Sepatah Ranting Kering (1) – Puisi Peziarah
Pukul setengah sebelas
hari Selasa
tanggal sembilan belas
bulan dua
sepatah ranting kering
tergeletak di pinggir jalan peziarahanku
Betapa merananya kau
menghitung waktu
di bawah terik mentari
di selimut sapuan embun dan guyuran hujan
dan terbayang dirimu sempurna
dalam kelapukan dan jadi tanah
menghitung waktu
menunggu terinjak kaki
tergilas roda kendaraan
atau dipungut untuk perapian
dan terbayang dirimu sempurna jadi abu Baca entri selengkapnya »
Iiiih…Kentut! Alhamdulillah…!
Setiap kali ngerumpi atau sharing soal pengalaman buruk, saya selalu teringat akan kentut! Silakan senyum atau ketawa dulu
supaya ingatan akan macam-macam kentut yang pernah Anda kenal ter-replay kembali! Hahahaha…gimana?! Sudah?
Ada kentut yang disertai bunyi, ada kentut yang cuma mendesis nyaris tak terdengar. Yang terakhir ini paling menjengkelkan, sebab biasanya baunya gak ketulungan! Orang membauinya, terus entah dengan senyum kecut atau umpatan marah, secara refleks dia akan mencari-cari sumbernya. “Asyeeeem…! Siapa kentut, ha?!” Sementara itu, si penebar aroma cuma menahan senyum sambil pura-pura tidak terjadi apa-apa! Busyeeeet…! Dia sendiri merasakan kelegaan tiada tara, sementara yang lain bisa kelimpungan dibuatnya! Sungguh tidak adil! Sialan! Baca entri selengkapnya »








