Setangkai Mawar Berduri untuk Perempuan Indonesia*)
Oleh: Agustinus Sukandar
“Remember the Dignity of your womanhood. Do not appeal. Do not beg. Do not grovel. Take courage. Join hands, stand beside me, fight with me!”
(Ingatlah akan martabat Anda sebagai perempuan. Jangan cengeng. Jangan mengemis-ngemis. Jangan rendah diri. Berbesarhatilah. Mari bergandeng tangan, berdiri di samping saya, berjuang bersama saya!)
PESAN Risa Amrikasari dalam buku terbarunya ‘Especially for You’ itu begitu kuat ditujukan kepada kaum perempuan. Misinya jelas: mengajak perempuan untuk bangkit dari ‘tidurnya’, dan bersikap tangguh dengan kesadaran yang cerdas tentang keluhuran martabatnya.
Risa bahkan memberi warning di sampul belakang buku setebal 372 halaman itu, “Anda termasuk orang yang senang membaca hal-hal yang membuai dan menghayutkan? Anda tidak akan menemukan itu di buku ini. Jika Anda berharap menemukan tulisan-tulisan yang romantis ataupun lemah lembut, Anda akan sedikit tertoreh dengan kalimat-kalimat saya.”
Dengan gaya bertutur yang tidak membosankan Risa menuliskan nukilan-nukilan pengalaman pribadi dari kehidupan sehari-hari ke dalam 65 judul artikel mandiri. Kenyataan yang sering diabaikan atau bahkan dihindari oleh orang-orang karena takut menyinggung perasaan, dia bongkar dengan teliti untuk kemudian mengemukakan sikap mana yang harus dikritisi dan diubah, serta mana yang patut dibela. Ia mengulas dari soal mengelola perasaan, kepercayaan terhadap pasangan, perselingkuhan, cinta dan pacaran, sopan santun, perkawinan, perselisihan pendapat, pelecehan seksual, seks di luar perkawinan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perceraian, urusan kantor dan pekerjaan, hingga soal tradisi, agama, bahkan birokrasi, politik, hukum dan perundang-undangan.
Memang, buku ini ditujukan ‘teristimewa bagi perempuan’. Namun kaum laki-laki pun sebetulnya diam-diam menerima ‘kado’ yang sangat bernilai. Meski tema pokoknya adalah martabat perempuan (womanhood dignity), namun siapapun – termasuk laki-laki – yang membaca artikel demi artikal dalam buku ini, seperti diajak me-review kembali pemahaman dan sikapnya berkaitan dengan keluhuran martabat sebagai manusia (human dignity). Buku ini memberi model untuk sebuah upaya demi kemajuan dan kemerdekaan perbikir di Indonesia, terlebih untuk kaum perempuan yang enggan untuk bertatapan langsung dengan persoalan-persoalan esensial seperti itu.
Rupanya Risa sadar betul, bahwa untuk membongkar kesaradan akan martabat perempuan tak akan tercapai bila menggunakan cara penyampaian deduktif, biarpun terstruktur serapi mungkin. Pengalaman empiris dari hidup sehari-hari menjadi jalan yang jitu, karena perempuan sangat akrab dengan hal-hal yang detil dan teliti, apalagi menyangkut wilayah ‘domestik’ dunia perempuan. Proses pergulatan Risa melalui medium pengalaman sehari-hari itu dia bagikan dengan kapasitasnya sebagai seorang perempuan yang tidak rela bila sesamanya rapuh dan menyerah pada konsep-konsep yang membelenggu.
Dilahirkan 22 Oktober 1969, perempuan cantik ini dibesarkan dalam keluarga yang mendidiknya dengan penuh cinta dan rasa hormat. Bakatnya untuk cermat terhadap detil hidup sehari-hari dan tak bisa duduk berdiam diri berlama-lama dalam mengerjakan sesuatu, membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang cekatan, tangguh dan resourceable (bisa diandalkan). “Always make a total effort, even when the odds are against you” adalah kutipan favoritnya dari Arlnold Palmer.
Lulusas Fakultas Sastera Inggris Universitas Nasional tahun 1994 ini sekarang sedang mendalami Ilmu Hukum di Program Magister Hukum UGM, sambil bekerja di International Organization for Migration sebagai Government Liaison Officer dan sebagai Associate pada Prihartono & Partners, sebuah kantor hukum di Jakarta. Buku pertamanya ‘You Need a GOOD LAWYER to Set You Free from the Jail of Your Heart’ sukses merebut hati pembaca. Tulisan-tulisan di blognya sangat diminati oleh penggemarnya.
Tak heran bila tema-tema dalam artikel di buku yang kedua ini sangat kental dengan kasus-kasus yang bersinggungan dengan hukum dan tak jauh dari perjuangan hak-hak asasi serta martabat manusia terutama perempuan. Di artikel terakhir, ‘Perempuan, lawan kekerasan itu!’ secara mendetil Risa mengajak kaumnya untuk mengenali pasal demi pasal UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Perempuan yang bermartabat jangan sampai terjebak menjadi korban apalagi sebagai pelaku kekerasan domestik!
Gaya bertutur Risa yang lugas enak dibaca, seperti mendengarkan seseorang yang curhat, ngerumpi, tetapi bermutu karena menggugah pembacanya untuk memakai cara pandang baru, bersikap positif dan cerdas, tidak hanya dikendalikan oleh emosi dan perasaan dalam hidupnya! Remake yourself, refresh yourself! (hlm. 40-47), sehingga ada ‘nyanyian baru’ dalam hidup pembaca.
Meski beranjak dari pengalaman personal domestik keperempuanan, Risa Amrikasari berhasil memasukkan isu politis. The personal is political.
Isu ini populer dalam gerakan-gerakan feminis di Amerika pada paruh kedua tahun 70-an, dan mendapatkan ruangnya dalam proses kreatif para seniman perempuan Amerika (feminist art).
Generasi pertama dari gerakan-gerakan feminis ini cenderung mengeksplorasi isu-isu multikulturalisme dan feminisme dengan berangkat dari pernyataan identitas perempuan dan upaya perlawanan. Simbol-simbol visual yang mereka gunakan, menyampaikan pesan secara verbal dan kontroversial. Mereka mempertanyakan hal-hal yang berkaitan dengan tubuh dan isu komodifikasi. Pengalaman keperempuanan ditatapkan dengan wilayah sosial, bahkan politik. Karya-karya mereka merupakan bagian dari gerakan politik untuk mendukung kesetaraan dan persamaan hak bagi perempuan. Dalam proses berkarya mereka langsung bersentuhan dengan problem riil dalam masyarakat, menciptakan diskusi dan pemikiran, menginisiasi perdebatan dan bersifat partisipatif untuk proses sosial.
Alih-alih menggunakan bahasa yang verbal, generasi kedua cenderung menyampaikan kritisisme mereka dengan metafor. Pengalaman personal yang bersentuhan dengan isu-isu sosial-politik aktual menghadapkan mereka pada berbagai kontradiksi yang kemudian dituangkan dalam karya sebagai sebentuk kritisisme untuk membangun dialog yang berkaitan dengan isu tertentu. Relasi antara agama dan manusia, yang nyata dengan yang maya, harmoni dan ancaman, menjadi isu-isu yang mereka angkat. Dalam isu-isu itu ada semacam tuntutan tentang penghapusan diskriminasi terhadap perempuan.
Sementara generasi ketiga menampilkan pengalaman personal dengan keinginan untuk merayakan dan membagikan pengalaman itu, bukan dengan spirit untuk melawan atau berpartisipasi menciptakan diskursus tertentu. Mereka cenderung ‘menerima’ situasi-situasi dimana perempuan mempunyai lebih banyak pilihan sebagai sesuatu yang ‘given’. Mereka ini umumnya tidak menjumpai kesulitan untuk berkontribusi dalam kehidupan publik. Karya-karya mereka dekat dengan budaya populer.
Risa Amrikasari pasti mengerti tentang pola-pola dalam gerakan para seniman perempuan, dan sadar betul tentang porsi mana yang pantas diberikan kepada kaum perempuan Indonesia. Di sinilah, kepiawaian Risa ditampilkan dalam membagikan gagasan-gagasan perubahannya. Mungkin ciri pertama terkesan begitu kuat. Namun barangkali perempuan Indonesia saat ini memang harus ‘digebrak’ dengan pendekatan seperti itu.
Untuk membaca tulisan-tulisan Risa Amrikasari dalam buku ini rasanya tak perlu memasang ‘kuda-kuda’ terlebih dahulu seperti mau bertempur menghadapi lawan yang asing. Namun yang dibutuhkan adalah hati yang terbuka, seperti kedua belah telapak tangan yang menyambut setangkai mawar merah dari pribadi yang benar-benar tulus mencinta. Mawar itu harum wangi, meski tangkainya bisa saja berduri… [skd]
Judul buku : Especially for You, A collection of Self Motivation Articles for Tough Women Only.
Penulis : Risa Amrikasari
Penerbit : Rose Heart Publishing
Editor : Risa Amrikasari Edisi : Cetakan pertama, 2009
Percetakan : PT. Gramedia, Jakarta Halaman : xx +352
*) Dimuat di halaman opini Harian Merdeka, Kamis, 30 Juli 2009.
Bangsa Indonesia memang bukan Winnie the Pooh cs.
Ya jelas bukan! Judul yang aneh dengan negasi yang sekenanya!
Tapi memang itulah yang terlintas di benakku ketika tiba-tiba aku menyadari bahwa semakin banyak merchandise Pooh di rumahku semenjak si kecil Gabriel lahir. Ada sticker Pooh di lemari es. Ada poster Pooh di pintu lemari pakaian, belum lagi yang ditempel di dinding dekat cermin bersolek. Ada bantal Pooh. Ada boneka tangan Pooh. Ada lagi tas bagor bergambar tokoh kartun Disney itu. Dan yang terakhir, istriku baru pesen selimut Pooh untuk si i’el!
Heran aku! Tapi lama-lama aku menikmatinya juga. Soalnya karakter beruang madu berbulu kuning keemasan itu begitu imut dan menggemaskan, lucu! Memandangnya saja sudah terpancing untuk senyum. Tak terasa otot-otot di ujung garis mulut ini tertarik ke atas, dan membawa perbawa segar di hati: ada kegembiraan! Perbawanya mampu mengusir kesuntukan barang beberapa saat. Namun, saat seperti itu bisa sedemikian menentukan untuk kesegaran-kesegaran berikut. Sayang bila hal ini tak pernah disadari, pikirku. Seandainya aku bisa mengabadikannya – seperti mengabadikan senyum anakku dengan kamera saku yang baru – aku ingin melakukannya. Ya beginilah jadinya: tulisan ini.
Tapi apa hubungannya dengan bangsa Indonesia? Ntar dulu…
Lihat dulu atau baca dulu barang sedikit tentang Winnie The Pooh! Di Ashdown Forest – tempat dia dan teman-temannya tinggal – Pooh terkenal sebagai beruang pahlawan, pernah dijuluki Knighted “Sir Pooh de Bear”. Seperti kebanyakan makhluk hidup – termasuk manusia, hehehe… – kalau pagi pasti bertanya, “Sarapan apa, ya?” Meskipun cuma badannya yang gede dan katanya otaknya kecil, namun dia suka berpikir, “Think, think, think!” Bahkan, dia suka mengarang puisi dan lagu! Teman bermain paling deket adalah Piglet, seekor babi kecil berwarna pink (Aaah.. dunia fabel memang penuh kedamaian kayaknya). Berpetualang dan mengunjungi sahabat sesama penggemar madu adalah kegiatan sehari-hari. Sifat beruangnya kadang juga muncul: suka bosan!
Namun terlepas dari lihat (filmnya) dan baca (cerita, ulasan dan komiknya) tentang si Pooh, kehadirannya dalam rupa-rupa merchandise itu telah mampu mengajak siapapun yang memperhatikannya untuk memasuki dunia dongeng.
Tiket masuknya sederhana: senyuman! Tanpa itu orang takkan mampu masuk ke dalam dunia indah warna-warni penuh keceriaan dan kegembiraan yang murni! Saking murninya, dalam dunia fabel pun ada lukisan kegembiraan itu. Kehadiran Pooh dan teman-temannya itu seolah ingin menyampaikan pijaran kegembiraan murni makhluk Tuhan, yang nota bene mestinya ada juga di dunia manusia! Adalah anak-anak – atau mereka yang appreciate terhadap dunia anak (jadi bukan yang kekanak-kanakan) – yang pertama kali mampu menangkap getaran yang menumbuhkan senyum dan keceriaan itu. Pooh… sosok karakter yang mampu diterima, bahkan oleh anak-anak! Anakku Gabriel yang baru berumur dua bulan saja bisa tersenyum-tertawa ketika melihat boneka tangan Pooh kumain-mainkan di depannya.
Naaaah… sekarang baru ngomong tentang bangsa Indonesia.
Gak perlu panjang lebar kok duduk permasalahannya. Aman jika aku hanya bertanya saja (hehehe…): Kalau melihat (foto, filem, tayangan berita tv) dan membaca (koran, buku, sejarah hingga kini) atau mendengar (cerita, berita, komentar, dll.) tentang Indonesia, adakah yang mampu membuat kita spontan tersenyum tulus untuk tertawa dalam kegembiraan? Gak ada? Mosok siiiih? Kalau tidak ada, terus karakter macam apa yang terpancar dari bangsa kita tercinta ini? Mosok tidak ada yang bisa masuk ke relung fabilitas (hahaha…ini istilahku sendiri untuk mengaitkan hal ini dengan dunia fabel) yang akrab dengan anak-anak bangsa ini?
Ya, jelas… bangsa Indonesia memang bukan Winnie the Pooh cs.! Karakter Pooh (dan sebangsanya) rupa-rupanya lebih jelas dari pada karakter bangsa Indonesia! (Eh, yang ini sudah sebuah judgement, ya?) Katanya sih, kita sedang membangun karakter bangsa kita… bersama-sama. Dan yang jelas lagi, bangsa Indonesia mestinya bukanlah boneka mainan anak-anak balita, anak-anak TK maupun SD!
Semoga suatu saat anak-anak pun bisa tersenyum-tertawa tulus, gembira-ceria karena menjadi bagian dari bangsa Indonesia! Amin.
(Posting ini aku tulis karena aku tersadar juga bahwa anakku adalah anak Indonesia! Sebuah anugerah yang menyertakan tanggung jawab kebangsaan juga dalam keluarga sebelum dia diajak menghafalkan butir-butir Pancasila di sekolahan nanti…) [skd]

Co-past dari: BornJavanese
Bumi ini bundar!
![]()
Bumi ini memang bundar! Begitulah hatiku berujar. Meski belum pernah berada di ruang antariksa di antara bintang rembulan, namun aku yakin sekali tentang hal itu. Foto satelit bisa menjadi bukti. Lengkung cakrawala yang tampak ketika kita naik pesawat terbang (hehehe… aku dah pernah, cing!) juga bisa menjadi tanda yang jelas. Hilangnya perahu layar dari pandangan, seperti tenggelam ke dalam lautan, juga memberi pertanda hal yang sama. Singkatnya, secara fisik kenyataan akan bundarnya bumi ini tak terbantahkan lagi.
Namun anehnya, dalam pikiran dan pemahaman kita kadang masih ada pendapat yang primitif tentang bumi ini. Coba saja, ketika kita berbicara tentang kebudayaan. Dunia ini sepertinya berwujud selembar papan yang terbelah menjadi beberapa bagian: barat-timur, utara-selatan, tengah pinggir! Ada yang disebut “budaya Barat” dan “budaya Timur”, “negara-negara Utara” (untuk menyebut negara-negara kaya) dan “negara-negara Selatan” (miskin). Dua yang terakhir ini mungkin masih agak masuk akal, karena berdasar pada garis maya katulistiwa. Itu pun masih bisa membuat bingung kalau kita persis beridiri di kutub utara atau selatan! Kalau arah terbitnya matahari menjadi pijakan pendapat barat-timur, Semarang itu Timur bagi Jakarta, namun Barat bagi Surabaya! Jadi, Semarang itu timur atau barat?! Jawabannya tergantung pada dari mana orang memandang, relatif!
Lha, kalau diterapkan pada kebudayaan, olah pikir dan pendapat, ketrampilan dan adat-istiadat, apa yang bisa dipakai sebagai dasar untuk menengarai yang ini “Barat” dan yang itu “Ketimuran”? Mungkin berkaitan dengan bab ini ada sejarahnya sendiri, kapan persisnya istilah Barat dan Timur itu dipakai untuk menunjuk kebudayaan-kebudayaan di bumi ini. Namun, saya kira hal itu tak lagi relevan!
Kita masih sering menganggap, kalau cara pikir orang Amerika, Australia dan Eropa sana adalah cara pikir budaya Barat. Sementara pola pikir orang China, Kamboja, Jepang, Melayu, Indonesia, India adalah pola pikir budaya Timur. Agama ini milik orang Barat, sementara agama itu milik orang Timur. Bahkan tidak jarang dalam menyebut perbedaan seperti itu disertai perasaan curiga, benci atau permusuhan; kalau perlu pasang kuda-kuda untuk saling menolak satu sama lain dengan menganggap yang lain adalah barang asing!
Byuuuuh…byuuuh…! Sekarang ini sudah jamannya dunia ini bundar luar dalam! Globalisasi bukan barang aneh lagi. Pergaulan orang-orang sedunia sudah tidak bisa dihalangi lagi. Tempat dan daerah sudah tidak begitu menjadi halangan yang berarti. Buktinya, teknologi selluler dan jaringan internet sudah akrab dinikmati hampir setiap orang. “Halloooo…Mister, ini Agus! Walaaah… Agus Aguuus!” – bisa menjadi contoh tanda-tanda globalisasi itu. Tumpah ruahnya orang-orang sedunia memelototi televisi agar bisa melihat dan memperhatikan pelantikan Barack H. Obama di Washington DC juga bisa menjadi contoh hangat gejolak positif globalisasi. Figur Obama yang berdarah hitam-putih dan pernah mengalami hidup di jelajah keempat penjuru mataangin, telah membikin warga sedunia seakan-akan mengidamkan adanya tokoh yang bundarnya dunia ini tidak hanya terperagakan secara lahir namun juga batin!
Oleh Tuhan aku sudah diperkenankan lahir menjadi bocah Jawa. Pagi-siang-sore menikmati terbit hingga terbenamnya mentari. Waktu malam cahaya bintang rembulan menenteramkan kalbuku. Matahari, bintang dan bulan yang sama itu pula yang menyinari setiap insan di muka bumi ini.
Kerinduanku: kapankah aku dapat menjadi manusia yang sungguh-sungguh utuh, bukan hanya sebagian, tanpa hilang ke-jawa-anku. [skd]
Terjemahan Indonesia dari Bumi iki bunder!
Asyik dengan lalat!
Flies – Morning Talk, originally uploaded by BornJavanese.
Entah mengapa, sejak aku gandrung lagi pada fotografi setelah beberapa waktu kamera Nikon F10-ku hilang dicuri malind di Gua Kerep Ambarawa, binatang ini selalu menarik perhatianku: lalat hijau (laler-ijo). Sampai-sampai aku mencari tahu nama Latin dari serangga yang terkenal menjijikkan ini. Ternyata banyak variannya. Yang aku yakin sering aku jepret adalah jenis Chrysomya megalocephala, sebuah nama yang cantik di balik reputasinya yang jelek! Coba bukan berarti laler ijo, pasti menjadi pertimbangan untuk nama calon anakku yang sekarang genap tujuh bulan dalam kandungan!
Begitu perhatian sama si laler, aku pernah menulis beberapa insight – makna rohani – tentangnya di blog-ku yang lain. Di blog yang khusus aku buat untuk kreativitasku ber-fotografi juga sering aku upload gambar serangga ini sebagai wallpaper. Dan kini aku merasa perlu untuk mencerna memperhatikan, apakah ada pesan tersendiri di balik semua itu.
Kira-kira sebulan lalu boss-ku di kantor bercerita tentang pengalaman unik berkaitan dengan lalat. Semenjak bapaknya meninggal, demikian beliau bertutur, setiap kali beliau “jagongan” minum teh atau kopi, tidak hanya di rumah namun di hotel berbintang sekalipun, selalu ada seekor lalat gedhe yang berseliweran di depannya. Kadang binatang itu hinggap di meja atau di gelasnya. “Entah mengapa bisa begitu,” ujar beliau bertanya-tanya.
Aku hanya berkomentar sedikit, “Lalat itu sukanya di tempat kotor dan berbau busuk, Pak! Hahaha…. Jadi…” Hehehe… aku ra wani melanjutkan! Agak bercanda tetapi mungkin sedikit menohok! Beliau pun mengerti akan hal itu, jelas.
“Tetapi aku pernah membuat tulisan makna rohani tentang lalat ijo, lho Pak! Dia itu kalau menyendiri, apalagi hinggap di tempat istimewa seperti bunga misalnya, kelihatan cantik. Barangkali saat itu dia sedang retret! Hahaha… Maksud saya, binatang itu tampak indah pada waktunya. Ah, mungkin Bapak harus mencerna pesan rohani yang ada di balik pengalaman bersama lalat itu, deh!”
Beliau tidak melanjutkan… kelihatannya hanya berhenti di situ saja, entahlah.
Sekarang malah ganti aku yang terusik, mengapa aku suka mengambil foto lalat. Mungkinkah aku sekarang ini sedang asyik dengan hal-hal yang sebetulnya kotor dan berbau busuk, hal-hal yang potensial membuat sakit? Mungkinkah aku sekarang ini sedang bergelut dengan perkara-perkara yang semestinya segera aku sudahi? Okelah… rasanya ini pesan penting bagiku dari alam.
Sementara itu, lalat memang selalu ada di mana-mana…. Dan jangan lupa, di jaman Nabi Musa dulu binatang ini pernah dipergunakan Allah untuk memperingatkan raja Firaun yang keras kepala! [skd]
Seen also at: Blogspot.








