Ya Tuhan! Gempa lagi, di Bengkulu!

13 September, 2007 at 6:22 AM (Bencana, Bengkulu, Blogroll, Gempa, Reflection)

Ya Tuhan!

Ironis sekali, belum satu minggu saya membuat account di WordPress.Com dengan blog bertemakan “kabar gembira”, namun tiba-tiba bencana gempa bumi mendera lagi Tanah Air tercinta. Rabu, 12 September 2007 kemarin Bengkulu digoncang gempa tektonik berkekuatan 7,9 SR Skala Richter (SR)! Menyusul tadi pagi gempa di Jambi berkekuatan 7,7 SR!

Semakin merata sudah deraan bencana demi bencana di tanah air, sangat terasa dalam 3 tahun terakhir: gempa, tsunami, lumpur panas, banjir dan tanah longsor!

Dua yang terakhir barangkali lebih merupakan bencana alam karena intervensi manusia melibat di dalamnya. Atas keduanya manusia turut bertanggung jawab, dan sudah seharusnya dia segera meninjau ulang sikap dan perilaku hidupnya untuk memperbaiki relasinya dengan alam yang seringkali terlupakan dan dipandang sebelah mata.

Tetapi bencana-bencana yang lain? Murni bencana alam! Intervensi manusia barangkali pada tingkat zero. Kapan dan di mana akan terjadi sulit sekali diprediksi. Datang begitu saja, dan menghentakkan bukan saja pikiran namun juga hati dan jatidirinya sebagai manusia.

Pada saat itulah eksistensi kemanusiaan betul-betul bertatapan dengan eksistensi universum yang melingkupinya. Kemanusiaan ditatapkan pada gerak universum yang kekuatannya melebihi keunggulan manusia. Kesombongan manusia menjadi tak bernilai sama sekali! Bahkan, tak hanya kesombongan – kata ini terlalu menyoroti sisi negatif manusia -, segala kebaikan, keluhuran, amal-ibadah dan syukur manusia pun seakan menjadi mentah di hadapan mysterium semesta. Persis di tengah-tengah pengalaman yang menggetarkan dan membuat terpana (tremendum et fascinosum) seperti bencana alam ini secara eksistensial manusia seakan mengalami critical spot, dan seolah waktu manusia berhenti karena tertelan waktu semesta.

Serta-merta reaksi yang pertama kali muncul spontan (itu pun kalau sempat) adalah kepanikan disertai jerit ketakutan. Dan yang tertoreh selanjutnya adalah trauma dan sedih menyaksikan apa saja yang terpampang di hadapannya. Selanjutnya kata “kehilangan” bisa tak terucap namun terasa sungguh nyata. “Sesuatu telah merenggut milikku dan menerorku tanpa aku bisa melawannya! Mengapa ini terjadi padaku? Mengapa aku?!”

“Allah Mahabesar! Tuhan Mahaagung dan Mahakuasa!” biasanya menyertai kekalutan tak terkendali itu. Sungguh, sebuah teriakan yang sangat-sangat eksistensial dan menyiratkan identitas kemakhlukan yang percaya dan berharap akan campur tangan Sang Mysterium.

Adakah berita gembira dari peristiwa bencana seperti itu?!

Kalau saya berkata, “Pasti ada!”, saya yakin orang akan bilang, “Ah, Anda hanya mengada-ada! Anda sendiri tidak sedang mengalaminya! Anda hanya mengamati!”

Untunglah Saudaraku, Anda “masih bisa” komentar… Cukuplah itu menjadi benih kegembiraan yang layak di tebarkan di sana di antara saudara-saudara kita yang sedang menderita. Saya percaya itu. Dan saya percaya, punctum-punctum kegembiraan yang lain akan mengikutinya… Saya hanya berdoa, semoga benih kegembiraan yang sangat sederhana dan rapuh itu tidak turut tertelan hilang dalam kepedihan massal.

Tuhan… berkatilah kami dan saudara-saudaraku di sana dan di sini.

Berilah kami semua ruang untuk selalu mensyukuri keistimewaan dari peristiwa kami ini.

Amin!

Kandar Ag.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: