Embun Pagi

23 April, 2008 at 8:44 AM (Insight) (, , , )

Embun pagi

Tiba-tiba aku rindu embun pagi. Itu mungkin karena musim penghujan belum selesai. Tidak ada kabut pagi. Mendung yang diikuti hujan rintik-rintik tentu saja menyamarkan titik-titik embun yang barangkali sudah mulai terbentuk.

 

Aku tidak ingat kapan saat terakhir aku berasyik-masyuk dengan embun. Yang teringat adalah sensasi lembut di telapak kakiku saat menginjak tebaran embun di atas hamparan rumput sepanjang jalan setapak pematang sawah. Tebaran bening bak mutiara itu tak lama kemudian membasahi kaki. Beberapa helai rumput kering ikut tersapu dan menempel sampai di pergelangan. Geli rasanya. Ketika aku menoleh ke belakang ada bekas jejak-jejak langkahku yang tergambar. Warnanya hijau gelap di sela-sela taburan putih kemilau. Anting-anting embunSaat melewati semak tanaman perdu, butiran-butiran bening itu menggelayut seperti anting-anting permata mungil di ujung setiap daun-daunnya. Di dalamnya terbungkus gambaran pemandangan dunia di seberang sana yang tiba-tiba tampak begitu indah. Terbalik, tetapi justru menayangkan kontras yang menakjubkan.

 

Lagi-lagi embun pagi adalah romantika manakala muncul kebosanan atas musim penghujan. Itulah romantika alam yang menampakkan keindahan pada saatnya. Keindahan itu akan selalu terkenang seraya menyertakan ingatan-ingatan tentang pagi hari. Kilauan embun yang bening memantulkan cahaya adalah aksen lukisan pagi. Kelembutannya menyimpan sejuta kisah dan lagu tentang harapan-harapan di awal hari. Itulah episode kelembutan alam yang menyongsong geliat setiap makhluk menapaki titian sejarahnya.

 

Berdandan embunNikmatilah pagi sebelum embun pergi! Belajarlah darinya tentang bagaimana menjembatani dunia bulan dan bintang menuju dunia cahaya mentari yang penuh semarak. Bukankah ia datang dengan hamparan permadani di waktu fajar untuk menyambut setiap makhluk ke sebuah perayaan hari baru yang menyegarkan? Belajarlah darinya tentang kelembutan karena ia turun tanpa hentakan dan membuai lembut setiap permukaan. Belajarlah darinya tentang ketulusan karena ia datang untuk kehidupan: mengajak debu berbaring di pangkuan pertiwi, menyegarkan bumi dengan kesejukan, mempercantik wajah dedaunan yang sebentar lagi berjumpa mentari, meresapi seluruh relung sampai ke ujung akar, dan sisanya terbang ke angkasa menyatu dengan angin manakala sang mentari bersinar memimpin semesta.

 

Oh, permata pagi… semoga aku dapat menyambutmu esok hari. [skd]

 

 

Note: Read the English version of this post:

“Morning Dew” on Natural Wisdom.

 

11 Komentar

  1. ika said,

    aku lebih tertarik potretnya mas.. ajarin dong. biar bisa motret embun gitu. aku kalo motret datar banget nih. payah juga aku…hehehhe

  2. andrea vazuqez said,

    no lo confundan a uno hp cojan oficio si pido una planta me tiene que salir esa planta no otra

  3. demoffy said,

    dan aku dapat…
    bersma dia…
    sang embun…

  4. dona said,

    itulah gambaran keindahan hidup yang luar biasa.

  5. Soerti Soedibjo said,

    sangat indah dan mempesona

  6. Hendra rahmat said,

    Kedamaian . . .

  7. arivynt said,

    maha sempurna Tuhan Pencipta Alam semesta

  8. arisma said,

    subhanallah,,,,,,,

  9. wulan said,

    indaaaaaaaaaah sekali, kalimat yang menawan.

  10. ruly said,

    embunx bgs bgt. bleh share ya..

  11. http://google.com said,

    “Embun Pagi Kandar for The Good News” seriously makes me
    ponder a tiny bit more. I treasured each and every particular piece of this post.
    Many thanks ,Birgit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: