Lambaikan benderamu, Nak!

21 Agustus, 2008 at 3:09 AM (Insight, Pijar Optimisme, Reflection) (, , , , , )

Lambaikan benderamu, Nak!
Lambaikan benderamu, Nak!
Originally uploaded by BornJavanese

Suasananya masih seputar perayaan HUT kemerdekaan RI ke-63. Presenter di radio, televisi maupun kegiatan off-line menanyakan kepada responden tentang makna kemerdekaan, “Apa arti kemerdekaan buat Anda?”

Sduuuuuuu….t!!! Aku yakin dengan dugaanku, bahwa pertanyaan itu mengajak responden untuk mengambil jarak dari tataran realitas ke tataran ide. Dalam kehidupan sehari-hari, insidensi demi insidensi, tak pernahlah orang serta-merta berpikir mengenai yang namanya arti atau makna sesuatu! Separasi dan distingsi logis terhadap realitas hidup memang memerlukan intensitas kegiatan kepala dan hati yang luar biasa. Tak semua orang sempat melakukannya. Alhasil, ketika pertanyaan itu ditujukan kepadanya, mau tak mau dia harus merenung sejenak kalau tak ingin jawaban yang ngawur! Sekurang-kurangnya supaya dia dapat memberikan jawaban yang sedikit intelek dan prestigious. Bahwa sesudah acara tanya-jawab itu selesai kemudian idenya hilang tertiup angin, no problem, I don’t care!

Namun, menjawab pertanyaan itu jelas penting! “Kemerdekaan” atau “kebebasan” adalah salah satu nilai dasar untuk hidup bermoral dan beretika, baik untuk diri sendiri maupun untuk hidup bersama. Itulah kepentingannya! Dan jawaban personal atas pertanyaan itu lebih bernilai moral daripada latah ikut-ikutan.

Para politisi dan aktivis sering menggarisbawahi bahwa sebenarnya kita belum merdeka seratus persen dari penjajahan. Bagi saya sih, itu brilliant menggugah namun sekaligus menjebak! Menggugah karena membuat orang tersentak dan tersadar akan realitas negatif hidup ini. Menjebak, karena bisa meneguhkan agresi dan kecenderungan untuk lebih percaya pada realitas negatif daripada realitas positif yang senyatanya juga ada!

Ditanya atau tidak, setiap manusia itu telah hidup dalam kemerdekaannya, tak peduli dia dipenjara atau tidak. Begitu dia itu manusia, begitupun terbentang jalan untuk mewujudkan kreativitasnya! Manusia memang tercipta untuk gigih mewujudkan hidupnya sebagai makhluk yang berbudi, bukan sebagai makhluk liar.

So, yang kiranya lebih penting ditanyakan, seandainya saya seorang presenter, adalah “Apa yang Anda perbuat bertolak dari kemerdekaan Anda?”

Begitulah Anda mengibarkan bendera! [skd]

3 Komentar

  1. tri sj said,

    Aku mau belajar dari Pemazmur: “kamu dipanggil untuk kemerdekaan, maka abdilah satu sama lain dalam cinta kasih”

  2. Kandar Ag. said,

    Mengabdi satu sama lain dalam cinta kasih! Itulah makna kemerdekaan, ya Woooo…
    MERDEKAAA…!!!🙂

  3. nancy said,

    “Apa yang Anda perbuat bertolak dari kemerdekaan Anda?”
    ========================

    Saya menyangkali kebebasan itu jika tiada daya melawan keinginan daging (baca=nafsu). Dengan melayani keinginan daging, saya tidak lagi bebas melakukan apa saya suka, melainkan tunduk pada apa yang tidak saya suka.

    Bravo, Mas Kandar! I like how you draw insight from the surrounding.

    Gimana,apa si kecinya sudah sudah lahri?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: