Gelombang Cinta, Jenmanii vs Padi
Malam Minggu, 16 September 2007 lalu saya tidur di Jogja, di rumah. Seperti biasa saya mendengarkan siaran wayang kulit. Saat itu ada siaran langsung dari sebuah stasiun radio swasta niaga lokal dengan dalang Ki Seno, putra mendiang Ki Suparman. Kurang saya perhatikan apakah saat itu bagian Limbukan atau Goro-goro ketika Ki Dalang menyinggung suasana masyarakat Jogja yang sedang demam tanaman hias: Anthurium!
Kira-kira begini: “Di mana-mana orang membicarakan Gelombang Cinta (Anthurium Wave of Love). Tapi moga-moga kita tidak terlena pada gelombang cinta (asmara) ini, karena ada yang lebih “baik” yakni Jenmanii. Maksudnya supaya “jejeg iman” kita (lurus iman kita)!”
Sambil terkantuk-kantuk di tempat tidur saya tersenyum demi mendengar pemaknaan budaya oleh Ki Dalang tersebut. “Thak-thik-thuk, othak-athik-gathuk” (upaya menghubung-hubungkan dan ternyata bisa nyambung) dari Ki Dalang itu boleh juga.
Memang beberapa orang sempat terobsesi pada tanaman hias yang namanya anthurium:
Salah seorang teman saya pagi-pagi teriak di kantor, “Berita duka… berita duka! Jenmanii saya semalam dimakan tikus! Diampuuuuut…!!!“
Anthurium jenmanii teman saya yang lain baru saja laku 10 juta rupiah!
Dalam perjalanan kereta dari Jakarta ke Jogja, beberapa orang berdiskusi tentang anthurium!
Di rumah saya mendengar cerita dari ibu kalau beberapa waktu lalu anthurium wave of love tetangga sebelah sempat ditawar 300 ribu rupiah tetapi tidak dikasihkan. Eh, malam harinya pot tanaman itu jatuh dari dinding teras tersenggol kucing! Nyeselnyaaaaaa… setengah mati sampai suami-istri uring-uringan.
Ketika saya mau kembali ke Jakarta, karena tahu saya membawa satu pot kecil anthurium, seorang tukang parkir stasiun teriak keras-keras, “Gelombang Cintaaaa…!! Gelombang Cintaaaa…!!” terus tanya ke saya, “Berapa belinya, Mas?”
Hari Minggu, TA tv (Karanganyar Solo) memberitakan seorang pencuri jenmanii tertangkap dan dihajar massa sampai babak belur!
Karena khawatir satu pot kecil anthurium peliharaan ibu saya dicuri orang, ada rutinitas kecil yang dijalankannya: sore menjelang malam mengamankan pot itu ke dalam dapur, dan di pagi hari mengeluarkannya kembali ke teras!
Bapak saya sendiri sempat merasa absurd. Pasalnya dia baru saja menjual padi hasil panen dari beberapa petak sawah seharga 3,5 juta rupiah. Sementara Gelombang Cinta yang dirawat adik saya selama 3 tahun laku 3,25 juta rupiah.
Saya komentar, “Hihihi…hasil jerih payah 3 bulan di bawah terik matahari disaingi oleh tanaman dalam pot yang hanya butuh air pagi dan sore selama 3 tahun!”
“Nggak, sebetulnya apa toh khasiat anthurium itu? Cuma daun saja kok bisa mahal amat?!”
Agak susah juga untuk menjawab pertanyaan bapak saya itu – dan pasti juga diajukan oleh hampir setiap orang yang dikejutkan oleh melambungnya harga tanaman “tak berkhasiat” itu. Habis, para petani padi yang samasekali tidak begitu peduli pada tanaman hias merasa “dibodohi”. Mereka bergelut dengan urusan kebutuhan dasar untuk perut, tiba-tiba dihentakkan oleh dunia citarasa keindahan yang ternyata mempunyai nilai jual rupiah lebih tinggi!
“Ah, itu kan cuma akal-akalannya bakul tanaman hias. Paling cuma bertahan sebentar saja!” begitu mereka menghibur diri. Mungkin karena mereka terlambat mencium pasar dan turut bermain di “dunia lain” itu, sehingga berkomentar demikian. Ada nada “iri” kesannya.
Beruntung mereka yang sekarang punya anthurium, sementara yang tidak punya cuma bisa mendengarkan cerita-cerita tentang orang-orang yang beruntung itu sambil gigit jari. “Dasar memang bukan rejekinya!” Tahu nggak? Berita tentang lakunya anthurium adik saya itu tersebar di seluruh kelurahan. Bahkan ibu saya sempat diberi selamat oleh orang-orang di pasar!
Lagi-lagi saya tersenyum! Selain karena keluarga saya termasuk sedang beruntung karena kecipratan rupiah si anthurium, namun lebih-lebih karena anekdot dari gejala masyarakat itu – anekdot yang tampil ketika jumlah jerih payah, pamor kebutuhan dasar, khasiat sebuah benda, citarasa keindahan, selera pasar dan keberuntungan diterjemahkan ke dalam lembaran rupiah! Hasilnya?
Ah, gak tahulah saya… kegilaan kaleee!!!
:)









ardietna berkata,
2 Oktober, 2007 pada 10:11 am
Lucu ya???salam. boleh di share khan mas?
kandar4thegoodnews berkata,
2 Oktober, 2007 pada 10:25 am
Hehehe… Boleeeeh…boleeeeh…
Tengkyu sudah mampir di sini.
God bless!
boby berkata,
27 November, 2007 pada 5:30 pm
siapa yang gamau duit bosss
saya nyoba bisnis juga di demam anthrium ini
eh sebenarnya kalau di itung2 saya dapat 150jt lebih sbg broker,,,,,,,,,,,,,,,namun semuanya mimpi.jujur saya jijik ngeliat ni tanman tapi ama duit nya engga hehe,,,,,,,,,,,,,,jawabannya saya sendiri bingung @#$$%%^%^&(*(_)_)+
Agus berkata,
30 November, 2007 pada 6:25 am
salam kenal….. boleh juga kalo ada yang pengen lihat di http://jerapah-nursery.blogspot.com
mampir ya ke blog ku
tq
yobel berkata,
22 Januari, 2008 pada 6:39 am
hala mas, apa kabar nih? moga baik yah…
mas gimana kalo kita tukaran link? dengan bertukar link blog kita bisa saling berhubungan dan tentunya nantinya akan menambah pengunjung. betul kan???
ini mas nama blog aku
http://meywal.byethost13.com
tolong nama link nya bi kasih mana “yobel” yah. yhx.
blog kamu udah gw link loh di blog gue. liata aja nama link mas aku tulis “kadar.Ag”. GBU
arilaalwo berkata,
7 Mei, 2008 pada 8:02 am
wahhhhhh, seru…
sy kolektor antorium, tp udah pada sy jualin . cz takut ilangggg
berto berkata,
8 Juli, 2008 pada 8:48 am
kita tidak usah ikut2an latah, di negara ini semua sudah gila termasuk beberapa pemimpin kita, makanya yang realistis sajalah supaya tidak jadi gila