Aku turut merasakan getar gema Idul Fitri

13 Oktober, 2007 at 8:15 AM (Spiritualitas, Syukur) (, , , )

Lebaran 1428 H ini aku tidak mudik. Ini Lebaran keempat tanpa berkumpul dengan keluarga dan kerabat di kampung semenjak aku bekerja di Jakarta. Aku mudik pada perayaan Natal dan Paskah.

Meskipun menganut iman Katholik, ketika masih bekerja di wilayah Jateng-DIY dulu, setiap Lebaran aku pasti pulang ke rumah di Kulonprogo Jogja. Lebaran bagaimanapun juga turut menjadi hari istimewa bagi keluargaku. Keluarga besarku non-muslim. Namun kami turut menyambut dan merayakannya juga.

Dulu ketika masih kanak-kanak hari Lebaran sangatlah dinanti-nanti, hitung mundur dengan harapan suapaya hari itu cepat datang. Apalagi kalau bukan berharap memakai sepatu baru, baju baru, main petasan dan tentu saja…uang saku dari keluarga-keluarga yang kami kunjungi bersama teman-teman sebaya!🙂 Jumlah anak-anak kecil di kampungku sekarang ini tidak sebanyak jamanku dulu. Lebaran terasa tidak meriah tanpa rombongan anak-anak.

Sudah menjadi tradisi setiap Lebaran kerabat dekat maupun jauh, baik yang muslim maupun non-muslim selalu “ujung” ke rumahku, tempat tinggal mendiang kakek dan nenek.  (Ujung = istilah untuk menyebut aktivitas silaturahmi Lebaran). Kakek dan nenek sudah lama tiada. Yang mendiami rumah kini tinggal bapak sebagai anak bungsu, dan ibu saja. Rupa-rupanya sesudah kakek dan nenek meninggal, rumahku masih menjadi “jujugan” kerabat kalau mereka pulang dari rantau, terutama pada hari Lebaran seperti ini. Kesejukan rumah keluarga besar kakek dan nenek yang kini kami tinggali itu rupa-rupanya masih menghadirkan suasana romantisme bagi mereka. Lagipula, kini bapak sudah dituakan di antara kerabat dan sanak saudara kami. Setiap Lebaran rumahku pasti ramai tamu. Dan tak jarang beberapa tamu yang masih memegang tradisi “ujung” itu, berlutut di hadapan bapak untuk menyampaikan niat bersilaturahmi: mengakui kesalahan dan mohon maaf. Selama itu terhidang penganan Lebaran seperti umumnya, dan yang tidak ketinggalan pasti ada tape ketan dan emping melinjo buatan ibu.

Betul adanya kalau Hari Raya Lebaran yang diwarnai arus mudik dan arus balik adalah hajatan massal di negeri kita. Siapa pun tanpa memandang golongan atau agamanya turut merasakan getar gema doa takbiran dan roh silaturahmi Idul Fitri. Sekurang-kurangnya aku turut merasakan getar gema itu…

Ada satu hal yang menarik untuk diceritakan di sini. Pemudik Lebaran bukan hanya kaum muslim saja. Nyatanya, selama puluhan tahun saya berlebaran di rumah Jogja saya ketemu dengan wajah-wajah rantau di gereja pada saat menghadiri “Misa Idul Fitri”! Kedengaran aneh bukan? Tetapi begitulah kami menyebutnya. 1 Syawal pagi saat saudara-saudari muslim berbondong-bondong ke lapangan kelurahan untuk melaksanakan sholat Id, saat itu pula kami umat Katholik turut dalam bondongan itu menuju gereja untuk melaksanakan misa. Bukan karena hari Minggu, tetapi misa itu memang diadakan khusus untuk turut “ngombyongi” Hari Raya Lebaran! Sesudah misa, acara salam-salaman di depan gereja pun terjadi selayaknya orang berhalal bihalal.

Mungkin ada yang bertanya, misa seperti apa itu? Sebetulnya misa “biasa”. Hanya saja menjadi istimewa karena yang dirayakan pada saat itu – yakni misteri pengampunan Allah yang dikonkretkan dengan saling mengampuni di antara sesama manusia – mendapatkan konteks yang sangat sesuai yaitu Idul Fitri. Salah satu frase dari doa inti dalam perayaan misa kudus, yakni doa Bapa Kami, berbunyi demikian, “Berilah kami rejeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.” Bapa Kami adalah doa yang diajarkan oleh Yesus Kristus sendiri kepada pada murid-Nya.

Ampunan dari pihak lain, tidak saja hanya dalam rangka Idul Fitri namun dalam hidup bersama sehari-hari, merupakan tindakan yang kita harap dan bahkan kita mohon.

Saling mengampuni dan memaafkan dengan demikian menjadi tindakan berbagi dan saling mengabulkan doa. Sungguh, hal ini menyatakan tindakan ilahi yang diragakan oleh sesama insan berdosa.

Kita tahu apa yang kita harap dan mohon, pada saat yang sama bergema perintah untuk mewujudkan harapan dan permohonan itu bagi sesama: pengampunan.

Kita mohon diampuni, pada saat yang sama secara imanen bergema di dalam hati nurani kita perintah untuk mengampuni. Setiap orang bisa mempertimbangkan kesejajaran insani seperti ini: tindakan memaafkan akan menjadi ukuran pengampunan untuk diri kita sendiri. Kita dimaafkan sejauh kita memaafkan! Allah Maha Pencipta telah menganugerahkan berkah kemampuan itu sejak Ia menciptakan manusia baik adanya.

Realitas pengampunan tentulah bukan sekedar tindakan seremonial belaka, apalagi hanya artifisial. Pengampunan paripurna memang semata-mata hak Allah, namun manusia dapat mengambil bagian dalam tindakan ilahi tersebut. Kalau tidak, bagaimana kita bisa memaknai silaturahmi seperti Idul Fitri ini?!

Mengampuni nyata-nyata merupakan tindakan re-creation yang menyegarkan jiwa. Aksi itu mengembalikan energi hidup yang telah tercerai-berai dalam pemborosan ketika kita melukai hati sesama insan, ketika kita berdosa terhadap sesama makhluk milik Sang Pencipta. Dengan mengampuni dan diampuni kita menghadirkan kembali realitas awal yang suci dan bersih, kembali ke fitrah untuk melangkah ke depan dengan kesegaran jiwa dan kegembiraan.

Idul Fitri mestinya bisa sungguh menjadi perayaan iman keagamaan akan pengampunan ilahi ketika sesama insan berdosa saling memperagakan tindakan ilahi itu.

Selamat merayakan Idul Fitri 1428 H.
Rasakanlah kebahagian menerima ampunan
seperti kebahagiaan memberi ampunan!

Kandar Ag.

2 Komentar

  1. Jarwa said,

    Podho, Ndar. aku juga gawe kupat lepet lan apem, sedaya lepat luput nyuwun pangapunten. isitilahe: ujung karo bapak-ibu lan kerabat. Malah ketika aku di kampung dulu, kami yang katolik juga puasa. Maka ketika Romo datang, tak jarang ada pertanyaan: Rama, punapa pasa kula batal punapa boten menawi nampi komuni? …Aneh, tapi nyata. betul kata Waljinah dalam lagu: ..”kecik-kecik, kecike manila; sing becik dienggo dibuang banrang sing ala….” atau… menurut Nostra Aetate (Dokumen Konsili Vatikan II) Gereja tidak menolak apapun yang baik dan benasr dari agama-agama lain…… seraya mewartakan Kristus sebagai satutunya jalan, kebenaran, dan kehidupan.

    minal aidin wal faizin

  2. binchoutan said,

    kalau saya malah sebaliknya, saya muslim cuma di keluarga saya ada yg merayakan natal (dan nyepi). hohoho Bhineka Tunggal Ika.. sama kayak kamu.. saya suka nunggu hari Natal tiba, coz boleh ngambil hadiah dibawah pohon natal.
    ( ^ ^ )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: