhir film The Passion of The Christ ditampilkan sosok Yesus yang telah disalibkan dan mati (kasarnya: tewas!) itu bangkit berdiri dengan lubang bekas luka di tangan. Meskipun hanya ditampilkan selintas dan sekejap, inilah bagian pesan paling penting dan menentukan dari serangkaian penderitaan dan salib di seluruh film itu. Pada bagian inilah tafsiran (iman) penulis skenario yang diletakkan pada mulut Yesus ketika berjumpa dengan Maria ibu-Nya di jalan salib, “Ibu, lihatlah, Aku membuat segala sesuatunya baru!” mendapatkan maknanya yang paling dasar. Kebangkitan (resurrection) adalah inti iman kristiani paling dasar: Yesus yang telah disalibkan dan mati di kayu salib itu bangkit! Tanpa kebangkitan-Nya sia-sialah penderitaan dan salib yang telah dijalani-Nya. St. Paulus bahkan secara berani mengatakan, “Kalau Kristus tidak bangkit, sia-sialah iman kita!” Untuk menjadi seorang kristiani, iman akan hal ini tak bisa ditawar-tawar. Inilah kekhasan iman kristiani.

Karena iman menyangkut pemahaman dan sikap, peristiwa Paskah itu menjadi terang bagi umat kristiani untuk memahami dan menyikapi penderitaan dan kematian secara “baru”.

Film dakwah?

Seperti sebuah teks yang kemudian menjadi dirinya sendiri terlepas dari maksud pengarangnya, begitupun film The Passion of The Christ. Ketika Mel Gibson menggarap film ini mungkin yang terjadi adalah sekedar menuangkan penghayatan iman personalnya akan peristiwa Yesus Al Masih. Barangkali ada maksud dakwah atau syiar agama di dalamnya. Atau mungkin juga dia semata-mata ingin mengeksplorasi kekerasan salib yang muncul dari fanatisme pemimpin keagamaan di jaman Yesus untuk dikemas menjadi sebuah tontonan di antara film-film kekerasan berbau sadisme lainnya yang bernilai jutaan US dollar.

Apapun intensi sang sutradara atas film itu, The Passion of The Christ talah terlanjur dikenal sebagai sebuah film keagamaan sekaligus film box-office yang patut dicatat. Berbagai kritik sudah dilontarkan sehingga film ini cukup kontroversial di berbagai kalangan.

Itu semua sah-sah saja.

Saya sendiri merasa terbantu oleh film itu. Tentu karena saya berpijak dari iman kristiani saya akan Yesus Kristus, tokoh utama yang dikisahkan dalam film itu. The Passion of The Christ telah memperkaya ranah penghayatan inti iman saya. Dalam arti tertentu, film itu saya terima sebagai salah satu bentuk ungkapan kesaksian iman yang dibagikan (di-sharing-kan) oleh “orang beriman” di balik layar, di dapur studio film itu. Saya terbantu untuk berproses dalam rangka doa anamnesis selama Pekan Suci umat kristiani yang baru lalu (Pekan Suci dimulai pada Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, dan berakhir pada hari Minggu Paskah). Dalam arti ini, film itu berperan pula sebagai dakwah bagi saya agar selalu menjaga awareness bahwa ruang di luar gedung ibadat adalah medan penyempurnaan peribadatan yang sejati. Yesus Kristus menyelesaikan missi-Nya di puncak Bukit Tengkorak (Golgota), di luar Kenisah (gedung ibadat) Yerusalem! Di sanalah puncak setiap peziarahan sejati…

Sesuatu yang sebetulnya bisa aneh dan perlu hati-hati memahaminya kalau kemudian film itu juga memberi penghiburan bagi saya. Bagaimana mungkin kekerasan dan sadisme berdarah-darah memberi hiburan? Yang jelas saya tidak suka film thriller-horror yang memacu adrenalin. Saya juga bukan seorang masochist atau pemuja penderitaan dan penganiayaan. Kalau saya terhibur, itu karena happy-ending yang membingkai film The Passion of The Christ itu jauh sebelum film itu dibuat! Jadi sebetulnya penghiburan itu terjadi karena telah ada dawai di lubuk hati ini yang kini terresonansi atau bahkan dipetik kembali. Keterhiburan itu juga karena ada “alternatif baru” yang membuka pemahaman dan sikap positif terhadap penderitaan dan kematian demi sebuah “kebenaran”. Alternatif baru itu persis menjadi jawaban yang mengatasi kata-kata dari pertanyaan Pontius Pilatus, “Qui est veritas?!” Apa itu kebenaran? Dan persis pula alternatif itu memberikan paradoks yang membuka kedok-kedok “bukan kebenaran” …..

Mungkin ada yang curiga dan bertanya-tanya baik secara terang-terangan maupun hanya dalam hati: Hebat betul, penayangan film tanpa jeda iklan! Tentu ini sebuah upaya kristenisasi yang sungguh dibiayai tanpa tanggung-tanggung!

Saudaraku yang terkasih… saya tidak ingin terjebak dalam kerangka pikir seorang salesman ekstrim yang selalu memaksa orang untuk membeli barang dagangannya dari pintu ke pintu. Sebab, untuk menjadi seorang “beriman” kristen tidak semudah dan sesederhana menjadi seorang “beragama” kristen ..… tak mungkin hanya terbeli oleh sejumlah rupiah sebesar biaya sponsorship penayangan film keagamaan saja! ***

Permalink 16 Komentar

“The Secret” – Book

15 November, 2007 at 8:37 AM (Commentary, Reflection, Spiritualitas, the secret) (, , , , )

What Is The Secret

Anda sudah baca bukunya Rhonda ByrneThe Secret“? Atau malah juga sudah menyimak edisinya dalam format DVD? Salah satu review mengenai buku itu bisa Anda baca dari tulisan Tim Challis.

Sejujurnya saya sendiri belum membacanya secara utuh buku itu! 🙂 Baru baca synopsisnya di situs resmi buku itu, tapi sudah pengen komentar! Aneh ya?

Ketika masuk ke kamar salah satu teman di tempat kostnya saya sempat melihat dan mengolak-alik buku berwarna cokla kemerahan dengan hiasan segel merah pada kovernya itu. Teman saya langsung bilang, “Itu buku dari yayangku. Kalau aku belum selesai membacanya, aku belum boleh menelepon dia! Hehehe….”

Jadi penasaran, apa sih gerangan keistimewaan buku edisi bahasa Indonesia yang diterbitkan Gramedia itu? It’s a book of reflection upon the law of attraction theory, or just another book of the new-age exploration’s euphoria? Saya belum berani menilai lebih jauh wong belum rampung membaca!

Tetapi pada intinya saya menyambut positif buku itu karena dia masuk ke wilayah ceruk self-improvement atau self-help book. Kategori ini mengulas lebih dalam mengenai “how to be more human“.

Menariknya kategori ini bagi saya terletak pada kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak habis-habisnya menyediakan ide untuk dieksplorasi: afirmasi dari “kitab-suci” keagamaan tentang martabat manusia rupa-rupanya tidaklah mudah untuk ditelan dan di-“iman”-i begitu saja! Revelasi tentang “rahasia kehidupan” yang diungkap oleh para “leluhur” sejarah umat manusia di jaman dulu mungkin terasa terlalu “naif” atau simple untuk dimengerti. Bahasa orang di era (post-) modern rupa-rupanya memerlukan cara pembahasan yang sesuai dengan konteks jamannya, dan kadang-kadang terkesan kurang puas dengan pernyataan yang terlalu simple! Itulah manusia, makhluk yang belum selesai berevolusi!

Energi (positif dan negatif) menjadi kata kunci dalam buku ini. Manusia menjadi agen (agere – actus, Lat. = melakukan) perubahan yang mampu menyerap dan memancarkannya baik untuk dirinya sendiri maupun untuk semesta di sekitarnya. Sebagai agen yang mempunyai kehendak bebas manusia mampu mengelola energi-energi yang menyelimutinya, sekaligus diapun menerima efek balik dari energi-energi itu karena dia tidak mungkin terlepas dari konstelasi semesta ini. Buku ini, seperti buku-buku serupa, mendidik kesadaran mengenai hal ini: Mulailah berpikir positif, sugesti diri positif, bangunlah mindset positif dan bersyukur atas hidup ini apapun keadaannya.

“Kesuksesan” adalah goal dari pengelolaan energi-energi itu. Entahlah, bagaimana satu kata ini harus dimengerti secara “benar”. Bagaimana harus dikatakan untuk menggambarkan status “sukses sebagai manusia“? Sepertinya ada konsep tertentu di balik kata kesuksesan ini. Terbayang dalam pikiran saya bahwa ada tegangan antara takdir (fate) dengan pilihan bebas, sadar dan bertanggung jawab; sementara itu manusia juga telah mengenali adanya rahmat dan anugerah yang dia terima dari sononya atas keunggulan-keunggulan yang melekat pada martabatnya.

Siapakah sebenarnya manusia itu? Dan kapankah manusia menampakkan keluhurannya sebagai manusia?

As you learn The Secret, you will come to know how you can have, be, or do anything you want. You will come to know who you really are. You will come to know the true magnificence that awaits you in life.” – Rhonda Byrne.

Posting ini bukan promosi lho! Wong saya gak dapet duwit dari situs itu, hehe…  🙂

Permalink 21 Komentar

Do you believe in prediction?

25 September, 2007 at 1:24 PM (Bencana, Commentary, Gempa, Insight, Reflection, Spiritualitas)

Bangun tanggul perlindungan. Lais - Bengkulu Utara.Belakangan sedang ramai desas-desus di internet tentang prediksi para ahli geologi dunia bahwa akan terjadi gempa yang lebih dahsyat dibanding gempa Bengkulu kemarin. Gempa tersebut sangat berpotensi menimpa wilayah sepanjang pantai Barat Sumatra!

“There is a strong indication this foreshadows the big one,” said Danny Hillman, an earthquake specialist at the Indonesian Institute of Science. “We all agree there is an 8.5 or stronger earthquake waiting to happen.”

Begitulah tulis CNN dalam pemberitaannya (baca Experts warn ‘big one’ may yet hit Indonesia – CNN.com;  Indonesia’s big one ‘on its way’CNN.com).

This is a bad-news or a good-news? Baca entri selengkapnya »

Permalink 4 Komentar