Do you believe in prediction?

25 September, 2007 at 1:24 PM (Bencana, Commentary, Gempa, Insight, Reflection, Spiritualitas)

Bangun tanggul perlindungan. Lais - Bengkulu Utara.Belakangan sedang ramai desas-desus di internet tentang prediksi para ahli geologi dunia bahwa akan terjadi gempa yang lebih dahsyat dibanding gempa Bengkulu kemarin. Gempa tersebut sangat berpotensi menimpa wilayah sepanjang pantai Barat Sumatra!

“There is a strong indication this foreshadows the big one,” said Danny Hillman, an earthquake specialist at the Indonesian Institute of Science. “We all agree there is an 8.5 or stronger earthquake waiting to happen.”

Begitulah tulis CNN dalam pemberitaannya (baca Experts warn ‘big one’ may yet hit Indonesia – CNN.com;  Indonesia’s big one ‘on its way’CNN.com).

This is a bad-news or a good-news?

Pertanyaan ini serta-merta mengganggu pikiran saya dalam perjalanan keretaapi dari Jakarta ke Jogja Jumat malam, 21 September 2007 lalu. Salah seorang teman saya sekantor malah menge-print e-mail yang berisi prediksi itu dari sebuah kelompok milis kemudian menempelkannya di papan. Karuan saja, e-mail itu sempat membikin heboh di antara teman-teman. Sulit untuk tidak mengatakan bahwa isi e-mail itu berita buruk.

Tetapi anehnya, mengapa saya masih mempertanyakan apakah ini berita buruk atau berita baik! Usut punya usut, ternyata saya tertarik pada efek dari sebuah prediksi, dalam hal ini prediksi buruk berupa bencana gempa yang lebih dahsyat. Lain dari informasi mengenai fakta atau event historis, informasi mengenai adanya sebuah prediksi langsung memancing orang untuk menjawab pertanyaan, “Percaya gak ya?” pertama-tama untuk dirinya sendiri.

Seorang ilmuwan tentu akan menkaji validitas dari prediksi tersebut. Fakta-fakta empiris yang koheren akan menjadi dasar pemahaman induktif. Semakin banyak data yang koheren, semakin kuatlah menumbuhkan pemahaman induktif yang patut “dipercaya”.

Beda ilmuwan, beda orang awam. Prediksi, apalagi yang dirilis oleh lembaga tingkat dunia akan dengan mudah dipercaya seolah-olah fakta yang diprediksikan itu pasti terjadi demikian. Imaginasi awam terstimulasi dengan aselerasi luar biasa dan menciptakan fakta-fakta imaginatif dalam kepala. Biasanya pengandaian buruklah yang menjadi panglima pikiran. Akibatnya adalah kekhawatiran dan ketakutan yang cukup kuat untuk menggerakkan refleks kepanikan. Dalam kondisi seperti itu biasanya muncul tindakan-tindakan irrasional. Tak sempatlah rasional!

Lain lagi para pengambil kebijakan publik dan tokoh politik. Prediksi buruk bisa dipolitisir, artinya menjadi isu politis yang (lagi-lagi) kreatif dan imaginatif! Di satu pihak mereka berpikir mengenai proyek antisipasi (baca: menyusun anggaran untuk mengambil langkah-langkah antisipatif berdasarkan prediksi itu). Di lain pihak mereka bertaruh dengan keputusan dan tindakan politis yang patut diambil. Apa yang dipertaruhkan? Apalagi kalau bukan kepercayaan! Bukankah dasarnya adalah prediksi tentang bencana? Bila bencana “akhirnya” tidak terjadi, publik tak akan marah. Tapi – namanya juga prediksi – siapa berani menjamin dengan sungguh yakin bahwa bencana itu tidak akan terjadi? So, pertaruhan belum berakhir!🙂

Mau lebih seru lagi? Bertanyalah kepada paranormal, atau orang-orang yang mempunyai talenta khusus berupa indra ke-enam, atau mereka yang mempunyai kemampuan menembus dimensi metafisik! Jangan salah sangka, hal-hal kayak ginian populer juga di negara-negara maju, taruhlah Amerika! Hari Sabtu lalu, 22 September 2007, MetroTV menayangkan Talk Show-nya Oprah Winfrey dengan tema dunia supranatural, “Do you believe?” Dihadirkan dalam program itu “pakar-pakar” supranatural yang mempunyai kemampuan melihat hal-hal yang akan terjadi. (Sayang sekali, saya tidak sempat melihat tayangan itu karena terlambat tahu. Saya hanya membaca jadual dan sinopsis acara TV di koran Kompas hari itu!)🙂

Di antara sekian banyak segmen masyarakat itu (Anda bisa menambah sendiri) kira-kira manakah yang lebih mempunyai peluang paling populer untuk menjadi frame of referrence? Saya tak tidak tahu, karena perkaranya adalah soal to believe or not to believe!

Bagaimana dengan tanggapan kaum ulama atau orang beragama yang nota bene sangat berkepentingan dengan soa-soal yang bersinggungan dengan belief? Dimensi empiris diperjumpakan dengan dimensi transendental religius. Mereka ditantang untuk menterjemahkan iman agamanya dalam konteks hidup konkret (isu prediksi bencana ini) supaya iman dan ajaran agamanya tetap terasa sejuk namun berwibawa, dan smart! 🙂

Prediksi bencana yang dihembuskan CNN itu tampaknya sangat berseberangan dengan “Deo gratias! We are the blessed ones!” Wah! Slogan “saleh” seperti itu bisa dinilai kentut bau yang membuat jengkel, tanpa simpatik sedikitpun pada mereka yang sudah terlanjur panik demi mendengar prediksi buruk itu. Samasekali tak berarti bahkan kontradiktif! Bukankah akan terdengar lucu kalau dibilang begini: “Deo gratias! We are the blessed ones… sebentar lagi kita akan mengalami gempa yang lebih dahsyat!” Gila apa?!!! Blessing macam apa itu?!

Maaf seribu maaf!
Kayaknya pertanyaan “This is a bad-news or a good-news?” tadi jadi terasa tricking dan menjebak karena pertanyaan berikut rasanya lebih penting: “So what?”

Barangkali kita ini sudah terlanjur terpola oleh paradigma jual-beli, termasuk dalam relasi kita dengan Tuhan. Aku sudah memberi, maka selayaknya (semestinya) menerima. Aku sudah membeli nikmat dan berkah dengan amal ibadah-ku, jadi selayaknya (semestinya) Tuhan memberikan itu semua kepadaku! Do ut des! – saya memberi supaya Anda memberi! Paradima seperti ini bisa menutup mata hati kita terhadap nikmat dan anugerah yang telah berlimpah diberikan sampai sekarang ini from the time being. Paradigma itu juga akan dengan mudah menjerumuskan kita untuk secara gampang menghujat ketika kita berada dalam keterancaman.

You are the blessed one!Padahal, kalau dipikir-pikir, bukankah kita ini menerima blessings duluan daripada semua bencana? Bukankah kita bisa mengembangkan gagasan bahwa blessings diberikan supaya kita mampu menghadapi segala sesuatu? Bagaimana bila gagasannya menjadi “So the blessed are we, the blessings we are for others!” Orang yang telah terberkati menjadi berkat bagi yang lain! Inilah peran yang melekat pada martabat kemanusiaan kita. Apakah martabat itu memudar dalam situasi keterancaman?

Memang lebih mudah kita memposisikan diri sebagai obyek penderita daripada subyek yang sadar akan perannya. Informasi mengenai prediksi bencana yang lebih besar memang cenderung memompa mental bahwa kita ini benar-benar malang! Kok ya kita yang akan kena, bukan orang Amerika sana, misalnya (hehe… I’m sorry, Sir! Biasanya Amerika sering didoakan sejelek-jeleknya! – hanya ngamati kok🙂 Apalagi prediksi ini kan hembusannya dari sana….). Nah lho!
Begitu pula kita lebih mudah terhasut dan menjadi bulan-bulanan informasi daripada meyakini martabat kemanusiaan kita secara lebih positif. Padahal bukankah martabat manusia lebih pasti dibanding prediksi manapun? Jangan lupa, prediksi itu juga produk dari kemampuan inteligensi sesosok makhluk yang namanya manusia!

Jadi (sekali lagi maaf beribu maaf!), pertanyaan “Do you believe in prediction?” tadi mestinya disertai dengan pertanyaan “How do you believe in your dignity?”! Keyakinan akan peran yang musti diemban yang melekat pada martabat manusia, pada waktunya akan lebih bermakna daripada jawaban percaya atau tidak pada prediksi bencana buruk itu. It’s the time to live the dignity!

Thanks for the prediction, we can anticipate everything. It’s better than suffer from an immediate disaster without any warning.

My brothers and sisters, let’s have faith! Let’s pray for the blessings given to us. God be with us! Amen.

Kandar Ag.
BeautifyTheWorld

4 Komentar

  1. Nesiaweek said,

    Luar biasa, Bung… Modernitas, dengan kapitalisme sebagai tulang punggungnya, memang telah membuat manusia menjadi makhluk monodimensial, dengan potensi yang sangat terbatas. Padahal, kita jauh lebih dari sekadar itu.
    Thank you for reminding us about our dignity!
    Hebat!

  2. Jejakkakiku said,

    kalo pertanyaannya diganti jadi, ‘do you believe in yourself?’ itu dulu gimana? hehehe…

    kunjungan balasan🙂

    setuju sama Lae Toga, tulisan yang KEREN!
    Let’s have faith!

  3. Mahendra said,

    jika prediksinya seperti itu ya…50:50, kudu dipertimbangkan prediksi macam itu supaya lebih awas, waspada dan siaga menghadapi kemungkinan bencana besar…..

  4. Nancy said,

    Ada kata-kata yang mirip dan hampir sama artinya namun esensinya berbeda: prediction, speculation, calculation, forecast dan prophecy.
    “Do you believe in prediction?” Yes, kalau itu diertai fakta dan bukti. Bukankan prediction memang kurang lebih berhubungan dengan masalah ilmiah.
    Namun jika ditanya : “Do you believe in prophecy?” ini butuh iman yang lebih tinggi.
    Apa prophecy masih ada sekarang? apakah masih ad jabatan nabi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: