Gembala dan domba

14 April, 2008 at 6:51 AM (Anekdot) (, , , , )

Gembala dan domba-dombanyaHari Minggu pagi, 13 April 2008 kemarin aku dan istriku menghadiri Misa kedua di Gereja Paroki St. Leo Agung Kalimalang dipimpin oleh Rm. Meus, CSsR. Bacaan-bacaannya berbicara tentang figur seorang gembala (Yoh 10:1-10). Seperti biasa ketika sampai pada homili, aku menyimaknya sambil memejamkan mata supaya bisa berkonsentrasi. Sependengaranku Romo Meus cukup jelas berhomili. “…Gembala yang baik mengenal domba-dombanya. …. dan domba-domba mengenal tuannya…, mereka mengikuti ke manapun sang gembala pergi… dst. dst. …”

Tapiiii… karena badanku saat itu tidak begitu well, tidak terasa aku sempat tertidur! Sayup-sayup terdengar homili diakhiri dengan ajakan untuk mendoakan syahadat (Credo) singkat. “Marilah kita berdiri untuk mengakui iman kita. Saya mengaku….” Dan langsung disambut oleh umat, “kepada Allah Yang Mahakuasa, dan kepada saudara sekalian bahwa saya telah berdosa….” Eiiit… Romo mengoreksi ajakannya, “Aku percaya akan Allah…” dan umat pun melanjutkan pula, “Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi…, dst.” sampai selesai dengan selamat.

Lhaaaaah…! Baru aku tersadar bahwa ajakan yang pertama itu bukan ajakan untuk syahadat, tapi ajakan untuk mohon belas kasih Allah yang biasanya dilakukan pada awal Ekaristi! Hehehe…. kok ya sebagian besar umat tetep menyahut ya? Cuma istriku yang diam, terus menyenggol tanganku sambil menahan senyum.

“Dasar! Makanya kalau misa jangan tidur!” dia berbisik begitu.

Lhoh, kan kita ini domba yang baik toh? Wong mengikuti gembalanya dengan setia.”

Padune turu weee…!

“Hehehe… jadi tadi itu banyak umat yang tertidur juga pa ya? Untung Romo Meus terus mengoreksi, kalau nggak, berarti beliau tertidur juga…” 🙂  ***

Permalink 6 Komentar

Tempat paling “keren” untuk cari ide!

22 Oktober, 2007 at 8:14 AM (Anekdot) (, , , , , , , )

Pagi tadi di kamar mandi tiba-tiba saya tersenyum sendiri. Seperti biasa saya memulai “ritual” rutin dengan jongkok. Kayak ada yang mau keluar lewat “ujung” sana. Tetapi beberapa menit berselang hanya air kecil saja yang keluar, disertai hembusan angin dari lubang satunya. Hanya itu! Asyem!

Tetapi aku sabar menanti, sambil… ya jadilah posting ini! 🙂

 

Public Toilets. Cari aja di situs FunPicMaksudnya cuma mau seperlunya saja di ruang kecil itu. Gara-gara kepala ini tiba-tiba diingatkan oleh saat-saat lain di kamar mandi, entah waktu buang air kecil, mandi, mencuci, “ngosek” KM, dan terlebih saat buang air besar seperti tadi pagi itu. Dan ini yang tiba-tiba membuat saya tersenyum: betapa ide-ide brilliant sering muncul justru pada saat berada di kamar mandi! Paling sering adalah ide-ide yang keluar selama jongkok! 🙂

Saya penasaran, apakah hanya saya doang yang mengalami hal itu. Ternyata tidak! Ketika saya bertanya ke salah seorang teman, “Kamu setuju kalau kamar mandi itu sumber ide?” Dia langsung jawab, “Setuju banget! Karena di sanalah aku bisa apa adanya tanpa ditutup-tutupi. Jadinya ya… gitu deh! Ada pencerahan gitu…” Teman saya itu menganggap KM sebagai tempat “penyucian diri”! Hehehe… betul juga, saya pikir.

Sambil mandi, kadang-kadang saya bersiul-siul menyenandungkan lagu yang saat itu terlintas. Tetapi kadang nada-nadanya berubah, mengalir sendiri dan merangkai notasi baru dari lagu yang saya sendiri belum pernah kenal: saya mencipta lagu! Sayangnya, tak pernah nada-nada itu saya rekam. Dan ketika saya coba menranskripnya sesudah mandi, hilang nada-nada itu. Jadinya, lagu itu tak pernah ada sama sekali. Sayang… mungkin saya kurang berbakat menjadi pencipta lagu.

Notasi lagu di kamar mandi hanyalah sebagian saja dari segudang ide yang pernah berpendar di sana. Kadang pendaran itu begitu terang dan membekas lama dalam ingatan, namun kadang hanya sebentar saja dan segera hilang begitu “hajatan” itu selesai. Selanjutnya bagaimana pengaruh si ide-ide itu, tergantung pada orangnya:

🙂 Bayangkanlah dia seorang penulis puisi, cerpen, novel, atau penulis skenario film (bahkan mungkin skenario terror, jangan ah!)!

🙂 Bayangkan seandainya dia seorang politikus, anggota DPR-MPR, pemimpin partai, atau politikus tingkat kabupaten, kecamatan, kelurahan atau kampung. Bayangkan pula dia seorang wapres atau presiden!

🙂 Bayangkan dia seorang pengamat budaya, pengamat politik, pengamat linkungan, dosen, motivator, trainer, pemikir, filusuf, teolog, da’i, pastor, pendeta, dramawan, aktor, penari …

🙂 Jangan lupa pula bayangkan dia pengusaha pupuk, tukang sedot WC, petani, bakul jengkol, pemilik bank, pengusaha restoran, manager hotel, manager swalayan, pemilik pom bensin, juragan sabun, direktur LSM …

🙂 Jangan ketinggalan bayangkan seorang wartawan, dan blogger… (hehehe…)

🙂 dan Anda sendiri …

Saya kok jadi kepengen memperoleh gambaran, berapa prosen sumbangan pengaruh ide dari comfortable room itu dibanding dari “situs-situs” lain terhadap langkah seseorang mengambil keputusan untuk hidupnya, untuk karirnya, untuk perusahaannya, dan untuk hajat hidup orang banyak. Adakah yang punya info? (kasih tahu donk!) 🙂

Lampu IdeBerapa pun prosentasenya, saya kok sangat yakin ada. Pernahkah Anda buang air besar atau mandi tanpa terbersit gagasan sedikit pun mengenai dunia Anda? Mungkin saja sih, karena memang ada orang yang berlama-lama di ruangan itu untuk merasakan kenikmatan anal atau genital semata (hehe… sorry!), atau sekedar memanjakan diri seperti ditawarkan oleh iklan sabun atau krim kecantikan di TV. (Nah lho, kamar mandi menjadi sumber ide iklan!)

Di WC, tauuuuk...!!Saya mau buka sedikit rahasia seorang teolog Katolik di negeri kita. Kebetulan beliau adalah dosen saya dulu waktu di Universitas Sanata Dharma Jogja. Namanya Dr. Tom Jacobs, SJ. Dalam satu kesempatan kuliah beliau meminta mahasiswanya untuk mengkritik buku Iman Katolik yang beliau susun. Dasar mahasiswa paling suka ngritik, ibarat gayung bersambut, mereka pun memberondong buku referensi umat Katolik itu dengan kritikan. Pada sesi tanggapan sang dosen, Romo Tom (begitu beliau akrab dipanggil) bertanya, “Kamu tahu nggak, di mana saya menyusun materi untuk buku itu?” Mosok pertanyaannya kayak gitu? Di ruang kerja? Perpustakaan? Ruang doa? Kapel? “Di WC tauuuk..!?” Kami semua terperanjat mendengar keterangan itu. “Jadi layak, bila ada kekurangan di sana sini,” beliau berkilah.

Busyet! Tapi masuk akal sekali toh? Jawaban itu sangat jujur dan tulus. Kami tertawa karena seakan disadarkan oleh satu fakta keseharian yang naif namun sangat momental: detik-detik berteologi di WC!

Ungkapan senada yang tidak kalah jujurnya disampaikan pula oleh dosen yang lain. Beliau adalah dosen teologi moral, yakni Dr. B. Kieser, SJ. Dengan sedikit bergurau dia pernah bertanya di depan kelas, Siapkan pantatmu!“Dengan apa sebetulnya kita berteologi?” Para mahasiswa berpikir keras: dengan iman? Dengan akal budi? Dengan hati? Dengan pengalaman keterlibatan? Sang dosen hanya bergeleng kepala, dan dengan mimik serius beliau memberikan jawaban yang benar-benar di luar dugaan, “Dengan pantat! Bokong-lah yang paling berjasa. Seorang teolog membaca, merenung, berpikir, terus menulis sambil duduk toh?! Jadi, awas! Pantatmu itu aset berteologi!” (hehe…yang terakhir sudah saya edit!) 🙂

 

So, mari tersenyum dan mensyukuri saat-saat penuh anugerah di ruang kecil itu. Don’t miss it! Siapa tahu dari sanalah dunia Anda berubah. Dan jangan kecut, kalau akhirnya ketahuan bahwa kebijakan-kebijakan politis di negeri kita, bahkan di dunia ini, semula terlahir dari saat be’ol di WC dan kerja keras si pantat! *** 🙂

Permalink 8 Komentar

Gelombang Cinta, Jenmanii vs Padi

1 Oktober, 2007 at 6:11 AM (Anekdot, Intermeso) (, , )

Anthurium - Lat. buntut babi.Malam Minggu, 16 September 2007 lalu saya tidur di Jogja, di rumah. Seperti biasa saya mendengarkan siaran wayang kulit. Saat itu ada siaran langsung dari sebuah stasiun radio swasta niaga lokal dengan dalang Ki Seno, putra mendiang Ki Suparman. Kurang saya perhatikan apakah saat itu bagian Limbukan atau Goro-goro ketika Ki Dalang menyinggung suasana masyarakat Jogja yang sedang demam tanaman hias: Anthurium!

Baca entri selengkapnya »

Permalink 7 Komentar