Happy Easter 2008!

“Glorious Shoot”
How could I say about you?
Little stuff in the morning dew
Laying on the ground
dying near the pond
Ooh dear…
Permeate your water, you said,
to let my body wet
Poor little seed…
be joyful for the lit
shining upon you
flashing from the blue
It’s time to grow
You’re not lonely
The wind softly blow
Cheering you up lovely
Don’t you realize:
Your death is a grace
for a new living
for what we’re waiting?
Be a glorious shoot…
Cheer up your little leaves!
Look at us around you!
Lively garden welcome you!
“Verily, verily, I say unto you: Except a corn of wheat fall into the ground and die, it abides alone: but if it dies, it brings forth much fruit.” (John 12,24)
“Glorious Shoot” – Poetry by: Kandar Ag., first published on Natural Wisdom.









“The Passion of The Christ” di hari Jumat Agung
25 Maret, 2008 at 11:17 am (Commentary, Insight, Reflection, Spiritualitas) (Inti iman Kristen, Jalan Salib, Jumat Agung, Kebangkitan, kristiani, Paskah, Pekan Suci, The Passion of The Christ)
Seingat saya sudah empat kali berturut-turut selama empat tahun terakhir ini film “The Passion of The Christ” garapan Mel Gibson berkolaborasi dengan Benedict Fitzgerald ditayangkan di televisi swasta Indonesia pada hari Jumat Agung. Tahun 2008 ini sponsor pemutaran film berdurasi sekitar 2 jam itu bahkan membagikan VCD “Rahasia Kehidupan” gratis bagi 100.000 pemenang kuis seputar film itu. Tidak seperti film-film lainnya, film yang dibintangi oleh James Caviezel ini ditayangkan tanpa jeda iklan. Kira-kira mengapa?
Doa Jalan Salib
Jumat Agung adalah hari raya keagamaan umat kristiani untuk mengenang sengsara dan wafat Isa Almasih, Yesus Kristus. Dalam sejarah spiritualitas Gereja Katolik peristiwa sengsara dan wafat Yesus Kristus ini menjadi inspirasi berkembangnya sebuah doa yang dikenal dengan doa “Jalan Salib”. Dengan doa itu umat kristiani merenungkan salah satu episode peristiwa Yesus Kristus yang diimani sebagai Sang Juru Selamat Dunia (Salvator Mundi). Biasanya doa itu terdiri dari 14 stasi (perhentian) mulai dari Yesus diadili sampai dimakamkan.
Doa biasanya diidentikkan dengan permohonan kepada Tuhan. Namun sebetulnya permohonan hanyalah satu dari sekian intensi doa. Masih ada intensi syukur, pujian, dan anamnese (pengenangan). Doa jalan salib adalah doa renungan anamnetik. Dalam doa jenis ini ada peristiwa yang dikenangkan. Lebih dari sekedar mengingat-ingat, suatu pengenangan mengandung makna simbolis, artinya peristiwa yang dikenangkan itu hadir dalam kekinisinian pelaku doa.
Aspek “kehadiran” menjadikan sebuah doa (yang nota-bene adalah salah satu bentuk komunikasi) mampu menyediakan ruang untuk membangun intimitas si pendoa dengan Tuhannya. Istilah lain dari intimitas ini sering kita kenal dengan “kesatuan”, “kemanunggalan”, atau “unitas”. Begitu kaum mistikus biasa menyebut. Dalam kondisi pendoa seperti itu permohonan apalagi yang dapat dia ajukan? Semua sudah tersedia di depan mata, tinggal diterima dan disyukuri! Itulah anugerah dari doa: peneguhan iman, penyertaan ilahi (accompaniment), kekuatan hidup, kegembiraan, damai, syukur dan pemuliaan. Seiring dengan itu juga tekad dan sikap hidup yang baru serta konstruktif atas dasar awareness yang dibawanya dari pengalaman doa anamnetik itu. Semestinya sih begitu …
Penderitaan dan kematian adalah bagian dari kehidupan kita. Tak seorang pun mengharapkannya menimpa diri ini. Namun pada saatnya mereka tidak bisa ditolak! Menolak realitas penderitaan dan kematian bisa berarti mengingkari kehidupan itu sendiri. Namun dari sisi lain, secara sengaja menciptakan penderitaan dan kematian adalah tindakan yang secara moral tidak bisa dibenarkan. Apalagi bila kemudian kita bersembunyi di balik kedok “takdir” untuk lepas dari tanggung jawab dan memperoleh pembenaran dari tindakan kesengajaan itu. Jadi bagaimana?
Akhirnya kita sampai pada pilihan sikap: menyikapi penderitaan dan kematian dalam rangka hidup dan kehidupan secara bertanggung jawab.
Karena iman menyangkut pemahaman dan sikap, peristiwa Paskah itu menjadi terang bagi umat kristiani untuk memahami dan menyikapi penderitaan dan kematian secara “baru”.
Seperti sebuah teks yang kemudian menjadi dirinya sendiri terlepas dari maksud pengarangnya, begitupun film The Passion of The Christ. Ketika Mel Gibson menggarap film ini mungkin yang terjadi adalah sekedar menuangkan penghayatan iman personalnya akan peristiwa Yesus Al Masih. Barangkali ada maksud dakwah atau syiar agama di dalamnya. Atau mungkin juga dia semata-mata ingin mengeksplorasi kekerasan salib yang muncul dari fanatisme pemimpin keagamaan di jaman Yesus untuk dikemas menjadi sebuah tontonan di antara film-film kekerasan berbau sadisme lainnya yang bernilai jutaan US dollar.
Apapun intensi sang sutradara atas film itu, The Passion of The Christ talah terlanjur dikenal sebagai sebuah film keagamaan sekaligus film box-office yang patut dicatat. Berbagai kritik sudah dilontarkan sehingga film ini cukup kontroversial di berbagai kalangan.
Itu semua sah-sah saja.
Saya sendiri merasa terbantu oleh film itu. Tentu karena saya berpijak dari iman kristiani saya akan Yesus Kristus, tokoh utama yang dikisahkan dalam film itu. The Passion of The Christ telah memperkaya ranah penghayatan inti iman saya. Dalam arti tertentu, film itu saya terima sebagai salau satu bentuk ungkapan kesaksian iman yang dibagikan (di-sharing-kan) oleh “orang beriman” di balik layar, di dapur studio film itu. Saya terbantu untuk berproses dalam rangka doa anamnesis selama Pekan Suci umat kristiani yang baru lalu (Pekan Suci dimulai pada Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, dan berakhir pada hari Minggu Paskah). Dalam arti ini, film itu berperan pula sebagai dakwah bagi saya agar selalu menjaga awareness bahwa ruang di luar gedung ibadat adalah medan penyempurnaan peribadatan yang sejati. Yesus Kristus menyelesaikan missi-Nya di puncak Bukit Tengkorak (Golgota), di luar Kenisah (gedung ibadat) Yerusalem! Di sanalah puncak setiap peziarahan sejati…
Sesuatu yang sebetulnya bisa aneh dan perlu hati-hati memahaminya kalau kemudian film itu juga memberi penghiburan bagi saya. Bagaimana mungkin kekerasan dan sadisme berdarah-darah memberi hiburan? Yang jelas saya tidak suka film thriller-horror yang memacu adrenalin. Saya juga bukan seorang masochist atau pemuja penderitaan dan penganiayaan. Kalau saya terhibur, itu karena happy-ending yang membingkai film The Passion of The Christ itu jauh sebelum film itu dibuat! Jadi sebetulnya penghiburan itu terjadi karena telah ada dawai di lubuk hati ini yang kini terresonansi atau bahkan dipetik kembali. Keterhiburan itu juga karena ada “alternatif baru” yang membuka pemahaman dan sikap positif terhadap penderitaan dan kematian demi sebuah “kebenaran”. Alternatif baru itu persis menjadi jawaban yang mengatasi kata-kata dari pertanyaan Pontius Pilatus, “Qui est veritas?!” Apa itu kebenaran? Dan persis pula alternatif itu memberikan paradoks yang membuka kedok-kedok “bukan kebenaran” …..
Mungkin ada yang curiga dan bertanya-tanya baik secara terang-terangan maupun hanya dalam hati: Hebat betul, penayangan film tanpa jeda iklan! Tentu ini sebuah upaya kristenisasi yang sungguh dibiayai tanpa tanggung-tanggung!
Saudaraku yang terkasih… saya tidak ingin terjebak dalam kerangka pikir seorang salesman ekstrim yang selalu memaksa orang untuk membeli barang dagangannya dari pintu ke pintu. Sebab, untuk menjadi seorang “beriman” kristen tidak semudah dan sesederhana menjadi seorang “beragama” kristen ..… tak mungkin hanya terbeli oleh sejumlah rupiah sebesar biaya sponsorship penayangan film keagamaan saja! ***
Permalink & Komentar