Zona “keheningan”

22 Februari, 2008 at 12:05 PM (Insight, Pergulatan, Reflection) (, , , , , , , , , )

Start working from and within silence!

Sudah seminggu ini wallpaper desktopku di kantor aku kasih gambar 2 ekor burung favorit dengan tulisan di bawahnya, “Start working from and within silence!”. Maksudnya supaya aku terbantu untuk mengkondisikan diri supaya selalu berada dalam suatu awareness tertentu.

Akhir-akhir ini aku memang sedang keranjingan terinspirasi oleh satu kata itu: “silence” (hening, keheningan). Di blog-ku yang lain kata itu bahkan menjadi subyek utama di blog description-nya: “Listen up! What is silence telling you about delightful living?” Lagi-lagi sebuah paradoks terasa begitu nyata termuat dalam kata “hening” dan pemaknaannya.

Mungkin subyektif kalau kata itu – “hening” – terasa lebih teduh dan sejuk daripada “diam” (Di kepala ini terngiang-ngiang orang perintah-perintah, “DIAAAAM…!!!” Kan gak ada orang perintah, “HENiiiiiiing…!!!” Aneh, kalau ada!). Ada semacam getaran damai daripada gejolak yang menyesakkan dada. Mungkin karena suku kata “-ning” itu, hadirlah pula kenangan dan sensasi dari kata “bening”, “wening” (Jw.). Sedangkan “diam” seolah bertalian erat dengan “bungkam”, “hitam”, “legam”, “kelam”, “benam”, “suram”, “tenggelam”,… Entahlah, aku bukan mantan mahasiswa jurusan bahasa Indonesia atau apalagi ahli bahasa. Namun aku yakin, dua kata itu menebarkan efek mental yang berbeda. Betapa aku “menjadi” suka akan kata “hening” daripada “diam”. Yang pertama lebih berdaya pikat penuh simpatik dan mempesona daripada yang kedua. )

Secara inderawi bisa jadi halnya terkesan sama: aku tidak mengucapkan kata-kata. Namun bisa jadi dalam hati ada umpatan atau suara gemuruh seperti gumpalan-gumpalan emosi yang menguasai dan seolah mau terlontar dari kencangnya leher ini. Hati pun tidak tenang, meski mulut diam.

Pada saat itulah aku merasa bahwa ada sesuatu yang harus diterima, ditata, dikunyah, dan dicerna agar merasuk menjadi bagian vitalitas diriku. Sepertinya ada zona di mana banyak godaan untuk bertindak reaktif atau bahkan rejektif spontan dan serta-merta. Tetapi ada pula zona di mana reaksi dan rejeksi spontan itu diurungkan dan menyublim menjadi sebuah tanggapan yang matang menggairahkan, menyegarkan dan menghidupkan jiwa. Itulah mungkin zona keheningan hati yang memungkinkan seorang pribadi mengalami pertumbuhan, transformasi atau bahkan transfigurasi.

“These things will destroy the human race:
politics without principle,
progress without compassion,
wealth without work,
learning without silence,
religion without fearlessness
and worship without awareness.” 
~ Anthony de Mello
Tapi sulit ya, membedakan antara (ke)sepi(an) dan (ke)hening(an)? 🙂

5 Komentar

  1. sigid said,

    Mas, apakah “hening” bisa diartikan “sejenak melupakan hal duniawi” yah?
    Eh, membaca kata “Awareness” dan “De Mello” jadi ingat bukunya mbah “De Mello” yang judulnya “Awareness”.
    Mas Kandar, saya punya pdfnya lho, menawi dereng kagungan lan kerso saget kulo cantolken wonten email😀

  2. Kandar Ag. said,

    Pemahaman saya mengenai “hening” lebih mengenai sikap batin, deh. Dalam bahasa umum mungkin seperti itu, karena biasanya kita ini suka membedakan antara yang duniawi dan surgawi/rohani. Padahal pembedaan itu hanya distingsi logis saja bukan distingsi riil yang memisahkan seolah-olah ada dua realitas yang terpisah sama sekali.
    Saya lebih demen mengartikan “hening” itu justru membawa masuk hal-hal “duniawi” itu ke dalam realitas sesungguhnya supaya akur dengan hal-hal “rohani”. Hening berarti membuka akses ke “sana”, membuat link ke “dunia atas”.

    Hehehe…boleh tuh pdf.nya. Bahasa Inggris ya?
    Eh, matur nuwun tilik di blog manuk saya…. 🙂
    Berkah Dalem!

  3. soleilunatics said,

    hening itu sepi dan sepi itu mati…tul kan mas? kalo orang mati pasti sunyi senyap…

    kalo di bali ada hari raya nyepi..nah pada saat itulah orang bali mesti hidup dalam sepi, dan kita harus hidup dengan segala kematian, baik itu mati lampu (dilarang menyalakan lampu atau api), mati makan (dilarang makan),mati bepergian(dilarang untuk bepergian) dan mati untuk tidak bekerja( dilarang untuk bekerja)
    di harapkan setelah proses itu masyarakat di bali di ajarkan untuk menghargai sumber daya alam dan dipergunakan sebaik baiknya…..

    dan juga kita mesti bisa untuk menghargai yang namanya hidup…

  4. Kandar Ag. said,

    Betul, Mas…
    Pada gilirannya memasuki keheningan itu sama juga dengan belajar tentang kematian agar bisa mensyukuri semua karunia di dalam hidup kita.

    Oh, ya… tgl. 7 Maret 2008 kemarin Hari Raya Nyepi ya!
    Selamat Merayakan HR Nyepi, semoga semakin matang kehidupan yang dijalani sekarang ini!

    Berkah Tuhan!

  5. jarwo said,

    “Hening”

    “Kala malam, tiada berbintang ….
    matahari bersinar terang….
    kutermenung, menatap alam…
    embun pagi, dan rerumputan….
    kicau burung, menyapa alam……”
    (silahkan syair yang tak beraturan itu diendapkan dalam keheningan agar tersusun rapi teratur, indah bermakna)

    ada lagu “hening” pernah dikumandangkan Krisye yang telah “hening” di alam baka dan meresakan betul arti “hening”: tetep, tenang, mengendap, tak bergeming….di dalam pusara.
    Kata sang guru, hening adalah cinta, ilahi, adalah Tuhan.
    apa itu hening? Hening adalah “ssssttttt….!”
    salam hening ….SStttttt…..!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: