Kematian – Mahkota Kehidupan
Bulan ini sekurang-kurangnya ada 2 tokoh publik yang saya kenal telah meninggal dunia. Yang satu seorang dalang wayang kulit, Ki Hadi Sugito, meninggal Rabu, 09 Januari 2008; yang satunya lagi mantan presiden ke-2 RI, H.M. Soeharto, meninggal Minggu, 27 Januari 2008. Keduanya meninggal karena sakit. Tentu masih ada banyak lagi yang meninggal di bulan Januari ini, tidak terkenal seperti mereka namun sangat berarti bagi keluarga, kerabat dan orang-orang di sekitarnya.
Setiap kali mendengar berita lelayu (berita kematian), apalagi kematian orang yang saya kenal, langsung terlintas ingatan-ingatan masa lalu tentang orang itu. Yang spontan muncul adalah kesan dominan dari hidupnya: karakternya yang galak, lucu, berwibawa; atau kenangan kebersamaan dengannya; atau bahkan emosi yang berbuih-buih satu-per-satu lewat di lubuk hati, rasa kehilangan, sedih, gamang, terkejut, hampa…menangis. Seingat saya, saya belum pernah merasa lega atas kematian seseorang (dan puas karena dia kini telah mati)! (Ada nggak ya orang seperti itu? hehehehe…)
Intensitas rasa kehilangan atas orang tertentu menunjukkan seberapa berartinya orang itu bagi hidup seseorang. Saya pernah mengalami itu ketika Budhe saya meninggal. Dan sampai sekarang kadang-kadang timbul rasa rindu dan kangen padanya. Saya mengakui, rasa rindu dan kangen itu mengungkapkan betapa kehadirannya di dalam hidup saya telah begitu mendalam, bahkan dia telah masuk menjadi bagian sejarah yang membentuk hidup saya. Pada hari dia meninggal, banyak orang datang melayat. Sebagian besar saya tidak kenal mereka. Dan tiba-tiba muncul pertanyaan dalam hati saya: “Orang macam apakah Budhe saya ini bagi mereka? Adakah mereka juga merasakan hal yang mirip dengan yang saya rasakan?”
Orang hidup mengumpulkan orang hidup, adalah hal biasa. Orang yang telah meninggal mengumpulkan orang hidup, bahkan lebih banyak dari biasanya semasa dia hidup, lha…inilah yang patut disimak. Apalagi bila yang datang itu termasuk pihak-pihak yang bertikai, tidak akur dan tidak mau berjumpa bertatap muka apalagi bersalaman. Dalam peristiwa kematian, perjumpaan mereka terjadi. Dan bisa pula terjadi perjumpaan itu membuka peluang untuk perkembangan yang lebih baik di antara mereka yang datang: rekonsiliasi, perdamaian, atau sekurang-kurangnya saling menyapa…
Kalau kita bisa menyimak, ternyata masih ada sesuatu “yang dilakukan” oleh orang yang telah meninggal, baik pada hari dia meninggal, waktu penguburan, maupun waktu-waktu berikut ketika dia diperingati dan didoakan. Pada saat-saat itu kematian betul-betul sebuah realita nyata yang menjadi bagian hidup anak manusia. Pada saat-saat itu sesuatu mengenai finalitas kehidupan terpampang di depan orang-orang yang masih hidup. Tak adakah pesan-pesan tertentu bagi orang-orang itu dari si kematian?
Peristiwa seputar kematian seseorang ternyata memberi lukisan tentang citra hidup seseorang. Dan itulah yang mereka urai tentang dia secara obyektif: sebuah lukisan dan perbincangan mengenai “mahkota kehidupan” yang telah dibangun oleh almarhum/almarhumah semasa hidupnya di mata orang-orang itu. Dia tidak lagi bisa menanggapi, atau mengoreksi lagi hidupnya, karena lembaran hidupnya telah “ditumpuk di meja guru” untuk kemudian tinggal “dinilai”, dan tidak ada her-heran!
Mengapa kesedihan dan air mata begitu akrab dengan kematian seseorang? Kematian orang lain barangkali telah sering kita alami, bisa jadi tanpa keistimewaan, tanpa tangisan kita. Kematian orang yang dekat, barulah istimewa, seolah-olah ada bagian diri kita yang turut direnggut, di-”mati”-kan. Inilah yang membuat sedih dan air mata. Apalagi bila pada saat itu terlintas angan-angan tentang kematian kita sendiri!
Persis di sinilah intinya: pernahkah kita belajar tentang kematian kita sendiri? How will you deal with your own death? Tak dipungkiri, kematian itu menakutkan bagi sebagian kita yang masih hidup, karena kita masih merasa “asing” dengannya, dan merasa terlalu dini untuk membicarakan atau bahkan memikirnya. Padahal, cepat atau lambat, tanpa kita ketahui, kita pasti menemui ajal kita!
Bagaimana kalau diajukan gagasan seperti ini:
How you will deal with your own death, that’s how you will deal with your own life, and that’s also how you will build your own crown!
- Kandar Ag.Berimanlah untuk hidup, begitu pun berimanlah untuk mati!
- John Powell. ***
“Selamat jalan, Pak Harto!”
“Selamat jalan, Pak Gito!”
Terpujilah engkau para wanita!
Ini juga copy-paste dari blog saya yang laen! (Byuuuuh… soalnya lagi cunthel ini kepala akhir-akhir ini!) Kali ini tentang para permpuan yang dipuji oleh mendiang Paus Yohanes Paulus II dalam puisinya “Letter to Woman” – 1995.
Beberapa waktu lalu saya memutar DVD musik dari Andrea Bocelli, “Credo“, featuring mendiang Poaus Yohanes Paulus II, yang di-launching oleh SUGAR. Hati saya tersentuh ketika sampai pada satu bagian mengenai perempuan menurut pandangan Sang Paus. Lalu saya transkrip bagian itu dan inilah hasilnya:
“Thanks to you, woman-mother,
for making yourself the womb of the human being.Thanks to you, woman-bride,
for irrevocably sharing your doom with that of your man.Thanks to you, woman-daughter and woman-sister,
for bringing into the family nucleus and then into the whole of social life
the richness of your sensibility and your insight.Thanks to you, woman-worker,
engaged in every aspect of life, in the societies, in the economies,
in culture, arts and politics as well,
and for your contribution in working out a culture capable of mixing sense and sensibility
and in conceiving life as always open to a sense of “mystery”.Thanks to you, consecrated woman.
Thanks to you for the simple fact of being woman!”
Kapan ya…ada puisi setara dengan itu tentang laki-laki? Ada yang tahu? ***
“Burung”-ku pengen berkicau!
“Burung”-ku pengen berkicau!
Eh, jangan berpikiran ngeres dulu! Itu “burung” takasi tanda kutip bukan karena menunjuk sesuatu yang bikin pikiran jadi horor! Hehehe…yeeeee…kecele yeeee….
Padahal aku mau bilang kalau itu “burung” adalah sebuah analogi aja. Tahu kan apa artinya analogi? Bah, cari tahu dong di Wikipedia! Tapi kira-kira artinya “serupa tapi tak sama”. Lha, aku tuh pengen menyerupa-tapi-tak-sama-kan hidupku ini dengan burung di pagi hari. Burung di pagi hari selalu berkicau, kayaknya riang sekali. Kicauannya bisa menjadi pertanda datangnya fajar merekah. Kalau mata masih merem, males liat jam, mendengar kicauan mereka saja kita udah tahu kalau pagi sudah menjelang. Kalau gak bangun bangun juga, bisa malu ama mereka. (Sssst…yang ini boleh ngeres! Hihihi…: Emang sih ada “burung” yang lain yang bangun di pagi hari, sebelum yang punya bangun! STOP! ngeresnya cukup!)
Kicau burung di pagi hari pernah menggugah naluriku untuk ikut bergembira. Pagi hari harus bergembira! Rugi kalau tidak! Bisa-bisa seluruh hari sungut di wajah ini semakin tebal kalau keterusan. Maka I have to switch my joyness on! Awal hari hati ini harus di-setting sedemikian rupa supaya punya akses mulus ke dunia kegembiraan, dunia semangat, dunia syukur… I think, smiling is a power to do the best for today! Menurut konsep buku The Secret (Rhonda Byrne), apapun yang kita inginkan akan menjadi daya tarik bagi alam semesta ini untuk mewujudkannya. Sebaliknya, what we resist, persist! Apa yang kita tolak (dengan mengatakannya, bahkan cukup memikirkannya saja), justru itulah yang akan terjadi! Nah, lho! Makanya, buruan men-setting awal hari dengan smiley, ntar jiwa ini akan ikutan smiley!
Nah, sekarang tahu kan apa yang aku maksud dengan “Burung”-ku pengen berkicau? ***
Lha, entry itu adalah hasil dari melihat DVD (bajakan
) The Secret beberapa waktu lalu. Yaaaah…sekedar sharing saja.
***









