Iiiih… Kentut! Alhamdulillah…!

17 September, 2007 at 7:14 AM (Analogi, Insight, kentut, Reflection, Syukur)

Setiap kali ngerumpi atau sharing soal pengalaman buruk, saya selalu teringat akan kentut! Silakan senyum atau ketawa dulu🙂😀 supaya ingatan akan macam-macam kentut yang pernah Anda kenal ter-replay kembali! Hahahaha…gimana?! Sudah?

GeramAda kentut yang disertai bunyi, ada kentut yang cuma mendesis nyaris tak terdengar. Yang terakhir ini paling menjengkelkan, sebab biasanya baunya gak ketulungan! Orang membauinya, terus entah dengan senyum kecut atau umpatan marah, secara refleks dia akan mencari-cari sumbernya. “Asyeeeem…! Siapa kentut, ha?!” Sementara itu, si penebar aroma cuma menahan senyum sambil pura-pura tidak terjadi apa-apa! Busyeeeet…! Dia sendiri merasakan kelegaan tiada tara, sementara yang lain bisa kelimpungan dibuatnya! Sungguh tidak adil! Sialan!

Namun tidak semua kentut selalu mendapatkan reaksi seperti itu. Kentut jenis ini justru kentut yang ditunggu-tunggu, dinanti-nanti kalau perlu sehari semalam. Kalau belum didapati tanda-tanda keberadaannya atau terucapkan faktanya, orang di sekitar bisa khawatir dan was-was! Dan ketika yang ditunggu datang, atau “Aku sudah kentut!” semua menjadi lega, “Alhamdulillah!”

Nah, yang terakhir ini pernah saya alami ketika dulu untuk pertama kali saya menjalani operasi usus buntu. Ada pesan dari perawat (dan saya nurut saja waktu itu), kalau belum kentut saya belum boleh kemasukan makanan-minuman. Kalau ini dilanggar, akibatnya bisa gawat! Pernah ada yang nekad minum, tak berapa lama kemudian dia meninggal! Waduh, padahal sehari sebelum operasi saya sudah puasa total. Akhirnya saya kentut di sore hari kedua. Kakak saya yang menunggui bilang, “Syukurlah… sekarang kamu pengen minum apa?” Hehe…dia tidak sabar menanti kentutku!🙂

Jadi tinggal pilih, mana sikap yang akan Anda ambil:

Sikap kelompok pertama adalah reaksi penolakan kentut tanpa peduli situasi pe-ngentut. Selanjutnya, ooooh…diri ini betul-betul menderita, dan semakin ekstrem karena dipompa umpatan serta efek-efeknya. Secara definitif, diri ini sungguh sial!

SenyumSimpulSikap kelompok kedua adalah reaksi empati terhadap kentut dan pe-ngentutnya. Selanjutnya, selamat menikmati “kegembiraan” yang tulus tanpa mempermasalahkan kentut orang Afrika, Arab, Amerika, Irak,atau China; kentut bakul tempe, artis atau presiden. Di mana-mana kentut itu ya bau, apalagi kentut orang sakit!

Walaaah… kok “narima ing pandum” bener!

Saya tidak bicara tentang kentut-kentutan, lho! – maksudnya aktivitas saling membalas dengan kentut. Saya tidak bicara soal pengalaman buruk yang direkayasa, seperti halnya kentut yang bisa dibuat – Anda bisa? Saya gak bisa sengaja membuat kentut, sumprit! Saya bicara soal pengalaman buruk yang “given” begitu saja, lebih-lebih yang sifatnya non-human intervention seperti halnya bencana alam. Ketika mengalaminya, biasanya orang akan bicara soal “hikmah” dari pengalaman buruk.

That’s it! Hanya saja yang saya maksud adalah hikmah in a sense of responsible attitude, bukan hikmah yang buta tanpa dimengerti ba-bi-bu-nya!

Terima kasih, sudah membaca uneg-uneg saya tentang kentut!😉😀

Kandar Ag.

Natural-Wisdom

2 Komentar

  1. Ita cemplux said,

    hahahahahahahahahahahahahahahahahaha…………..
    ada bbrp bagian yg bikin aku ngakak Mo……

  2. Brendy said,

    Wakakakakakakkaka

    wetengku mules om..hahahha…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: