Embun Pagi

Tiba-tiba aku rindu embun pagi. Itu mungkin karena musim penghujan belum selesai. Tidak ada kabut pagi. Mendung yang diikuti hujan rintik-rintik tentu saja menyamarkan titik-titik embun yang barangkali sudah mulai terbentuk.
Aku tidak ingat kapan saat terakhir aku berasyik-masyuk dengan embun. Yang teringat adalah sensasi lembut di telapak kakiku saat menginjak tebaran embun di atas hamparan rumput sepanjang jalan setapak pematang sawah. Tebaran bening bak mutiara itu tak lama kemudian membasahi kaki. Beberapa helai rumput kering ikut tersapu dan menempel sampai di pergelangan. Geli rasanya. Ketika aku menoleh ke belakang ada bekas jejak-jejak langkahku yang tergambar. Warnanya hijau gelap di sela-sela taburan putih kemilau.
Saat melewati semak tanaman perdu, butiran-butiran bening itu menggelayut seperti anting-anting permata mungil di ujung setiap daun-daunnya. Di dalamnya terbungkus gambaran pemandangan dunia di seberang sana yang tiba-tiba tampak begitu indah. Terbalik, tetapi justru menayangkan kontras yang menakjubkan.
Lagi-lagi embun pagi adalah romantika manakala muncul kebosanan atas musim penghujan. Itulah romantika alam yang menampakkan keindahan pada saatnya. Keindahan itu akan selalu terkenang seraya menyertakan ingatan-ingatan tentang pagi hari. Kilauan embun yang bening memantulkan cahaya adalah aksen lukisan pagi. Kelembutannya menyimpan sejuta kisah dan lagu tentang harapan-harapan di awal hari. Itulah episode kelembutan alam yang menyongsong geliat setiap makhluk menapaki titian sejarahnya.
Nikmatilah pagi sebelum embun pergi! Belajarlah darinya tentang bagaimana menjembatani dunia bulan dan bintang menuju dunia cahaya mentari yang penuh semarak. Bukankah ia datang dengan hamparan permadani di waktu fajar untuk menyambut setiap makhluk ke sebuah perayaan hari baru yang menyegarkan? Belajarlah darinya tentang kelembutan karena ia turun tanpa hentakan dan membuai lembut setiap permukaan. Belajarlah darinya tentang ketulusan karena ia datang untuk kehidupan: mengajak debu berbaring di pangkuan pertiwi, menyegarkan bumi dengan kesejukan, mempercantik wajah dedaunan yang sebentar lagi berjumpa mentari, meresapi seluruh relung sampai ke ujung akar, dan sisanya terbang ke angkasa menyatu dengan angin manakala sang mentari bersinar memimpin semesta.
Oh, permata pagi… semoga aku dapat menyambutmu esok hari. [skd]
Note: Read the English version of this post:
“Morning Dew” on Natural Wisdom.
Aku bukan perempuan, tapi …
Ada dua perempuan yang mengesankan hatiku selama kurun waktu satu setengah tahun terakhir: Anna Maria dan Ninih Muthmainnah. Keduanya seakan mewakili ketegaran jiwa dan hati perempun dari lubuk paling dalam. Mutiara-mutiara bening yang acapkali menetes keluar dari sudut kelopak mata mereka tak urung memantulkan kilauan sinar ilahi sekaligus insani yang kemudian memberkas dalam setiap ingatan orang yang tersapu berkas sinar itu.
Siapa tak kenal Anna Maria? Model terkenal di era 80-an, istri bintang film pujaan di era yang sama, Roy Marten. Namanya kembali mencuat di tahun 2006, bukan lantaran kemodelannya, tetapi karena kasus narkoba yang menimpa suaminya. Belum genap setahun sang suami keluar dari bui tahun 2007, di awal tahun ini kasus yang sama menimpa lagi. Untuk kedua kalinya luka hati yang sama menganga lagi. Namun Anna Maria masih tetap tegar menerimanya.
Siapa pula tak kenal Hj. Ninih Muthmainnah? Seorang perempuan cantik luar dalam, istri K.H. Abdullah Gymnastiar. Namanya justru semerbak semakin harum saat popularitas suaminya menurun setelah sang ustadz berpoligami dengan memperistri Alfarini Eridani.
Tak perlu aku memperkenalkan mereka lebih jauh. Aku sendiri belum pernah ketemu mereka, hanya sempat melihat wajah-wajah ayu itu di layar televisi. Aku “mengenal” mereka hanya dari kilauan nurani yang kebetulan tertangkap dari pantulan mereka selama tampil melalui tayangan media. Mungkin Anda justru lebih mengenal mereka secara lebih dalam.
Dengan “mata”-ku seolah mereka memperkenalkan nilai-nilai luhur yang ternyata bukan hanya sekedar idealisme religius semata, tetapi sungguh konkret mereka hayati dan perjuangkan secara nyata. Itulah nilai-nilai yang sebetulnya semua orang pernah dengar, mungkin juga “kenal” atau “tahu”, namun malu-malu atau bahkan takut-takut untuk sekedar “menyentuhnya”. Itulah nilai-nilai yang menjiwai kata-kata: “kesetiaan”, “ketulusan”, “cinta-kasih”, “pengorbanan” dan “tanggung jawab individu di hadapan Sang Khalik”. Sebuah kebetulan yang hampir menjadi trade-mark bahwa nilai-nilai itu terpancar dari sosok kaum perempuan. Meskipun nilai-nilai itu bukan monopoli kaum Hawa, namun lihatlah, betapa kelekatan nilai-nilai itu pada mereka tampil seindah-indahnya.
Aku bukan seorang perempuan – secara genetik aku laki-laki! Namun secara nurani, aku yakin dalam diriku mengalir jiwa perempuan. Taruhlah itu sebagian warisan yang aku terima karena aku pernah menyatu dalam kandungan ibuku. Maka sebetulnya nilai-nilai itu aku “kenal” juga. Kalau sekarang aku melihat bahwa seakan-akan nilai-nilai itu ada “di luar sana” sebetulnya aku patut mencurigai diriku sendiri: jangan-jangan aku ini benar menderita split-personality!
Ada banyak figur perempuan yang hadir dalam hidupku. Beberapa begitu istimewa dan special buatku. Dan setiap kali aku merenungkan kilauan-kilauan nilai yang secara istimewa terpantul dari mereka, saat itulah aku diajak kembali untuk menyatukan lagi diri yang saat itu terbelah. [skd]
Gembala dan domba
Hari Minggu pagi, 13 April 2008 kemarin aku dan istriku menghadiri Misa kedua di Gereja Paroki St. Leo Agung Kalimalang dipimpin oleh Rm. Meus, CSsR. Bacaan-bacaannya berbicara tentang figur seorang gembala (Yoh 10:1-10). Seperti biasa ketika sampai pada homili, aku menyimaknya sambil memejamkan mata supaya bisa berkonsentrasi. Sependengaranku Romo Meus cukup jelas berhomili. “…Gembala yang baik mengenal domba-dombanya. …. dan domba-domba mengenal tuannya…, mereka mengikuti ke manapun sang gembala pergi… dst. dst. …”
Tapiiii… karena badanku saat itu tidak begitu well, tidak terasa aku sempat tertidur! Sayup-sayup terdengar homili diakhiri dengan ajakan untuk mendoakan syahadat (Credo) singkat. “Marilah kita berdiri untuk mengakui iman kita. Saya mengaku….” Dan langsung disambut oleh umat, “kepada Allah Yang Mahakuasa, dan kepada saudara sekalian bahwa saya telah berdosa….” Eiiit… Romo mengoreksi ajakannya, “Aku percaya akan Allah…” dan umat pun melanjutkan pula, “Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi…, dst.” sampai selesai dengan selamat.
Lhaaaaah…! Baru aku tersadar bahwa ajakan yang pertama itu bukan ajakan untuk syahadat, tapi ajakan untuk mohon belas kasih Allah yang biasanya dilakukan pada awal Ekaristi! Hehehe…. kok ya sebagian besar umat tetep menyahut ya? Cuma istriku yang diam, terus menyenggol tanganku sambil menahan senyum.
“Dasar! Makanya kalau misa jangan tidur!” dia berbisik begitu.
“Lhoh, kan kita ini domba yang baik toh? Wong mengikuti gembalanya dengan setia.”
“Padune turu weee…!“
“Hehehe… jadi tadi itu banyak umat yang tertidur juga pa ya? Untung Romo Meus terus mengoreksi, kalau nggak, berarti beliau tertidur juga…”
***








