Zona “keheningan”

Sudah seminggu ini wallpaper desktopku di kantor aku kasih gambar 2 ekor burung favorit dengan tulisan di bawahnya, “Start working from and within silence!”. Maksudnya supaya aku terbantu untuk mengkondisikan diri supaya selalu berada dalam suatu awareness tertentu.
Akhir-akhir ini aku memang sedang keranjingan terinspirasi oleh satu kata itu: “silence” (hening, keheningan). Di blog-ku yang lain kata itu bahkan menjadi subyek utama di blog description-nya: “Listen up! What is silence telling you about delightful living?” Lagi-lagi sebuah paradoks terasa begitu nyata termuat dalam kata “hening” dan pemaknaannya.
Mungkin subyektif kalau kata itu – “hening” – terasa lebih teduh dan sejuk daripada “diam” (Di kepala ini terngiang-ngiang orang perintah-perintah, “DIAAAAM…!!!” Kan gak ada orang perintah, “HENiiiiiiing…!!!” Aneh, kalau ada!). Ada semacam getaran damai daripada gejolak yang menyesakkan dada. Mungkin karena suku kata “-ning” itu, hadirlah pula kenangan dan sensasi dari kata “bening”, “wening” (Jw.). Sedangkan “diam” seolah bertalian erat dengan “bungkam”, “hitam”, “legam”, “kelam”, “benam”, “suram”, “tenggelam”,… Entahlah, aku bukan mantan mahasiswa jurusan bahasa Indonesia atau apalagi ahli bahasa. Namun aku yakin, dua kata itu menebarkan efek mental yang berbeda. Betapa aku “menjadi” suka akan kata “hening” daripada “diam”. Yang pertama lebih berdaya pikat penuh simpatik dan mempesona daripada yang kedua. )
Secara inderawi bisa jadi halnya terkesan sama: aku tidak mengucapkan kata-kata. Namun bisa jadi dalam hati ada umpatan atau suara gemuruh seperti gumpalan-gumpalan emosi yang menguasai dan seolah mau terlontar dari kencangnya leher ini. Hati pun tidak tenang, meski mulut diam.
Pada saat itulah aku merasa bahwa ada sesuatu yang harus diterima, ditata, dikunyah, dan dicerna agar merasuk menjadi bagian vitalitas diriku. Sepertinya ada zona di mana banyak godaan untuk bertindak reaktif atau bahkan rejektif spontan dan serta-merta. Tetapi ada pula zona di mana reaksi dan rejeksi spontan itu diurungkan dan menyublim menjadi sebuah tanggapan yang matang menggairahkan, menyegarkan dan menghidupkan jiwa. Itulah mungkin zona keheningan hati yang memungkinkan seorang pribadi mengalami pertumbuhan, transformasi atau bahkan transfigurasi.
“These things will destroy the human race:
politics without principle,
progress without compassion,
wealth without work,
learning without silence,
religion without fearlessness
and worship without awareness.”~ Anthony de Mello
Tiang Penopang Doa
Semalam hujan begitu deras. Meski berlangsung sebentar-sebentar kayak orang beseren (Jw.= sebentar-sebentar kencing, tapi bukan anyang-anyangen), namun sempat membikin hati miris juga. Jadi ingat saudara-saudara di daerah rawan banjir… Biasanya, dengan iringan hujan seperti itu tidurku tambah pules. Tapi tidak semalam tadi. Jadilah aku ingat orek-orekan (maksudnya puisi) yang pernah aku tulis setahun yang lalu:
Temaram awan petang menjanjikan kegelapan
Setetes mutiara cair menggores kaca jendela
Goresan bening itu sekejap saja
Lalu meleleh turun ke dasar kaca
berbaur dengan riangnya dalam genanganRiang gemuruh mutiara-mutiara itu
berlari-lari sambil bersorak-sorai
mengajak debu dedaunan berarak ke lembah
berderap seperti pasukan
berseragam coklat kehitaman
berkilat-kilat membelah senjaseorang perempuan berteriak
di ujung jalan yang hilang
suaranya terkunci kertakan gigi
dia ketakutan
tak mau diajak ke lembahtemaram petang menepati janjinya
kelam senja menghapus mata angin
menelan penjuru perempuan itumata si perempuan pindah ke tangan dan kaki
mukanya menengadah ke lubang langit
berharap cahayasebuah tiang menahan nyawanya
jantung perempuan itu melonjak kegirangan
saat ini masih mampu berdegup
menghitung waktu
akankah kenanganku terbungkus beku di sini?
tanya perempuan itumalang sekali…
tiba-tiba…
degup jantungnya semakin kencang
menghitung ketakutan
merenda kekhawatiran
seribu gumpal dalam satu detakan
menghentak-hentak belahan dadanya
getarannya sampai ke ujung tiangsatu detak…
enam puluh detak…
tiga ribu enam ratus detak…
detak-detak berulang-ulang…
silih berganti…beruntung sekali…
tiang itu hanya berdenging dibuatnya
detak-detak gundah itu terlontar ke angkasa
terserap mutiara-mutiara bening yang masih berjatuhankuat sekali tiang ini
pikirnya…
cukup kuat untuk bertambat sampai esok pagihatinya bersorak
semesta masih merengkuhnya
dalam kekuatan tiang penahan jiwa
menopang doa paling lama
yang pernah dia ingatKandar Ag., tanpa tanggal dan bulan, 2007
Akhirnya, tadi pagi aku bangun terlambat. Jam 08.28 baru nyampai kantor! ***
Teror terhadap (keyakinan akan) keutamaan
Seandainya mereka membaca tulisan ini…
(barangkali ini bukan good-news)
Pagi ini aku selintas menyaksikan liputan berita pagi dari sebuah stasiun televisi swasta. Sebuah rumah dari keluarga kaya di kawasan Sunter dijarah maling. Dan ternyata, malingnya adalah pembantu rumah tangganya sendiri! Ironis-nya, pembantu rumahnya itu dulu-dulunya direkomendasikan oleh orang kepercayaan pemilik rumah itu sendiri! Pada awalnya, pembantu rumah tangga itu menampakkan tabiat yang baik. Belakangan mulai nampak gejala-gejala yang tidak menyenangkan, dia mencuri!
Ironis memang! (Ironi= Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut. - Wikipedia.)
Masih banyak sebetulnya fakta-fakta ironis seperti itu bertebaran di antara kita; fakta-fakta yang sungguh mengecewakan dan membuat hati terperanjat, terperangah. Lebih dari itu, ada sebuah “teror” terhadap nilai-nilai keutamaan yang secara naluriah kemanusiaan dihormati. Teror adalah suatu kondisi takut yang nyata, perasaan luar biasa akan bahaya yang mungkin terjadi. Keadaan ini sering ditandai dengan kebingungan atas tindakan yang harus dilakukan selanjutnya (Wikipedia). Oleh banyaknya fakta ironis semacam itu di tengah masyarakat kita, seolah-olah penghormatan kita terhadap nilai-nilai keutamaan dalam hidup bersama (kejujuran, ketulusan, kebaikan budi, dll.) digiring ke arah penghormatan yang setengah-setengah, tidak total lagi. Kita menjadi tergoda untuk menilai orang yang berpenampilan soleh adalah orang yang munafik. Seolah-olah sikap curiga terhadap kebaikan orang lain semakin mendapatkan pembenarannya.
Aku teringat peribahasa “Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga!” Dosa seseorang berdampak pada banyak orang! Bukan hanya dampak secara fisik, tetapi juga secara mental! Gila! Dan setelah mengikuti berita itu kemudian aku berkomentar, “Kasihan para pembantu yang betul-betul baik luar dalam! Oleh berita ini, dan berita-berita serupa, kebaikan mereka menjadi dipandang setengah hati.” Gantilah “pembantu” itu dengan figur-figur lain: pemulung, tukang sol sepatu, tukang ojek, guru, uztad, pendeta, pastor, polisi, lurah, camat, bupati, …
Sikap percaya (trust) akan, dan juga kebaikan seseorang menyangkut soal kualitas, sesuatu yang tidak kasat mata, begitu cair dan rapuh. Orang bisa berbalik arah secara tiba-tiba ketika mengalami peristiwa yang tidak sejalan dengan apa yang dia percaya. Bahkan keyakinannya akan buah-buah baik dari aplikasi dan penghayatan nilai-nilai keutamaan dalam hidup bersama pun bisa menjadi pudar. “Kacamata hati” yang semestinya bening menjadi buram tidak nyaman. Martabat manusia, si pelaku keutamaan dan kebaikan, sungguh-sungguh dipertaruhkan.
Jadi, siapa lagi yang Anda akan percayai?
Ah, tetapi pertanyaan itu menjurus, seolah-olah diri ini berada di luar linkaran kebersamaan. Pertanyaannya diganti saja ya…
Jadi, dapatkah aku dipercaya, lahir batin?
Ada sebuah motto: “In God we trust!”
Namun rasanya motto itu kurang sempurna bila tidak disertai keyakinan bahwa diriku (manusia) ini dalam kadar tertentu adalah gambaran (image) kelihatan dari Tuhan Sanga Mahabaik. Atau…Anda kurang yakin akan hal ini?Kalau kurang yakin, ya…mari kita khianati diri kita sendiri!
Ah, betul-betul ini menyangkut masing-masing individu. Tapi kayaknya, bukan semata-mata deh! Karena kebaikan mesti dirayakan. Adakah perayaan dilakukan sendirian? Kurang seru dong! ***
“Sabda Alam” dari kebun
Aku dan istriku sama-sama suka berkebun. Suatu ketika kami berdua asyik mengganti pot dan media tanam yang sudah terlalu lama. Beberapa tanaman telah tumbuh lebat. Apalagi tanaman merambat sejenis philodendron. Beberapa kami pindahkan ke pot gantung, beberapa kami pangkas untuk dibuang. Asyik sekali kami seharian mengerjakannya.
Di hari-hari berikut setiap pagi aku selalu mengamati pertumbuhan mereka. Aku rasa, itulah saat paling mengasyikan dari kegemaran gardening. Pertumbuhan sebuah tanaman pun bisa menjadi penghiburan yang menyegarkan jiwa. Tunas yang kemarin baru berupa gulungan lancip, hari ini telah mengembang menjadi lembaran daun hijau muda nan segar. Batang tanaman merambat semakin melingkari ijuk rambatannya ke arah datangnya sinar mentari. Bungkusan-bungkusan kelopak bunga yang kemarin masih rapat, pagi ini telah terbuka dengan mahkota bunga yang mekar tampak “ceria”.
Kalau semua detil pertumbuhan mereka itu tidak sempat terperhatikan, mana mungkin kita menyaksikan sebuah pagelaran (skenario) kehidupan adegan demi adegan yang terselenggara begitu indah di depan mata? Dan lihatlah, tumbuhan itu berbagi kisah tentang hidupnya. Dengarlah, alam memang sedang bersabda! (Hehehe…ingat lagunya Chrisye “Sabda Alam“)
![]()
Pagi ini aku menangkap satu kisah dari tanaman rambat yang dipencarkan minggu lalu oleh istriku dengan cara stek. Dalam satu pot istriku menanam beberapa batang stek. Pagi ini mereka sudah tampak subur lagi. Beberapa malah ada yang sudah menjulurkan tunasnya yang baru.
Tetapi, heiii…! Ada satu batang yang pucat dan layu, daunnya menguning. Apa yang terjadi padanya?! Ya ampun… ternyata batangnya tertanam terbalik! Ruas batang yang lebih muda-lah yang terbenam di tanah!
Entah mengapa, demi menyaksikan hal itu, tiba-tiba di dadaku ada perasaan sesak, buntu, disorientasi, keputusasaan, gambaran “kepala untuk kaki dan kaki untuk kepala”, kelelahan, lemas…layu! Aneh, mengapa perasaan-perasaan itu muncul, padahal aku oke-oke saja!
Aku cabut batang yang layu itu untuk ditancapkan kembali secara benar. Eh, sejenak hatiku terhibur dan kebuntuan tadi menjadi terurai ketika melihat ada tunas yang tumbuh dari ketiak ruas yang tadi tertanam secara terbalik itu. Tunas itu tumbuh membelok ke arah permukaan.
Pikiranku melayang ke perkiraan-perkiraan seandainya batang terbalik itu tidak aku cabut:
-
Batang yang tadi melayu lama kelamaan akan kering dan mati, lalu terlepas dari bagian ruas yang tumbuh tunas baru itu.
-
Tunas itu akan terus tumbuh sebagai individu baru dengan arah tumbuh yang benar, “kaki sebagai kaki, dan kepala sebagai kepala”.
Namun itu hanyalan dugaan yang belum aku buktikan, karena aku sudah terlanjur mencabutnya dan mengoreksi posisi tancapannya. Aku enggan untuk bertaruh dengan perkiraan-perkiraan itu. (Hehehe… baru kepikiran sekarang untuk menguji dugaan itu!)
Sampai di sini saja aku sudah sempat memetik “daun-daun sabda” dari kisah tanamanku itu. Barangkali terlalu membosankan kalau aku tuliskan panjang lebar daripada beberapa butir insight ini:
- Salah berpijak akan beresiko kelelahan dan layu karena energi dan potensi diri habis untuk mencari orientasi yang benar, untuk merevolusi diri dan menempuh detour untuk lepas dari kebuntuan.
-
Energi hidup, betapapun kecilnya itu, tetap mampu memberi kekuatan tumbuh, pertanda kehidupan, bahkan hidup sebagai individu yang “baru” dengan pijakan yang benar.
-
Pada saat yang tepat, dengan maksud yang benar dan cara yang benar, intervensi dari pihak luar akan sangat membantu sebuah proses pertumbuhan hidup. Namun bila intervensi itu justru menjerumuskan, menjebak dan memaksa kita untuk berada dalam situasi sulit, saat itulah kita musti kembali menyadari dan merevitalisasi potensi-potensi dasar yang telah given dalam diri kita. Bila itu terjadi, apa yang terkesan sebagai jalan buntu ternyata bukanlah kiamat!
Hmmmm… percaya atau tidak, itulah sepenggal “sabda alam” yang menyampaikan sebuah kebijaksanaan bagiku (manusia).
Terpujilah Allah Sang Maha Pencipta, sekarang dan selama-lamanya. Amin. ***








