“Sabda Alam” dari kebun

4 Februari, 2008 at 4:19 AM (Analogi, Insight, Pijar Optimisme, Reflection, Spiritualitas) (, , , , , , , )

Aku dan istriku sama-sama suka berkebun. Suatu ketika kami berdua asyik mengganti pot dan media tanam yang sudah terlalu lama. Beberapa tanaman telah tumbuh lebat. Apalagi tanaman merambat sejenis philodendron. Beberapa kami pindahkan ke pot gantung, beberapa kami pangkas untuk dibuang. Asyik sekali kami seharian mengerjakannya.

Di hari-hari berikut setiap pagi aku selalu mengamati pertumbuhan mereka. Aku rasa, itulah saat paling mengasyikan dari kegemaran gardening. Pertumbuhan sebuah tanaman pun bisa menjadi penghiburan yang menyegarkan jiwa. Tunas yang kemarin baru berupa gulungan lancip, hari ini telah mengembang menjadi lembaran daun hijau muda nan segar. Batang tanaman merambat semakin melingkari ijuk rambatannya ke arah datangnya sinar mentari. Bungkusan-bungkusan kelopak bunga yang kemarin masih rapat, pagi ini telah terbuka dengan mahkota bunga yang mekar tampak “ceria”.

Kalau semua detil pertumbuhan mereka itu tidak sempat terperhatikan, mana mungkin kita menyaksikan sebuah pagelaran (skenario) kehidupan adegan demi adegan yang terselenggara begitu indah di depan mata? Dan lihatlah, tumbuhan itu berbagi kisah tentang hidupnya. Dengarlah, alam memang sedang bersabda! (Hehehe…ingat lagunya ChrisyeSabda Alam“) 🙂

Pagi ini aku menangkap satu kisah dari tanaman rambat yang dipencarkan minggu lalu oleh istriku dengan cara stek. Dalam satu pot istriku menanam beberapa batang stek. Pagi ini mereka sudah tampak subur lagi. Beberapa malah ada yang sudah menjulurkan tunasnya yang baru.

Tetapi, heiii…! Ada satu batang yang pucat dan layu, daunnya menguning. Apa yang terjadi padanya?! Ya ampun… ternyata batangnya tertanam terbalik! Ruas batang yang lebih muda-lah yang terbenam di tanah!

Entah mengapa, demi menyaksikan hal itu, tiba-tiba di dadaku ada perasaan sesak, buntu, disorientasi, keputusasaan, gambaran “kepala untuk kaki dan kaki untuk kepala”, kelelahan, lemas…layu! Aneh, mengapa perasaan-perasaan itu muncul, padahal aku oke-oke saja!

Aku cabut batang yang layu itu untuk ditancapkan kembali secara benar. Eh, sejenak hatiku terhibur dan kebuntuan tadi menjadi terurai ketika melihat ada tunas yang tumbuh dari ketiak ruas yang tadi tertanam secara terbalik itu. Tunas itu tumbuh membelok ke arah permukaan.

Pikiranku melayang ke perkiraan-perkiraan seandainya batang terbalik itu tidak aku cabut:

  • Batang yang tadi melayu lama kelamaan akan kering dan mati, lalu terlepas dari bagian ruas yang tumbuh tunas baru itu.
  • Tunas itu akan terus tumbuh sebagai individu baru dengan arah tumbuh yang benar, “kaki sebagai kaki, dan kepala sebagai kepala”.

Namun itu hanyalan dugaan yang belum aku buktikan, karena aku sudah terlanjur mencabutnya dan mengoreksi posisi tancapannya. Aku enggan untuk bertaruh dengan perkiraan-perkiraan itu. (Hehehe… baru kepikiran sekarang untuk menguji dugaan itu!) 🙂

Sampai di sini saja aku sudah sempat memetik “daun-daun sabda” dari kisah tanamanku itu. Barangkali terlalu membosankan kalau aku tuliskan panjang lebar daripada beberapa butir insight ini:

  • Salah berpijak akan beresiko kelelahan dan layu karena energi dan potensi diri habis untuk mencari orientasi yang benar, untuk merevolusi diri dan menempuh detour untuk lepas dari kebuntuan.
  • Energi hidup, betapapun kecilnya itu, tetap mampu memberi kekuatan tumbuh, pertanda kehidupan, bahkan hidup sebagai individu yang “baru” dengan pijakan yang benar.
  • Pada saat yang tepat, dengan maksud yang benar dan cara yang benar, intervensi dari pihak luar akan sangat membantu sebuah proses pertumbuhan hidup. Namun bila intervensi itu justru menjerumuskan, menjebak dan memaksa kita untuk berada dalam situasi sulit, saat itulah kita musti kembali menyadari dan merevitalisasi potensi-potensi dasar yang telah given dalam diri kita. Bila itu terjadi, apa yang terkesan sebagai jalan buntu ternyata bukanlah kiamat!

Hmmmm… percaya atau tidak, itulah sepenggal “sabda alam” yang menyampaikan sebuah kebijaksanaan bagiku (manusia).

Terpujilah Allah Sang Maha Pencipta, sekarang dan selama-lamanya. Amin. ***

1 Komentar

  1. sigid said,

    He he, mas Kandar ini pandai mengambil kebijaksanaan dari alam yah😀
    Jadi ingat “Dipanggil Untuk Mencinta”-nya De Mello, istilah dia, mendengarkan simphoni kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: