Anda sudah baca bukunya Rhonda Byrne “The Secret“? Atau malah juga sudah menyimak edisinya dalam format DVD? Salah satu review mengenai buku itu bisa Anda baca dari tulisan Tim Challis.
Sejujurnya saya sendiri belum membacanya secara utuh buku itu! Baru baca synopsisnya di situs resmi buku itu, tapi sudah pengen komentar! Aneh ya?
Ketika masuk ke kamar salah satu teman di tempat kostnya saya sempat melihat dan mengolak-alik buku berwarna cokla kemerahan dengan hiasan segel merah pada kovernya itu. Teman saya langsung bilang, “Itu buku dari yayangku. Kalau aku belum selesai membacanya, aku belum boleh menelepon dia! Hehehe….”
Jadi penasaran, apa sih gerangan keistimewaan buku edisi bahasa Indonesia yang diterbitkan Gramedia itu? It’s a book of reflection upon the law of attraction theory, or just another book of the new-age exploration’s euphoria? Saya belum berani menilai lebih jauh wong belum rampung membaca!
Tetapi pada intinya saya menyambut positif buku itu karena dia masuk ke wilayah ceruk self-improvement atau self-help book. Kategori ini mengulas lebih dalam mengenai “how to be more human“.
Menariknya kategori ini bagi saya terletak pada kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak habis-habisnya menyediakan ide untuk dieksplorasi: afirmasi dari “kitab-suci” keagamaan tentang martabat manusia rupa-rupanya tidaklah mudah untuk ditelan dan di-”iman”-i begitu saja! Revelasi tentang “rahasia kehidupan” yang diungkap oleh para “leluhur” sejarah umat manusia di jaman dulu mungkin terasa terlalu “naif” atau simple untuk dimengerti. Bahasa orang di era (post-) modern rupa-rupanya memerlukan cara pembahasan yang sesuai dengan konteks jamannya, dan kadang-kadang terkesan kurang puas dengan pernyataan yang terlalu simple! Itulah manusia, makhluk yang belum selesai berevolusi!
Energi (positif dan negatif) menjadi kata kunci dalam buku ini. Manusia menjadi agen (agere – actus, Lat. = melakukan) perubahan yang mampu menyerap dan memancarkannya baik untuk dirinya sendiri maupun untuk semesta di sekitarnya. Sebagai agen yang mempunyai kehendak bebas manusia mampu mengelola energi-energi yang menyelimutinya, sekaligus diapun menerima efek balik dari energi-energi itu karena dia tidak mungkin terlepas dari konstelasi semesta ini. Buku ini, seperti buku-buku serupa, mendidik kesadaran mengenai hal ini: Mulailah berpikir positif, sugesti diri positif, bangunlah mindset positif dan bersyukur atas hidup ini apapun keadaannya.
“Kesuksesan” adalah goal dari pengelolaan energi-energi itu. Entahlah, bagaimana satu kata ini harus dimengerti secara “benar”. Bagaimana harus dikatakan untuk menggambarkan status “sukses sebagai manusia“? Sepertinya ada konsep tertentu di balik kata kesuksesan ini. Terbayang dalam pikiran saya bahwa ada tegangan antara takdir (fate) dengan pilihan bebas, sadar dan bertanggung jawab; sementara itu manusia juga telah mengenali adanya rahmat dan anugerah yang dia terima dari sononya atas keunggulan-keunggulan yang melekat pada martabatnya.
Siapakah sebenarnya manusia itu? Dan kapankah manusia menampakkan keluhurannya sebagai manusia?
As you learn The Secret, you will come to know how you can have, be, or do anything you want. You will come to know who you really are. You will come to know the true magnificence that awaits you in life.” – Rhonda Byrne.
Posting ini bukan promosi lho! Wong saya gak dapet duwit dari situs itu, hehe…
“The Secret” – Book
15 November, 2007 at 8:37 am (Commentary, Reflection, Spiritualitas, the secret) (Book, Energi hidup, positif thinking, sugesti positif, the secret law of attraction)
Anda sudah baca bukunya Rhonda Byrne “The Secret“? Atau malah juga sudah menyimak edisinya dalam format DVD? Salah satu review mengenai buku itu bisa Anda baca dari tulisan Tim Challis.
Sejujurnya saya sendiri belum membacanya secara utuh buku itu!
Baru baca synopsisnya di situs resmi buku itu, tapi sudah pengen komentar! Aneh ya?
Ketika masuk ke kamar salah satu teman di tempat kostnya saya sempat melihat dan mengolak-alik buku berwarna cokla kemerahan dengan hiasan segel merah pada kovernya itu. Teman saya langsung bilang, “Itu buku dari yayangku. Kalau aku belum selesai membacanya, aku belum boleh menelepon dia! Hehehe….”
Jadi penasaran, apa sih gerangan keistimewaan buku edisi bahasa Indonesia yang diterbitkan Gramedia itu? It’s a book of reflection upon the law of attraction theory, or just another book of the new-age exploration’s euphoria? Saya belum berani menilai lebih jauh wong belum rampung membaca!
Tetapi pada intinya saya menyambut positif buku itu karena dia masuk ke wilayah ceruk self-improvement atau self-help book. Kategori ini mengulas lebih dalam mengenai “how to be more human“.
Menariknya kategori ini bagi saya terletak pada kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak habis-habisnya menyediakan ide untuk dieksplorasi: afirmasi dari “kitab-suci” keagamaan tentang martabat manusia rupa-rupanya tidaklah mudah untuk ditelan dan di-”iman”-i begitu saja! Revelasi tentang “rahasia kehidupan” yang diungkap oleh para “leluhur” sejarah umat manusia di jaman dulu mungkin terasa terlalu “naif” atau simple untuk dimengerti. Bahasa orang di era (post-) modern rupa-rupanya memerlukan cara pembahasan yang sesuai dengan konteks jamannya, dan kadang-kadang terkesan kurang puas dengan pernyataan yang terlalu simple! Itulah manusia, makhluk yang belum selesai berevolusi!
Energi (positif dan negatif) menjadi kata kunci dalam buku ini. Manusia menjadi agen (agere – actus, Lat. = melakukan) perubahan yang mampu menyerap dan memancarkannya baik untuk dirinya sendiri maupun untuk semesta di sekitarnya. Sebagai agen yang mempunyai kehendak bebas manusia mampu mengelola energi-energi yang menyelimutinya, sekaligus diapun menerima efek balik dari energi-energi itu karena dia tidak mungkin terlepas dari konstelasi semesta ini. Buku ini, seperti buku-buku serupa, mendidik kesadaran mengenai hal ini: Mulailah berpikir positif, sugesti diri positif, bangunlah mindset positif dan bersyukur atas hidup ini apapun keadaannya.
“Kesuksesan” adalah goal dari pengelolaan energi-energi itu. Entahlah, bagaimana satu kata ini harus dimengerti secara “benar”. Bagaimana harus dikatakan untuk menggambarkan status “sukses sebagai manusia“? Sepertinya ada konsep tertentu di balik kata kesuksesan ini. Terbayang dalam pikiran saya bahwa ada tegangan antara takdir (fate) dengan pilihan bebas, sadar dan bertanggung jawab; sementara itu manusia juga telah mengenali adanya rahmat dan anugerah yang dia terima dari sononya atas keunggulan-keunggulan yang melekat pada martabatnya.
Siapakah sebenarnya manusia itu? Dan kapankah manusia menampakkan keluhurannya sebagai manusia?
Posting ini bukan promosi lho! Wong saya gak dapet duwit dari situs itu, hehe…
Permalink & Komentar