Sepatah Ranting Kering (1) – Puisi Peziarah
Pukul setengah sebelas
hari Selasa
tanggal sembilan belas
bulan dua
sepatah ranting kering
tergeletak di pinggir jalan peziarahanku
Betapa merananya kau
menghitung waktu
di bawah terik mentari
di selimut sapuan embun dan guyuran hujan
dan terbayang dirimu sempurna
dalam kelapukan dan jadi tanah
menghitung waktu
menunggu terinjak kaki
tergilas roda kendaraan
atau dipungut untuk perapian
dan terbayang dirimu sempurna jadi abu
Jangan teruskan meranamu!
Maukah kau menemani peziarahanku?
Aku pun sedang menghitung waktu
dalam kerinduan
dalam belaian Sang Cinta
yang kini sedang membelahku
dan berjanji untuk memadukanku
Hentikan lamunanmu!
Maukah kau menemani peziarahanku?
Aku pun sedang menghitung waktu
dalam pertolongan
dalam untaian tasbih jari-jari
Maukah kau hadir di sela-selanya
merekam cinta dan harapanku?
Peziarahanku akan menjadi khusuk bersamamu
Laku doaku akan menjadi bergema karenamu
Pembelaanku akan menjadi berdaya oleh kerapuhanmu
Cintaku akan menjadi kaya oleh kesederhanaanmu
Hidupku akan menjadi penuh harapan oleh kehadiranmu
Kehadiranmu pertolongan semesta bagiku
Kehadiranmu percikan rahmat bagi cintaku
Kehadiranmu catatan kisah kasih keinsananku
Kehadiranmu temani kesendirianku
Kehadiranmu ruang doa di hatiku
Sementara kau menari
di sela-sela jari-jemariku
menghitung doa tasbihku
aku melangkah berirama
mengelilingi lingkaran peziarahanku
Tak sabar hatiku
ingin segera memandangmu
di puncak peziarahanku
beristirahat di sudut hatiku
daripada lapuk dan jadi abu
Kandar Ag. – Mlati, 24 Juli 2002









Ita cemplux berkata,
19 September, 2007 pada 3:03 am
Ciiiiieeeeeeeeeeeeeeeeeeeee……………………
Apakah Sepatah Ranting Kering itu kiasan untuk seseorang??
xexexe……(“,)
kandar4thegoodnews berkata,
19 September, 2007 pada 3:48 am
Tenanan kuwi…